15

1002 Kata
Sementara itu di tempat lain. Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan tahun menyambut kedatangan Billie dengan senyum terkembang. Meski wajahnya sudah berkerut, kecantikan masih tampak. Wajahnya agak persegi, membingkai sepasang alis tebal, sepasang mata zamrud, mancung, bibir yang menggunakan perona merah terang. Rambutnya sudah memutih dan dibiarkan tergerai sampai sebahu. Ia mengenakan blazer hitam dengan dalaman putih berkotak hitam. Pada hidungnya yang mancung, bertengger kacamata berlensa oval dengan gagang bersepuh emas. Ia adalah adik Samantha. Billie menyalami sambil tersenyum. "Miss Emily, maaf mengganggu waktu Anda." Perempuan bernama Emma Lawson yang merupakan seorang pengacara kondang tersebut, mempersilakan Billie duduk di kursi berlengan mewah dengan gaya Eropa Klasik. "Silakan." Ia kembali tersenyum. "Saya sudah mengetahui yang menimpa kakak Anda," ucapnya tanpa basa-basi. Billie sama sekali tidak terkejut. Rasanya seluruh Amerika Serikat sudah mengetahui kabar kakaknya. Apalagi hampir seluruh media beramai-ramai meliput kasus tersebut. Billie mengangguk. "Itulah alasan saya menemui Anda." "Bisa Anda ceritakan kejadiannya dari awal?" pinta Emma Lawson. Billie pun menjelaskan seluruh kejadian sebelum Samantha ditemukan meninggal. Ia pun menduga kalau kematian kakaknya tersebut karena dibunuh, dan memiliki beberapa bukti kuat keterlibatan pihak tertentu. Selama Billie menjelaskan, Emma Lawson menyimak dengan saksama. Sesekali ia mengangguk repititif sambil mencerna pikirannya. Sebagai pengacara besar, kasus semacam ini tentu saja sangat dimakluminya, tetapi Emma Lawson adalah orang yang penuh perhitungan. Ia selalu berhitung kemungkinannya memenangkan kasus sebelum menerima. Tidak heran jika ia tidak serta-merta menerima tawaran Billie. Usai mendengarkan seluruh penjelasan Billie, Emma Lawson berkata, "Boleh saya lihat bukti-bukti yang saya perlukan jika saya memutuskan untuk menerima untuk menangani kasus itu?" "Sebentar." Billie mengeluarkan tumpukan kertas dari dalam tas kemudian menyerahkannya. "Silakan dipelajari. Emma Lawson menyelisik satu per satu dokumen Billie. Guratan di keningnya kian kentara, menunjukkan ekspresi serius. Selang beberapa menit kemudian ia kembali berujar, "Tadi Anda mengatakan kalau kakak Anda memerintahkan anak buahnya untuk melakukan negosiasi, benar begitu?" Billie mengangguk. "Nick Owen Graham, pihak event organizer sekaligus sahabat terdekat kakak saya. Seperti yang tadi saya terangkan, dialah yang bertanggung jawab soal negosiasi dengan manajer Samantha. Sebelumnya mereka sudah bekerjasama, tetapi yang terakhir kali ia terlibat ketegangan dengan kakak saya." Emma Lawson termenung beberapa menit seraya mencerna pikirannya. Tak lama kemudian ia kembali bersuara, "Anda terlalu gegabah Mr. Billie." Ia menghela napas panjang. "Seorang sahabat belum tentu selalu di pihak kita. Tidak seharusnya Anda mempercayakan semua urusan negosiasi pada satu orang saja. Bahkan kalau bisa, lebih baik kakak Anda turun tangan sendiri. Saya tidak menuduh siapa pun, tetapi ada kemungkinan kasus ini terkait masalah negosiasi itu." Billie memandang ruang hampa dengan tatapan kosong. "Jika memang seperti yang Anda duga, saya sangat kecewa. Managernya sudah sepeeti keluarga." Lantas menghela napas panjang. "Tapi seperti kata Anda, belum tentu dia pelakunya. Sekarang yang paling penting adalah menghadapi kasus ini. Jadi apakah Anda bersedia?" Emma Lawson menguntai senyum. "Mr. Morgan, perlu Anda ketahui kalau saya selalu mempertimbangkan kemungkinan memenangkan kasus sebelum menerima atau menolaknya. Setiap kasus yang saya tangani mempertaruhkan karier dan nama baik saya. Jadi saya perlu waktu untuk mempelajari bukti ini sebelum memberi jawaban. Bagaimana?" "Tapi tidak bisa keputusannya segera?" Billie tampak cemas. "Besok malam akan saya kabari. Tapi kalau Anda tidak bersedia menunggu, silakan mencari pengacara lain," tegas Emma Lawson. Begitulah Emma Lawson. Ia selalu tegas dan tanpa basa-basi. Baginya perhitungan matang adalah kunci memenangkan kasus. Itulah rahasia kesuksesannya selama ini. Billie pun dapat memahami sikap yang diambil Emma Lawson. "Anda sering kali memenangkan kasus yang sulit. Rasanya tidak ada pengacara lain yang memiliki track record seperti yang Anda miliki. Jadi saya akan menunggu kabar dari Anda besok malam." Emma Lawson mengangguk. "Baiklah. Semoga saya berjodoh menangani kasus Anda." "Terima kasih. Kalau begitu saya mohon pamit, Miss Emma Lawson." Emma Lawson beranjak seraya menyalami Billie. "Senang dapat mengenal Anda, Mr. Morgan." "Demikian pula saya." Billie menyambut jabat tangannya kemudian keluar dari dalam rumah Emma Lawson. Kasus Samantha merupakan kasus rumit yang menjadi sorotan seluruh Amerika Serikat, sehingga langkah untuk menghadapinya memang memerlukan periapan dan rancangan yang matang. Kalau pada akhirnya Emma Lawson menolak, tentu menjadi pekerjaan rumah bagi Billie untuk mencari pengacara lain yang sama-sama berkaliber. Keluarga Samantha memang memiliki pengacara pribadi. Meski sama-sama berkaliber, pengacara mereka belum pernah menghadapi kasus serumit ini. Sehingga Emma Lawson merupakan pilihan terbaik. Karena sebab itu, Billie lebih memilih bersabar demi mendapatkan kesempatan lebih besar memenangkan kasus. * Sementara itu di tempat lain .... Kawasan The Merylinn Avenue, Brostock, New York. Dari dalam mobil matanya menyelisik sebuah rumah berarsitektur Mediterania berdiri megah di antara rumah-rumah mewah di sekitarnya. Rumah tersebut memiliki luas dua kali lebih besar daripada rumah lain di kawasan tersebut. Rumah itu memiliki ornamen-ornamen, dan ukiran bergaya Mediterania di setiap sudutnya. Tampilan depan rumah yang etnik, dan anggun menjadi ciri khas rumah itu dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya. Pagar tinggi di bagian depan rumah, berdiri kukuh, dan elegan. Pilar-pilar yang identik dengan gaya klasik, memberikan kesan mewah, dan megah. Halaman rumah yang sangat luas ditumbuhi rumput dipotong pendek, saking rapinya sampai-sampai seperti rumput sintetis. Ada juga beberapa pohon palem dan kamboja merah yang tinggi menjulang di pinggir halaman. Sedangkan pada tengah halaman ditanami berbagai macam tanaman hias: sansivera, tulip, mawar, dan lain sebagainya. Sementara itu bangunan rumahnya sangat besar dan luas. Dinding bercat putih gading membentang bagai tak berujung. Jendela-jendela berukiran klasik terdapat pada dinding bagian depan rumah. Ditambah pintu klasik yang megah, makin mengesankan kemewahan rumah tersebut seperti istana. Di rumah itulah Jack Antonio Becket tinggal. Saat ini di kediamannya telah berkumpul Josh dan Tony. Kedatangan mereka tentu saja disebabkan kasus Samantha . Pastinya kasus tersebut merupakan sesuatu yang sangat besar bagi agenda mereka. Agenda tersebut merupakan titik tolak awal pergerakan. Tak pelak lagi, kematian Samantha sangat penting untuk rencana lainnya. Tony datang tidak sendiri. Ia membawa enam orang wanita yang malam itu akan meramaikan pesta mereka. Sungguh miris melihat orang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Namun begitulah nyatanya ketika hasrat dan arogansi bertakhta di dalam lubuk keserakahan. Entah apa yang mereka rencanakan. Yang jelas menghilangkan nyawa orang lain demi keuntungan apa pun merupakan sesuatu yang jelas salah. Apalagi jika kasus itu terkait ambisi buta. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN