Setelah membersihkan diri, Rani keluar dari kamar mandi dengan tubuh terbungkus jubah handuk hotel. Rambut masih basah, meneteskan air ke lantai berkarpet. Wajahnya tanpa ekspresi, seakan tak ada sisa emosi yang bisa ditunjukkan lagi. Arka yang duduk di tepi ranjang segera bangkit, langkahnya mantap menghampiri gadis itu. “Ran, gimana? Kamu pilih aku, kan? Kamu mau putusin Gavi, kan?” Suaranya lembut, penuh harap. Namun, Rani tak menghiraukan. Ia berjalan melewati Arka begitu saja, membungkuk mengambil pakaian yang masih berserakan di lantai. Satu per satu baju itu ia kumpulkan, tanpa berkata sepatah kata pun. Setelah itu, ia kembali masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Arka hanya berdiri mematung, menatap pintu kamar mandi yang kini menutup rapat. Tatapannya seperti pria yang takut

