11

1026 Kata
Sambil menenteng tas, Al Bureau memasuki kantor Departemen Kepolisian Metropolitan. "Hei Al, ada gadis baru yang menunggumu." "Yeah. Aku tahu, Frank." Sesampainya di dalam ruangan, dilihatnya seorang perempuan yang duduk di dekat meja kerjanya. Perempuan itu berperawakan mungil. Tingginya sekitar 165 cm. Rambut hitam bermodel Bob, membingkai wajahnya yang oval. Dengan sepasang mata lebar beretina zamrud, hidung mancung, serta bibir yang tebal dan seksi, membuat kecantikannya tak dapat disangkal siapa pun. Apalagi kulitnya yang putih, dan jernih semakin menunjang kecantikannya. Diam-diam Al mengamati perempuan tersebut selama beberapa detik, lantas mengalihkan pandangan pada tumpukan kertas di atas meja. "Perkenalkan, aku Rachel Ainsley. Aku baru saja pindah dari Kepolisi—" "Jika kamu selalu terlambat, dan ceroboh, sebaiknya jangan berpasangan denganku." Al menginterupsi, tiba-tiba. Gadis bernama Rachel terhenyak. "Bagaimana bisa tahu kal—" "Goresan-goresan pada sepatumu sangat kentara, artinya tadi kamu berjalan tergesa-gesa dari apartemen Ellenwood yang hanya berjarak satu kilometer dari sini. Dengan jarak sedekat itu, tidak seharusnya kamu tergesa-gesa, kecuali jika kamu khawatir terlambat." Belum habis rasa terkejutnya, Al kembali membuatnya terperangah. "Lantas dari mana kamu tahu aku tinggal di Ellenwood?" Al mengerling pada Rachel. "Keycard yang menyembul dari kantungmu, adalah keycard Ellenwood. Selain itu, noda cokelat pada sepatumu, menunjukkan kamu melalui kubangan air di jalanan yang sedang diperbaiki di depan Ellenwood," terang Al, lantas berhenti sejenak. "Kamu harus banyak belajar kalau mau menjadi partnerku, atau mintalah dipasangkan dengan orang lain." "Well, kupastikan aku dapat berguna melebihi dugaanmu," ucap Rachel, penuh percaya diri. "Kita lihat nanti. Sudah banyak yang tidak sanggup, karena standar kerja yang kuterapkan." Al mengambil berkas-berkas, kemudian menenggelamkan diri di dalamnya. "Mau aku bantu?" Al mengeluarkan selembar uang dari dalam dompet. "Belikan aku cappuccino panas di kantin." Rachel menyambar uang dari tangan Al, dan berlalu dengan hati mendongkol. Berlagak seperti Sherlock Holmes, jangan-jangan hanya Detektif rendahan. Al memperhatikan Rachel dari kejauhan, sudut bibirnya setengah terangkat. "Aku suka semangatnya." Selama beberapa menit ia membaca dengan teliti, tetapi hasilnya masih sama seperti yang sudah-sudah. Dilemparkannya berkas tersebut ke atas meja, lalu menyandarkan diri pada kursi. "Kenapa tidak mencari petunjuk melalui video-video Samantha?" Suara itu membuat Al tersadar dari lamunan. "Ah, kamu ...." "Tadi aku mendengar kalau kamu sedang mendatangi lokasi kejadian. Sambil menunggumu, aku mencoba mengumpulkan beberapa video Samantha," terang Rachel, sembari meletakkan cappuccino di atas meja. "Semua sudah kukumpulkan dalam flashdisk ini." "Thank’s," ujar Al singkat, kemudian menyolokkan flashdisk. Video pertama yang diputar, adalah video saat Samantha menjadi bintang tamu dalam sebuah acara talkshow. Beberapa kali Rachel melihat Al mencatat sesuatu pada kertas. "Apa yang kamu catat?" tanyanya, penasaran. Al menarik video itu mundur, lantas berkata, "Perhatikan pada menit 5, detik 12." Rachel memperhatikan video tersebut dengan teliti, tetapi ia tak menangkap maksud Al. "Aku tidak melihat ada kejanggalan." "Saat Pembawa Acara bertanya 'Bagaimana akhirnya kamu bisa mendapatkan kontrak dengan iGlobe?', Samantha tidak langsung menjawab, sambil menggaruk hidung." "Gatal?" "Iya gatal, tetapi kamu harus tahu, jika seseorang merasa tidak nyaman saat berbohong, andrenalinnya meningkat dan menyebabkan pembuluh kapiler membesar—" "Itulah yang membuat hidungnya gatal?" "Benar. Namun, jika hanya dari satu gerakan, tidak bisa disimpulkan apa-apa. Berikutnya, pada menit 7, detik 21—ketika masih menjawab pertanyaan yang sama—dalam semenit ia berkedip lebih dari 8 kali. Normalnya setiap orang berkedip 6 sampai 8 kali dalam semenit. Hal ini menunjukkan kalau ia merasa tegang, dan tidak nyaman saat berbicara," terang Al, dan membuat Rachel terkesima akan kemampuan deduksinya. "Ayo, kita lihat video lain." Satu demi satu video telah habis diputar, tetapi misteri kematian Samantha tidak dapat disimpulkan semudah itu. Kasus itu memang tampak sederhana, meski sebenarnya sangat rumit. Bahkan Detektif sepandai Al Bureau, belum mampu mengurai kasus tersebut hingga tuntas. "Jadi, kamu baru bisa menyimpulkan Samantha mendapatkan tekanan?" tanya Rachel. Al mengangguk. "Gestur tubuhnya menguatkan dugaanku. Kendati aku tidak tahu apa yang membuatnya tertekan." "Hanya itu?" Al mencerna pikiran, sembari memainkan pulpen di sela jari-jarinya. "Ada lagi. Ayo ikut aku, nanti akan kujelaskan." "Ke mana?" tanya Rachel, sambil berjalan mengikuti Al dari belakang. "Laboratorium forensik." Laboratorium forensik, berada tidak jauh dari sana. Sehingga dalam waktu kurang dari sepuluh menit, keduanya telah tiba di tujuan. Al memang sosok yang populer di sana. Tak kurang dari belasan orang menyapa, ketika ia berjalan menyusuri koridor laboratorium. "Mana suratmu, Al?" tanya seorang petugas. "Masih perlu meminta surat, Greg?!" Al menjawab, menunjukkan kebiasaannya yang datang tanpa surat tugas. Petugas bernama Greg menghela napas. "Samantha, kan?" "Iya, siapa lagi kalau bukan dia?!" "Ayo ikut aku," tukas Greg, berjalan di depan. "Partner, atau pacar barumu?" Greg mengerling pada Rachel. "Partner. Belum menjadi pacarku." "Hei! Apa maksudmu dengan berka—" "Tak lama lagi kamu akan jatuh hati padaku, seperti kebanyakan perempuan lain, Rachel," jawab Al, tertawa kecil. Wajah Rachel bersemu merah, antara perasaan kesal bercampur malu. Kamu pikir aku perempuan murahan?! Rachel membatin. "Well, kalian beruntung. Hasil forensik baru saja keluar," terang Greg, sambil memasuki ruangan. "Bisa aku lihat?" "Tentu," sahut Greg, menyerahkan lembaran hasil forensik. "Sudah jelas ini kasus bunuh diri," tukas Greg. Al memperhatikan lembaran di tangannya selama beberapa menit. "Bagaimana menurutmu dengan tulang spiralnya yang patah?" "Aku menduga kakinya terkilir saat ia sedang menggelepar-gelepar, ketika meregang nyawa," jawab Greg. "Jadi itu kesimpulanmu?" Greg mengangguk. "Atau kamu melihat ada kejanggalan seperti yang sudah-sudah?" "Iya." Al tersenyum, kemudian menyingkap kain yang menutupi jenazah Samantha. Pandangannya menyelisik jasad tersebut untuk kedua kalinya. "Kamu memiliki bukti?" tanya Greg. "Nanti akan kudapatkan." Al berjalan ke luar ruangan. "Thank's Greg." "Katamu ingin menjelaskan sesuatu," ucap Rachel, lirih. "Well, okay. Pertama jasad Samantha adalah penjelasanku. Kedua aku menemukan Ahli Forensik bodoh, atau mungkin berpura-pura bodoh." "Pura-pura bodoh? Maksudmu Greg sengaja mengaburkan fak—" Al buru-buru menginterupsi, "Bukan Greg. Dia sahabatku." Detektif itu pun mengedarkan pandangan, lantas berkata lirih, "Jangan membahasnya di sini." "Oke. Sekarang mau ke mana?" "Phillip Murdoch, Manajer Pribadi Samantha Hill," jawab Al singkat, berjalan ke luar dari gedung forensik. Rachel mengikuti Al masuk ke dalam mobil, kemudian mobil itu melaju. Al menginjak gigi dalam-dalam, memacu mobil dengan cepat melintasi jalanan. Tujuan mereka sudah jelas: menemui Manajar Pribadi Samantha Hill. Kejadian Sanit Andrews dan kematian Samantha seperti tidak berkaitan. Namun, sesungguhnya sangat erat. Entah apa yang menjadi benang merah keduanya. Keterangan: [1]Deduksi: Penarikan kesimpulan dari suatu keadaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN