Begitu Gavi membuka pintu, sosok gadis cantik menerobos masuk apartemen tanpa aba-aba. "Gavi ... gue sakit ... gue butuh pelukan." Rambut panjang hitam gadis itu acak-acakan, wajah sembab, dan mata merah karena terlalu banyak menangis. Ia melingkarkan tangan ke pinggang Gavi dan menyembuhkan wajah ke d**a pria itu. “Rasanya sakit banget, Gav.” Karena mendengar suara tangis, Rani yang masih duduk di sofa sontak berdiri. Ia melangkah mendekati pintu lalu refleks berhenti. "Eh ...?" Pandangan Rani terpaku pada pemandangan di depan pintu, seorang gadis cantik yang sedang menangis di pelukan Gavi. Jantungnya jadi berdetak lebih cepat, tapi bukan karena cemburu, lebih tepatnya ke arah bingung. "Siapa dia? Kenapa bisa selekat itu sama Gavi?" Gavi butuh beberapa detik untuk sadar. Ia segera

