13

1123 Kata
Sambil menyeka rambut, Rachel berjalan menuju lemari es. "Aku lupa mampir ke swalayan," keluhnya, ketika melihat hanya ada sereal dan s**u di lemari es. Setelah mengambil dan menuangkan ke dalam mangkuk, ia duduk di sofa Ruang Keluarga. Meskipun baru selesai menyegarkan tubuh di dalam bak mandi, dan sedang menikmati hidangan, tetapi ekspresi wajah Rachel masih terlihat letih. Kasus kematian Samantha Hill tak membiarkan pikirannya beristirahat. Ia menyandarkan diri, lantas menyalakan televisi. "Well, Samantha pasti masih hangat diberitakan," gumamnya, mengubah ke saluran berita. "Setelah dilakukan penyelidikan, Komisaris Kepolisian Washington D. C. menyatakan bahwa kematian Samantha Hill merupakan kasus bunuh diri. Menurut dr. Eubert Hudson yang merupakan dokter pribadinya, Samantha mengalami depresi akibat perceraian, serta karier yang menurun. Akibat hal tersebut, berat badannya menyusut, dan sering mengonsumsi obat penenang. Pihak keluarga mengatakan, pemakaman Samantha akan dilakukan besok pada pukul sepuluh pagi ...." Rachel terus menonton siaran tersebut hingga usai. Tidak mungkin. Apakah Al sudah mengetahui hal ini? Ia menekan tombol pada layar ponsel. Sementara itu di tempat lain, sebuah ponsel bergetar di atas meja, menginterupsi kehangatan dua orang yang berada di dalam ruangan. "Tidak diangkat?" tanya perempuan berambut pirang pada Al Bureau. Al tidak langsung menjawab, dan mencecap bibir perempuan itu. "Tidak, aku tak ingin diganggu. Separuh gajiku untuk menggunakan jasamu malam ini, Jane," ucap Al, menarik wajahnya menjauh dari Jane Moss. Jane Moss tersenyum, seraya melepaskan pakaiannya. "Jadi mau pemanasan?" "Mmm ... tentu menyenangkan. Tapi dengan caraku." "Caramu?" "Iya. Pemanasan yang kusukai adalah,"—Al mengancingkan pakaian Jane—"dengan berbincang-bincang." "Ah, aku tahu. Mengobrol hal-hal untuk meningkatkan gairah, kan?! Aku tidak menyangka kamu pelanggan yang sangat nakal." Jane berkata, dengan nada menggoda. Al tergelak. "Apakah pertanyaanku mengenai Phillip Murdock akan membuatmu b*******h?" Jane terhenyak. "Kamu mengenalnya?" "Tidak dekat. Hanya tadi aku baru berkunjung ke tempatnya." Al menjawab. Ekspresi Jane berubah seketika. "Jika ini tentang Samantha, lupakan. Phillip hanya pelangganku, sama seperti yang lain. Dan aku tidak tahu apa-apa tentang Samantha." Al kembali tersenyum. "Ah, padahal aku hanya ingin bertanya tentang Phillip, tapi justru kamu menyebut Samantha." "Tentu saja karena Samantha baru saja ditemukan tewas, dan Phillip adalah Manajer-nya. Jadi aku menduga kamu akan bertanya tentang Samantha. Tapi sudah kukatakan, Phillip hanya pelangganku. Aku tak tahu apa-apa tentangnya, apalagi soal Samantha." "Aku percaya kalau ia pelanggan jasa, dan barangmu." Al menarik tangan Jane, dan mengendusnya. "Jangan tarik tanganku!" bentak Jane, menarik tangannya. "Tanganmu beraroma khas ... Kokain." Jane kian dikejutkan oleh kata-kata Al. "Aku tidak tahu apa maksudmu!" Ia berdiri dan membereskan barang-barangnya. "Tidak tahu? Biar Kepolisian yang mengingatkanmu tentang Kokain yang kamu jual. Phillip selalu membelinya darimu untuk Samantha. Tak satu pun kata-kataku meleset, kan?!" Jane menghentikan langkah, dan menoleh. "Polisi tidak akan percaya pada bualanmu." "Aku tak akan banyak bicara, Jane. Tapi lukisan Jan Vermeer-lah yang akan bercerita." Al tersenyum. "Aku tidak tahu maksudmu." Jane panik, dan buru-buru mengambil ponsel dari dalam tas. "Percuma kalau kamu menghubungi Phillip. Aku sudah memberitahu masalah ini pada Komisaris Jim Murray, atasanku." Jane Moss mendadak pucat, dan gemetar. Sudut alisnya turun, serupa gerak bahunya. Ia tak pernah menduga, jika lelaki di hadapannya adalah seorang Polisi. "A-aku butuh uang untuk membiayai anakku. Tolong jangan tangkap aku. Aku akan berhenti berjualan." Suaranya bergetar, dan terbata-bata. Air matanya hampir tumpah. "Well, sayangnya aku bukan orang yang sentimental. Tapi akan kupertimbangan permintaanmu kalau mau menjawab beberapa pertanyaanku." Tak ada pilihan lain bagi Jane, akhirnya ia memberi informasi yang diketahuinya pada Al. Rupanya selama ini Jane menjual Kokain pada Phillip. Kokain tersebut merupakan pesanan Samantha melalui Phillip. "Informasi darimu sudah cukup, Jane. Thank's," ucap Al, seraya membuka pesan di ponselnya. Pesan dari Rachel ... Jim tidak pernah seperti ini. Al segera membalas pesan tersebut. "Aku pulang," tukas Jane, menghenyakkan Al. "Tidak keberatan kalau nanti aku menyewamu lagi, kan?!" "Jangan harap aku mau berurusan denganmu lagi!" Jane berlalu meninggalkan kamar. Al Bureau memasukkan ponsel ke dalam kantung. "Membayar motel tanpa bersenang-senang adalah hal paling menyebalkan dari pekerjaanku," gerutunya. *** Jane Moss berjalan cepat di jalanan sepi, sembari merapatkan mantelnya. Kalau bukan karena Polisi tadi, aku tidak pulang selarut ini, batin Jane merasa kesal, seraya menyulut rokok. Perasaan khawatir menyeruak. Ia merasa ada yang mengikutinya. Jane pun mempercepat langkah. Sesekali ia menoleh ke belakang, tetapi tak mendapati ada orang lain di sana. Setelah melewati beberapa belokan, akhirnya ia sampai di sebuah apartemen tua. "Halo Jane," sapa seorang perempuan tua di dalam koridor. "Mrs. Carlson." Jane mengecup pipi perempuan tersebut. "Untuk tagihan bulan ini, nanti aku antar ke unitmu." Mrs. Carlson tersenyum. "Tidak banyak, karena sudah kuberi diskon." "Tidak seharusnya begitu, Mrs." "Kamu sudah banyak membantuku, Jane." Jane tersenyum. "Well, terima kasih. Oh iya, sudah bertemu Carrie?" "Tadi siang. Tapi semenjak itu ia belum turun lagi." "Carrie mungkin sudah menungguku dari tadi. Kalau begitu aku ke unitku, Mrs," tukas Jane, ramah, kemudian berlalu meninggalkan Mrs. Carlson. Setibanya di dalam, dilihatnya anak perempuannya sedang menonton televisi. Gadis kecil itu menekuk wajah, melihat kedatangan Jane. Kendati demikian, matanya yang berbinar, menunjukkan perasaan senang yang tak mampu ia tutupi. "Ibu terlambat lagi," ucap anak tersebut, merajuk. Jane menghela napas, kemudian duduk di sebelah anak perempuan itu. "Maaf Carrie, Ibu harus bekerja." Anak kecil bernama Carrie diam beberapa saat, sebelum akhirnya berbicara, "Aku lapar." "Lihatlah apa yang kubawa." Jane mengeluarkan bungkusan dari dalam tas. "Tadda!" "Croissant dari Hazel Coffee!" seru Carrie, mengecup pipi Jane. "Ibu mandi dulu, ya?!" "Oke." Baru beberapa menit di dalam kamar mandi, air mendadak berhenti mengalir, listrik pun padam. Mungkin saklarnya turun, ucap Jane dalam hati, sembari melilitkan handuk, kemudian keluar. "Ah, pemakaian listrik terlalu tinggi," keluhnya, usai menaikkan saklar. "Carrie, matikan lampu kamar!" Ia pun membalik badan, sambil terus memanggil-manggil. Saat tengah berjalan, matanya menangkap noda berceceran di lantai. Darah? Bayangan buruk mulai menyeruak dalam pikiran Jane. "Ibu ...." Hati Jane seakan melompat, dan bergegas menghampiri asal suara. Namun, apa yang ia lihat di dalam kamar, nyaris membuat jantungnya berhenti. Ia melihat darah berkucuran di wajah Carrie. Tangan dan kakinya terikat. Di belakangnya berdiri seorang pria berjaket hitam, yang tersungging menatap Jane. "Ibu ... tolong ...." Carrie memanggil, setengah merintih. Suaranya bergetar, pun air mata terus mengalir—hingga bercampur dengan darah di wajahnya. Jane membeku, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hanya sejenak, karena berikutnya perasaan takut mencengkeramnya kuat-kuat. "Jangan sakiti anakku," pinta Jane, memelas. Suaranya bergetar, air mata pun menggenang. "Aku menyakiti anakmu?" tanya laki-laki berjaket, seraya menyeringai. "Bukan aku, Jane. Kamulah yang menyakitinya." "Kumohon lepaskan anakku ...." Air mata Jane sudah tak terbendung. Ia tak henti-hentinya memohon. "Aku akan lakukan apa saja. Aku berikan apa saja, tapi tolong lepaskan Carrie ...." Laki-laki tersebut tersenyum, lalu mengarahkan moncong pistol ke arah Jane. "Aku minta nyawamu, Jane Moss." Bayangan mengerikan tampak jelas di matanya. Sebentar lagi ... ya, sebentar lagi nyawanya melayang, saat laki-laki di hadapannya menarik pelatuk pistol penghantar maut. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN