12

1002 Kata
Phillip Murdock berangsur-angsur terjaga. Sambil menyandarkan diri, ia mengerling pada perempuan yang berbaring di sebelahnya. "Semalam kamu tidak sehebat biasanya, Phil," tukas perempuan itu sembari menarik selimut, menutupi tubuhnya, "Apakah kematian Samantha masih mengusik pikiranmu?" Phillip menghela napas panjang. "Sudah belasan tahun ia menjadi klien-ku. Apalagi kematiannya begitu mendadak. Tentu saja aku masih merasa kehilangan, Jane." "Well, itu bukan urusanku. Tapi jadi merusak kesenangan, dan bisnisku." Dahi Phillip mengernyit. "Kesenanganmu?" tanyanya, lantas mengambil dompet dari dalam celana yang tergantung di balik pintu. "Ambillah." Diambilnya beberapa lembar uang dari Phillip, kemudian menghitungnya. "Ini termasuk tips?" "Iya. Kulebihkan dari biasanya. Anggap saja untuk mengganti ketidakpuasanmu. Lagipula, itu kan yang lebih kamu pedulikan?!" Perempuan bernama Jane tersenyum lebar. "Pasti. Imbalan yang pantas untuk jasaku pada laki-laki seperti dirimu." "Lekas mandi, lalu keluar dari tempatku," ujar Phillip ketus. "Kamu pelangganku yang paling menyebalkan! Jika saja kita tidak sering berbisnis, sudah dari dulu aku enggan. Lebih baik aku langsung pulang daripada berada di sini." Jane buru-buru berkemas. "Nanti akan kuhubungi kalau membutuhkanmu." "Siapkan bisnis lebih besar, atau aku malas menemuimu!" sahut Jane, kemudian membanting pintu. Phillip berjalan memasuki kamar mandi, sambil menggerutu, "Dasar perempuan jalang." Baru saja ia hendak membasuh tubuh, tiba-tiba terdengar suara bel di dalam unit apartemennya. "Sebentar!" Dengan enggan ia melilitkan handuk di pinggang, lantas berjalan ke pintu depan. "Untuk apa kamu kembali, Ja—" Phillip tak meneruskan kalimatnya, terkejut melihat dua orang yang baru saja datang. Salah seorang di antaranya adalah seorang pria jangkung, dengan wajah tirus, sepasang mata cekung, hidung mancung yang bengkok ke bawah, serta rambut hitam kelam. Sementara seorang yang lain adalah perempuan mungil berparas cantik, dengan rambut bermodel Bob. "Detektif Al Bureau, dan Rachel Ainsley," ucap pria tersebut memperkenalkan diri, seraya menunjukkan lencana kepolisian. "Klien Anda meninggal, tapi Anda malah bersenang-senang semalaman," tukas Al, yang terlihat santai sambil mengunyah permen karet. "Ah, Anda mau unjuk kemampuan sebagai seorang Detektif?" Phillip berkata ketus, merujuk dugaan Al Bureau yang tepat sasaran. Alih-alih dijawab oleh Al, justru Rachel yang angkat suara, "Tidak perlu kemampuan seorang Detektif untuk mengetahui kejadian semalam, jika bertemu dengan perempuan yang keluar dari dalam unit dengan bekas noda pada pakaiannya." "Ditambah lagi, pakaian serta rambut yang berantakan," timpal Al, menggenapi kata-kata Rachel. Semburat merah di wajah Phillip pun kian kentara. Rasa malu bercampur kesal, membuat darah naik ke wajahnya. "Apakah kedatangan Anda ada terkait kematian Samantha?" Phillip bertanya, ketus. Al Bureau tidak menjawab, berjalan masuk. Pandangannya menyelisik ruangan apartemen, serta benda-benda di dalamnya, hingga berhenti di depan lukisan yang menggantung di salah satu dinding. "Tidak ada apa-apa di sini," tukas Phillip. "Jan Vermeer." Al memperhatikan lukisan tersebut. "Pelukis Belanda, yang dikenal dengan lukisan interior kelas menengah. Lahir pada tahun 1632, dan meninggal pada usia 43 tahun." Phillip tak terkesan dengan sikap Al yang lancang. "Kalau ada yang ingin ditanyakan, langsung saja." Senyum Al tersungging, sambil memandang Phillip. "Rupanya Anda bukan orang yang penyabar. Oh iya, di mana tong sampah? Atau saya boleh membuang permen karet di lantai?" Phillip melemparkan pandangan ke tong sampah di pojok ruangan. "Penyabar? Tergantung maksud kedatangan tamuku." Melihat ketidakramahan tuan rumah, Rachel ingin cepat-cepat menyelesaikan urusan di sana. "Di mana Anda pada pukul se—" "Saya punya dua permintaan." Al menginterupsi Rachel, sembari menutup penutup tong sampah. Phillip menatap Al dengan tajam. "Sebutkan." Al kembali tersenyum, seraya duduk di sofa. "Pertama. Apakah Anda berkenan menyajikan minuman dingin pada kedua tamu Anda yang ramah ini?" Permintaan pertama Al sungguh di luar dugaan Phillip, tetapi ia berusaha bersikap tenang, dan mengambil sebotol minuman dari lemari es. "Berikutnya," ucap Phillip, sembari menuangkan minuman ke dalam gelas. "Boleh tunjukkan foto terakhir Anda bersama Samantha." Phillip tersenyum dengan permintaan kedua Al. "Tidak masalah … ini," ujarnya seraya menunjukkan foto di dalam ponselnya. Selama beberapa detik Al mengamati foto tersebut, sebelum akhirnya mengembalikannya. "Kostum yang bagus," ucapnya, tersenyum. "Tertarik melihat foto Halloween kami?!" tukas Phillip sinis, merujuk pada foto yang baru saja ditunjukkan. Al kembali tersenyum. "Saya rasa." "Dua permintaan sudah terpenuhi." Phillip berjalan ke pintu depan. Al bangkit dari sofa. "Sudah cukup. Kami harus pamit Mr. Murdock," kata Al, menjabat tangan Phillip. "Rachel." Rachel mengangguk. "Terima kasih atas waktunya, Mr. Murdock." "Tunggu .…" Tiba-tiba Phillip menahan mereka. "Ada yang bisa kami bantu?" tanya Rachel, menoleh pada Phillip. "Kudengar kesimpulan sementara menyatakan bahwa kematian Samantha akibat bunuh diri, benarkah demikian?" Al mengangguk, sebelum akhirnya berjalan keluar dari dalam unit. "Sampai bertemu lagi, Mr. Murdock." Kedua Detektif Kepolisian Washington D. C. tersebut berjalan melintasi koridor menuju lift. "Sekarang kita mau ke mana?" "Kencan," jawab Al, menekan tombol lift. *** Hazel Coffee di pinggir Washington D. C. tampak lengang. Hanya dua orang pengunjung yang berada di sana. Mereka baru saja duduk di bagian luar. Meskipun berada di luar, jalanan yang sepi tidak mengganggu pembicaraan mereka. "Hazel Brown Coffee seperti biasa, Al?" tanya seorang perempuan Pramusaji, sambil memegang buku catatan. "Tentu, Molly." "Kalau Anda, Miss?" "Panggil saja Rachel," sahut Rachel, lantas kembali berkata, "Mmm … aku pesan cokelat hangat." "Oke, aku segera kembali." Molly berlalu meninggalkan keduanya. "Jadi kamu sering ke tempat ini?" tanya Rachel, mengalihkan pandangan dari Molly yang sudah menjauh. "Iya. Kopi di sini spesial. Sayangnya, lokasi tempat ini di pinggir kota." "Bukan karena Molly yang seksi?" seloroh Rachel, membuat Al tertawa kecil. "Molly memang seksi, tapi aku tidak mau mengencani sepupuku," terang Al, "Well, bagaimana deduksimu dari pertemuan kita dengan Phillip?" "Ah, kamu mengujiku." Rachel menghela napas. "Ketika kamu sedang melihat-lihat, ia berkata 'Tidak ada apa-apa di sini.', ia menduga kamu sedang mencari bukti. Padahal ia tahu jika kesimpulan sementara adalah bunuh diri." Al tersenyum. "Artinya?" "Berarti ia tahu kalau ini bukan kasus bunuh diri, melainkan pembunuhan," jawab Rachel, lalu melanjutkan. "Kamu berhasil memancingnya." "Hanya itu saja deduksimu?" Rachel mengangguk. "Aku tidak paham maksud dari kedua permintaanmu padanya." Pembicaraan mereoa terhenti sesaat, ketika Molly datang membawa pesanan. "Ada pesanan lagi, Al?" "Cukup. Terima kasih, Molly," ucap Al pada Molly yang datang membawa pesanan. "Well, kalau kalian ingin memesan, aku ada di bar," terang Molly. "Tentu," sahut Rachel. Molly tersenyum, kemudian pergi meninggalkan Al, dan Rachel. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN