Rachel berjalan cepat dari Ellenwood menuju Departemen Kepolisian Metropolitan, Washington D. C.
"Al, cepat angkat ..." Rachel berulangkali mencoba menghubungi Al, namun selalu masuk ke dalam kotak suara.
Akhirnya ia menyerah, seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas. Belasan pesannya semalam hanya dijawab sekali, dan singkat, 'Aku sibuk.'
Sesibuk apa kamu dengan jalang itu, sampai tak mengurusi kasus yang kita tangani?
Beberapa menit kemudian, Rachel telah tiba di tujuan. Tatkala melewati Ruang Komisaris, ia mendengar keributan dari dalam.
"Tidak seharusnya penyelidikan dihentikan!"
"Hasil forensik menyatakan bahwa ini kasus bunuh diri!"
"Omong kosong!"
"Al! Kita memang berteman, tapi aku juga atasanmu! Kalau kamu seperti ini, terpaksa aku akan men—"
"Menskor? Lakukan! Tapi aku akan tetap bertindak!"
Terdengar suara keras pintu yang dibanting. Al muncul dari dalam ruangan, dan berlalu melewati Rachel.
"Hei, Al! Ke mana?"
"Melakukan apa yang sudah seharusnya," jawab Al, tanpa menoleh.
Rachel berlari kecil, mengikuti Al hingga sampai di depan mobil Fiat tua hitam.
Sesaat sebelum membuka pintu mobil, Al menoleh pada Rachel. "Kamu baru dimutasi ke sini. Sebaiknya jangan ikuti aku."
Rachel menghela napas, kemudian ikut masuk ke dalam mobil.
"Aku sudah mengingatkanmu, Rachel."
Meskipun diselimuti keraguan, tapi Rachel cenderung mengikuti nuraninya, dan mengambil risiko sanksi yang mungkin akan dijatuhkan.
Selama beberapa waktu di perjalanan, keduanya tidak berbicara, hingga akhirnya Rachel membuka suara, "dr. Eubert Hudson."
Al mengerling sesaat, kemudian kembali mengalihkan pandangan ke jalan.
"Semalam aku menonton dr. Eubert Hudson dalam siaran berita."
"Lalu?"
"dr. Eubert mengatakan Samantha merupakan pasiennya, dan ia mengalami Demensia akibat kehidupan pribadi yang memburuk. Hal ini menyebabkan penurunan berat badannya yang drastis."
Al terlihat mencerna pikirannya sebentar, lantas tersenyum. "Penyataan yang menarik."
"Kalau begitu sebaiknya kita pergi ke tempat dr. Eubert," ujar Rachel.
"Tidak perlu."
"Kenapa? Bukankah kita bisa menggali informasi lebih dalam dengan menemuinya?"
"Well, tapi kita tidak dapat bertemu dengannya di tempat yang kamu maksud." Al memutar setir, lantas menginjak pedal lebih dalam.
***
Ratusan orang berpakaian hitam memadati sebuah komplek pemakaman. Mereka larut dalam kesedihan, bahkan tak sedikit yang berderai air mata. Jasad yang baru saja dikuburkan adalah penyebabnya.
Namun ada dua orang yang terlihat berbeda dibandingkan yang lain ....
"Kalau tahu akan berada di pemakaman Samantha Hill, tidak mungkin aku berpakaian konyol seperti sekarang." Rachel menggumam, menunjukkan perasaan kesal bercampur malu, yang tersirat dari semburat merah di wajahnya.
"Warna kuning terang cocok untukmu," ucap Al, tersenyum geli melihat warna pakaian Rachel.
"Tidak untuk suasana berkabung."
"Well, kita punya alasan lain untuk berada di sini, kan?!" tukas Al, sembari menyapu pandangan pada orang-orang di sekelilingnya.
Rachel menghela napas. "Ya. Tapi tidak gampang mencari dr. Eubert di tengah keramaian ini."
Al tak menghiraukan kata-kata Rachel. Ia berjalan, sambil menelisik orang-orang yang dilalui.
"Bukan ini ... ini tidak juga ... dia dokter, tapi bukan orang yang kita cari ..." Dengan kemampuan deduksi yang tajam, Al mengamati orang-orang yang dilalui.
"Kalau kamu mau tahu dr. Eubert, aku bisa memberitahumu. Aku sudah melihatnya di televisi."
Baru saja Rachel usai berbicara, Al sudah berhenti di samping pria berambut pirang.
"Bisakah kita berbincang beberapa menit, dr. Eubert?"
Pria itu tersentak, lalu menoleh pada Al, dan Rachel. Sesaat ia memandang mereka dengan tatapan menyelidik.
"Anda?"
"Saya Al Bu—"
Tiba-tiba dr. Eubert membeku sedetik. Pandangannya melintasi Rachel. "Maaf, aku harus pergi." dr. Eubert menginterupsi dengan terbata-bata. Ia pun menyurutkan langkah, lantas berjalan cepat di antara kerumunan orang.
"Tunggu!" Al, dan Rachel berusaha mengejar, tetapi terhalang orang-orang yang berkerumun.
Al melepaskan tembakan ke atas. Orang-orang menjerit, dan berlari ketakutan. "Polisi! Cepat beri jalan!" seru Al sambil mengangkat pistol, dan lencananya ke udara.
"Kamu sudah gila!" Rachel mengumpat.
Keduanya berlari mengejar, namun dr. Eubert sudah masuk ke dalam mobil, kemudian meninggalkan tempat itu.
Mereka tidak menyerah, dan kembali mengejar dengan mobil tua Al.
"Kamu benar-benar sudah gila! Kita tidak memiliki surat tugas! Apa yang tadi kamu lakukan benar-benar akan membuat kita kehilangan pekerjaan!"
Al tak mengacuhkan rekannya, seraya menginjak pedal gas lebih dalam.
"Kamu benar-benar gegabah," gerutu Rachel.
"Ia dalam bahaya," ujar Al, tiba-tiba.
Kata-kata Al mengejutkan Rachel. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Sesaat sebelum meninggalkan kita, ia melayangkan pandangan ke belakangmu. Sudah jelas kalau ia ketakutan melihatnya," terang Al.
"Lantas kenapa kita tidak menangkap orang yang membuatnya ketakutan, dan menginterogasinya?"
"Memangnya kita bisa tahu siapa orang yang dimaksud, di tengah banyaknya orang?!"
"Dengan kemampuan deduksimu, seharusnya—"
"Aku bukan Tuhan, Rachel."
Rachel diam mendengar kata-kata Al, kemudian menoleh ke kaca belakang. "Alasanmu masuk akal. Tapi tidak ada yang mengejarnya selain kita."
"Entahlah Rachel. Sekarang yang paling penting, kita harus berhasil mengejar, lalu menanyai dr. Eubert."
Mobil mereka menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi. Tak lama kemudian, tampak beberapa mobil Polisi membayangi di belakang.
"Kita benar-benar berada dalam masa—" Ponsel Rachel bergetar, menginterupsi kalimatnya. "Jim ...."
"Tidak usah diangkat."
Rachel hanya bisa menggerutu. Ia terpaksa setuju dengan tindakan Al, karena sudah terlanjur terlibat dalam kejadian itu.
Saat mobil Al berhasil mempersempit jarak, mendadak mobil dr. Eubert oleng, dan menabrak truk di depannya.
"Awas!" Rachel menjerit, melihat dampak yang sebentar lagi terjadi.
Terlambat. Al tak sempat menginjak rem, hingga mobilnya menabrak mobil dr. Eubert.
Kepala mereka menghantam kaca mobil. Darah pun mengalir membasahi wajah mereka. Keduanya mengerang, sambil memegangi kening. Namun di saat seperti ini, mereka tidak boleh dikalahkan rasa sakit. Keduanya tergopoh-gopoh keluar dari mobil, dan menghampiri dr. Eubert.
Apa yang mereka dapati, di luar dugaan. Keadaan dr. Eubert sungguh mengenaskan. Ia ditemukan tak bernyawa. Darah mengalir dari lubang yang menembus dadanya.
"Oh, Tuhan! Apa yang terjadi?"
Al memicing, menjangkau tiap sudut mobil dr. Eubert. "Tidak ada bekas tembakan di mobil ini. Berarti ia ditembak pada saat berada di pemakaman."
"Penembak jitu?"
Al menggeleng. "Bukan. Jika penembak jitu, tentu kepalanya sudah berlubang. Untuk apa menembak d**a jika ia ingin lekas-lekas menghabisinya?! Lagipula akan sulit menembaknya dari jauh, saat sasaran berada di tengah keramaian."
"Maksudmu ia ditembak dari dekat?"
"Iya. Aku yakin ia ditembak dengan peredam suara, ketika menerobos kerumunan orang." Al meraba lubang di d**a korban. "Tembakannya tepat mengenai dua pembuluh jantung. Ia tahu kalau targetnya tak akan bertahan lama."
"Pantas si pembunuh tidak mengejar mobil dr. Eubert."
Al mengangguk, lantas menoleh ke belakang. "Kamu benar. Kita berada dalam masalah."
Beberapa mobil Polisi sudah memblokir jalan. Suara sirine terdengar meraung-raung dengan keras. Para Polisi pun sudah menodongkan pistol ke arah mereka.
"Halo, Komisaris," sapa Al, melihat seseorang yang baru saja keluar dari mobil.
"Melanggar perintah, bertindak tanpa surat tugas, membuat kegaduhan, pelanggaran lalu lintas, dan ..."-Jim memandang jasad dr. Eubert-"mungkin pembunuhan."
Al menghela napas. "Aku tidak akan membunuh, dan setiap tindakanku berdasarkan alasan yang kuat. Kamu tahu itu ...."
Jim membuang pandangan, saat Al, dan Rachel digelandang menuju mobil Polisi.
"Maaf, aku tak ada pilihan." Jim menggumam, melayangkan pandangan pada mobil yang membawa keduanya pergi dari lokasi kejadian.
Keterangan:
*Demensia adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini berdampak pada gaya hidup, pola makan, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari penderitanya.