16

1032 Kata
"Ada yang bisa dibantu?" tanya penjaga, menyambut Rachel yang baru tiba di laboratorium. Rachel menunjukkan lencana kepolisian. "Antarkan aku ke ruang laboratorium." "Mari ikut saya." Penjaga mengantarnya sampai tiba di ruangan yang dimaksud. Rachel berjalan menyusuri ruangan itu sambil menyelisik. Tidak ada yang aneh; semuanya wajar. Barang-barang tertata rapi di tempatnya dan tidak ada yang berserakan. Seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. "Kapan Anda terakhir kali melihat Asisten Profesor Willson?" Ia bertanya pada penjaga. "Maksud Anda Miss. Kate?" "Benar, dia." "Sekitar pukul dua siang kemarin. Setelah itu aku belum melihatnya keluar dari ruangan." "Tidak ada orang lain yang Anda lihat?" Penjaga menggeleng. "Miss. Kate selalu datang sendiri. Begitu juga kemarin." "Anda tahu tempat tinggalnya?" Penjaga mengangguk dan memberikan alamat Kate. Setelah mendapatkan alamatnya, Rachel bergegas ke pintu keluar. Langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu di lantai. Ia memungutnya dengan sapu tangan. Itu adalah rambut berwarna cokelat, kasar, dan panjang. Seperti rambut hewan buas. Dimasukkannya rambut itu ke dalam kantung plastik, kemudian menghubungi seseorang. "James, kamu di laboratorium kepolisian? ..., Fred? Oke tunggu aku." Setelah itu ia keluar dari ruangan. * Marrow Street Nomor 666. Rumah besar yang tidak layak disebut rumah. Catnya terkelupas di sana-sini; dindingnya retak-retak; tiang-tiangnya berdiri miring; atapnya menganga. Melihat kondisinya, sudah barang tentu rumah itu tidak berpenghuni. Namun, ada satu ruangan yang masih terpakai. Ruangan yang berada di bawah gudang di belakang rumah utama. Tidak ada yang tahu ruangan itu, kecuali hanya beberapa orang. Atau bisa juga disebut beberapa ekor. Salah satunya sedang berada di sana. Di depan seorang perempuan yang tangannya terikat rantai di dinding. Perempuan itu menutup mata rapat-rapat saat Ben memandangnya penuh gairah. Tubuhnya gemetar antara takut dan jijik. Apalagi saat lidah Ben mulai menyapu pipinya yang lembut. Melihatnya demikian, tawa Ben pun pecah. "Sekarang kamu ketakutan, tapi sebentar lagi," cakarnya berkelebat dan merobek pakaian perempuan malang itu, "kamu akan kecanduan." Ben menyelisik perempuan yang tampil setengah telanjang tersebut. Meskipun masih tertutup bra, dadanya yang indah memompa gairah Ben. Tangan Ben mulai merayap di lehernya dan terus bergerak menuju d**a. "Tolong jangan lakukan ...," pinta perempuan itu, setengah merintih. Suaranya bergetar saat air matanya mulai mengalir deras. Percuma. Laki-laki kejam seperti Ben tak pernah peduli. Ia justru makin berbuat keterlaluan. Dengan kukunya, ia menarik tali bra sampai terputus. Melihat keindahan di hadapannya, air liur Ben menetes. "Aku belum pernah melihat yang lebih in—" Tiba-tiba pintu ruangan membentur dinding dengan keras. Seorang laki-laki masuk sambil menggendong seorang perempuan. "Perempuan ini menyulitkanku. Ia terus memberontak di sepanjang jalan," tukas Bill, merebahkan perempuan tersebut di atas meja. Ben menghampiri keduanya. "Siapa dia?" "Kate. Asisten Profesor Willson." Mata Ben menyisir Kate yang tangan dan kakinya terikat. Kecantikan dan kemolekannya membuat Ben takjub. Apalagi saat itu pakaian Kate tersingkap, sehingga dadanya yang besar dan padat sedikit terlihat. Ben berdecak kagum, dan sudah tidak sabar ingin mencumbunya. Namun, ketika tangannya mau merobek pakaian Kate, Bill menepisnya. "Bodoh! Tahan dirimu!" Ben melotot, marah. "Apa katamu?!" "Ben! Pangeran Yeurald mengutus beberapa anak buahnya untuk menangkap para Asisten Profesor Willson! Bagi yang paling banyak, akan diberi jabatan penting! Kalau tidak cepat-cepat akan ada orang lain yang mendahului kita!" Ben melirik Kate dan perempuan yang terikat di dinding. "Kita sudah ada dua, berapa lagi yang tersisa?" "Empat." Ben mencerna pikiran sesaat. "Baiklah. Sebaiknya kita segera berangkat." Bill tersenyum lebar, sambil merangkul kakaknya berjalan ke luar. "Dua gadis itu memang cantik, tapi tidak seberapa dibandingkan puluhan gadis yang bisa kita dapatkan kalau sudah memiliki jabatan penting, 'kan?!" "Termasuk Maya?" Bill tergelak. "Bahkan nanti kita bisa tuntaskan rasa penasaran kita padanya selama ini!" Setelah mereka tidak lagi berada di ruangan, Kate mengedarkan pandangan. Dilihatnya sisi kaki meja yang tajam berada di seberangnya. Ia berguling dan menjatuhkan diri, kemudian menyeret tubuhnya menuju meja tersebut. Baru saja sampai, sayup-sayup ia mendengar suara dari luar ruangan. "Bodoh! Bagaimana mungkin kita lupa merantai gadis itu?!" "Untung saja kita belum jauh, jadi bisa kembali. Tapi kurasa dia tidak bisa berbuat apa-apa selama kaki dan tangannya terikat." "Tetap saja aku akan merasa tenang kalau mengikatnya dengan rantai." Suara Ben dan Bill makin jelas terdengar. Kate buru-buru menggesekan tali pada kaki meja. Waktunya sempit. Sedikit saja terlambat, sudah pasti ia akan menjadi korban kekejaman Ben dan Bill. "Bill, tapi aku masih ingin mencicipi Asisten Profesor Willson itu," tukas Ben yang baru masuk ke dalam ruangan bersama Bill. Bill terkekeh. "Bersabarlah, Saudaraku." Ben menghela napas. "Ya, ya .... Sebaiknya kita segera rantai dia lalu selesaikan tugas da—" Kalimatnya terhenti ketika tak melihat dua Asisten Profesor Willson di dalam ruangan. Sontak wajahnya berubah merah padam. "Mereka melarikan diri," geram Ben. "Ingin mendapatkan lebih banyak, malah kehilangan dua orang." "Tapi, mungkin mereka masih belum jauh." Ben mengedarkan pandangan ke sekeliling, sampai akhirnya terpaku pada jendela yang terbuka. "Ke sana!" Keduanya melompati jendela. Perlahan-lahan wujud mereka berubah mengerikan. Rupanya dua perempuan tersebut belum jauh. Ben dan Bill berlari cepat mengejar mereka. Sementara itu tak jauh dari sana, sebuah mobil melaju tenang. Di dalamnya tampak dua orang sedang berbincang-bincang. Mereka adalah dua Detektif Kepolisian Brooklyn. "Kasus ini benar-benar aneh, Kay," ucap Fred yang duduk di sebelah kursi kemudi. "Memang sulit dipercaya. Tapi tadi kita dengar sendiri hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan kalau itu ada rambut hewan buas." Rachel menimpali. "Well, itulah yang membuat kasus itu menjadi makin membingungkan. Hewan buas apa yang bisa memanjat sampai lantai enam dan mencuri for—" Tiba-tiba Rachel menginjak rem mendadak. "Lihat ada dua orang perempuan di sana!" Fred mengalihkan pandangan ke depan. Dilihatnya Kate dan seorang perempuan lain berlari. Wajah mereka tampak ketakutan. Pakaian mereka tak keruan, bahkan tubuh salah seorang di antaranya hanya sedikit tertutupi pakaian. Fred dan Kate buru-buru keluar dari dalam mobil. Namun, mereka makin terkejut ketika melihat dua ekor serigala besar sedang mengejar dua perempuan itu. Belum habis rasa terkejut mereka, dua serigala melompat dan menikam buruannya. Melihat itu Rachel dan Fred belari seraya mengeluarkan pistol. Sayang, kedua serigala itu bukan hewan biasa. Peluru-peluru mereka sama sekali tak berarti. "Sial!" "Makhluk apa mereka?" ucap Rachel sambil menembak. Alih-alih terluka, tembakan itu justru membuat Ben dan Bill murka. Targetnya beralih pada Rachel dan Fred. Mereka berlari cepat ke arah kedua polisi tersebut. "Cepat masuk ke dalam mo—" Belum sempat kalimatnya tuntas, Bill melompat dan menyeretnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN