Pagi itu, pasar ramai dengan para pedagang yang sibuk menata sayur-mayur segar. Rani menenteng tas kain di tangan kiri, sementara tangan kanan memilih sayur mayur dengan teliti. Baru saja gadis itu meraih bayam, wortel, dan tomat, suara lembut nan akrab terdengar di belakangnya.
“Eh, Rani!”
Rani menoleh cepat. Senyumnya terbit begitu melihat sosok wanita paruh baya dengan keranjang belanja di tangan. “Eh, Bunda Fina. Apa kabar?” Ia segera menunduk, meraih tangan Fina dan mencium tangan itu dengan penuh hormat.
“Baik-baik, Nak.” Fina tersenyum hangat, matanya menatap Rani penuh rasa sayang. “Owh iya, kenapa kemarin kamu nggak datang di pernikahan Arka dan Elma?”
Rani tercekat sesaat, tapi buru-buru menata expresi wajahnya. “Ah, itu … kebetulan pas itu saya sedang ada urusan yang nggak bisa ditinggalkan.”
“Owh begitu.” Fina mengangguk maklum. “Kamu naik motor apa jalan, Ran?”
“Jalan, Buk. Sekalian olahraga tipis-tipis nyari udara pagi.”
“Owh, ayo kalau gitu kita jalan bareng-bareng!” ajak Fina semangat.
Fina adalah ibu Arka. Mereka tinggal di perumahan yang sama. Rumah Arka menjadi yang paling besar di sana karena dulu keluarganya membeli empat kavling sekaligus, lalu menyatukannya untuk membangun satu rumah megah. Sementara rumah Rani hanya satu kavling saja, bangunannya pun masih original, belum pernah direnovasi.
“Kamu kapan nikah nyusul Arka? Udah ada calon?” tanya Fina penasaran.
"Belum, Bu." Rani menggeleng sambil tersenyum. "Belum ada rencana nikah karena belum ada calonnya. Lagian … mana ada yang mau nikah sama anak yatim piatu seperti saya."
Fina berhenti melangkah sebentar, menoleh serius. “Jangan begitu. Kamu itu loh cantik, badan kamu juga bagus. Kamu terkenal ramah dan murah senyum juga sama para tetangga. Bunda yakin, pasti banyak yang suka sama kamu. Jangan rendah diri, Ran. Yatim piatu itu bukan kekurangan.”
Rani mengangguk, matanya berkaca-kaca karena terharu oleh pujian Fina. "Terimakasih, Bun."
Tiba-tiba ada motor mendekat. Itu Arka, ia berhenti tepat di samping mereka. “Ayo, Bun, naik! Nanti Bunda capek.”
"Nggak mau, Ar." Fina mengibaskan tangan. "Bunda mau jalan sama Rani aja. Nyari keringat tipis-tipis. Mumpung ada temannya.”
“Tapi Ayah suruh aku jemput Bunda loh.”
“Enggak mau, sana kamu pergi aja! Udah dibilangin Bunda mau jalan aja.”
Arka menatap tak percaya. “Owh, jadi Bunda milih pulang sama Rani daripada anak sendiri, ya?”
"Ya jelas." Fina terkekeh pelan. "Ibu mau ngobrol sama Rani ini loh. Sana-sana kamu pulang ngurusin istrimu aja! Suruh lah istrimu bangun, terus belanja sayur pagi-pagi kayak Rani gini. Duh, Ar, ada spek istri idaman di dekatmu kok kamu malah milih istri yang manja nggak bisa apa-apa.”
“Bun!” Arka protes, wajahnya memerah menahan malu di hadapan Rani.
“Apa? Sana pergi aja kamu! Gangguin aja orang lagi asyik-asyik ngobrol sama bestie.”
"Aku aduin ke Ayah, kok!" Arka mendengus kesal, memutar gas motornya lalu melaju pergi dengan wajah kesal.
Sementara Rani hanya bisa menunduk, mencoba menyembunyikan senyum tipisnya. “Jadi Arka sama Elma tinggal di rumah Bunda, ya?”
“Iya, soalnya rumah mereka masih belum jadi.” Fina mendengus kesal. "Nggak tahu tuh, kemarin udah hampir jadi, tapi si Elma protes gitu, katanya designnya nggak sesuai selera, akhirnya diubah lagi itu. Kan makin lama jadinya."
“Owh gitu.” Rani mengangguk dan dalam hati dia merasa iri karena sebentar lagi Elma dan Arka akan menempati rumah impian mereka.
Fina menatap Rani penuh arti, lalu menghela napas. “Jujur, Bunda pikir Arka bakal nikah sama kamu, Ran.”
"Bunda ih, ada-ada saja." Rani tertawa. “Arka nggak suka sama saya, Bun. Ya nggak mungkin, saya jelas bukan tipenya. Dia suka yang cantik dan dari keluarga berada seperti Elma.”
"Jawab jujur ya, Ran!" Fina menyipitkan mata. "Apa kamu pernah suka sama Arka?"
Pertanyaan itu membuat langkah Rani melambat. Ia terdiam cukup lama, lalu berusaha menutupi dengan tawa tipis. “Siapa yang nggak suka sama Kapten Arka? Dia ganteng, ramah, mapan, berwibawa. Jelas semua perempuan pasti suka sama anak Bunda yang satu itu.”
“Maksudnya bukan sebagai teman atau Kapten. Maksudnya sebagai orang yang istimewa.”
Rani terdiam, matanya menatap lurus ke jalanan yang masih basah oleh sisa embun pagi. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia menggeleng. “Saya nggak pernah berani suka sama Arka, Bun. Karena saya tahu … dia adalah tipe orang yang tidak akan pernah bisa saya gapai.”
***
Rani mengenakan kaos longgar dan celana training, rambutnya diikat seadanya. Setelahnya menyiram pot-pot bunga yang berjejer rapi di depan rumah, ia segera menyapu menggunakan sapu lidi, untuk membersihkan daun kering yang berguguran di halaman kecilnya. Wangi tanah basah bercampur segar bunga membuat suasana pagi terasa damai bagi Rani.
Tiba-tiba, suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Rani menoleh, keningnya berkerut, apalagi saat pintu mobil terbuka dan sosok yang sangat dikenalnya keluar.
“Hay, Ran.” Suara itu terdengar riang.
Rani sempat terdiam, sapunya berhenti bergerak. “Loh, Gavi? Kok ke sini? Ada apa?”
Gavi memasukkan kedua tangan ke saku celana, wajahnya di hiasi senyum yang khas, tampak mempesona. “Aku cuma mau main. Nggak boleh?”
Rani mengembuskan napas kecil, lalu ikut tersenyum. “Boleh, kok. Cuma kaget aja, soalnya kamu nggak ngabarin dulu kalau mau main ke sini.” Ia meletakkan sapu di pojok teras. “Ayo duduk di sini!”
Gavi melangkah mendekat, tatapannya sempat menyapu halaman kecil Rani yang sederhana tapi bersih. “Rumahmu asri banget.”
"Terimakasih pujiannya. Bentar ya, aku ambil minum dan cemilan dulu buat kamu." Tanpa menunggu jawaban Gavi, gadis itu berlari kecil masuk ke dalam rumahnya.
Gavi terkekeh melihat tingkah Rani lalu duduk di kursi. "Dasar, menggemaskan banget dia. Jadi pengen aku jadikan istri deh."
Tak lama, Rani keluar membawa 2 cangkir teh hangat dan ubi manis kukus yang baru saja matang. “Aku kira kamu bakal istirahat setelah flight panjang kemarin,” kata Rani membuka percakapan.
“Tapi aku lagi pengen liat kamu. Jadi istirahatnya nanti aja setelah dari sini,” jawab Gavi, menatap Rani lurus dengan nada serius. "Atau kalau boleh aku istirahat di rumahmu juga. Nebeng tidur maksudnya."
"Nggak apa-apa kalau kamu mau digrebek warga terus dinikahin sama aku." Rani mengambil ubi lalu membukanya. "Pak RT di sini galak soalnya."
"Eh, aku malah pengen banget kayak gitu." Mata Gavi berbinar-binar. "Kan jadi irit tuh, kita nggak usah lah bayar biaya gedung sama sediain makanan dari catering. Pokoknya yang penting bisa 100% sah aja sama kamu."
"Ada-ada saja!" Rani memberikan ubi yang sudah dia kupas bersih pada Gavi. "Nih makan! Aku tahu kalau kamu pasti nggak bisa ngupas."
"Wah makasih, Ran. Kamu pengertian banget." Gavi mengigit ubi itu dengan semangat. "Wah, baru kali ini aku ngerasain makan ubi manis yang rasanya manis banget dan super enak kayak lagi makan cokelat dari Swiss. Pasti karena dimasak dan dikupas sama cewek cantik."
"Ih ... gombal." Rani tertawa, tapi tawanya langsung hilang saat ada seseorang masuk ke halaman rumahnya. "Eh ...?"