"Arka ...?" Rani berdiri lalu melangkah mendekati pagar. “Ada apa?” tanyanya, sedikit heran melihat tetangganya itu membawa mangkuk tertutup.
Arka menurunkan tatapannya sebentar, lalu mengangkat mangkuk itu dengan kedua tangan. “Ini dari Bunda. Katanya kamu suka tumis daging cabe ijo. Jadi tadi pas masak, Bunda langsung inget kamu dan nyuruh aku ke sini nganter ini.”
Mendengar itu, Rani tersenyum dan matanya sempat berkaca-kaca. “Bundamu baik banget. Tolong bilang terima kasih ke beliau ya, Ar. Aku akan makan semuanya sampai habis.”
“Iya, nanti aku sampaikan.” Suara Arka terdengar datar, tapi sorot matanya seakan terhenti menatap wajah Rani lebih lama dari yang seharusnya.
Lalu, terdengar suara langkah kaki. Itu Gavi yang mendekat dan berdiri di belakang Rani. “Hay, Ar.”
“Hay, Gav. Udah lama di sini?” balas Arka memaksakan diri untuk tersenyum.
“Belum kok.” Gavi memasukkan tangannya ke saku celana. “Aku baru aja sampai tadi. Mana istrimu? Kok Elma nggak diajak?”
“Di rumah.” Arka menghela napas, mencoba menata expresinya agar terlihat tetap ramah. “Aku kan cuma nganterin makanan ke tetangga, ngapain ngajakin istri segala.”
"Kan nganterin makanan ke rumah gadis." Gavi terkekeh. "Kalau aku jadi Elma sih, meski ke rumah tetangga, aku bakal buntutin kamu."
“Elma nggak akan cemburu kalau aku ketemu Rani." Arka menatap Rani sebentar lalu kembali menatap Gavi. "Dia tahu kok, kalau aku sudah berteman lama banget sama Rani.”
“Owh gitu, ya.” Gavi mengangguk-angguk, pandangannya sekilas ke arah Rani. “Bagus deh. Berarti Elma bukan tipe wanita yang suka cemburu buta. Tapi kalau aku ... kalau aku udah nikah sama Rani, aku bakalan cemburu kalau Rani ngobrol berduaan sama kamu meski kalian udah temenan lama dari kecil.”
"Eh ...." Wajah Rani memerah semerah tomat. "Kamu ngomong apa sih, Gav!"
"Aku serius, Ran. Aku pengen nikahin kamu. Dan aku emang orangnya posesif dan cemburuan. Jadi, harus tahu itu!" Gavi mengelus puncak kepala Rani. "Kamu ngegemesin banget kalau lagi tersipu gini deh."
"Gav, jangan gitu!" Rani menyingkirkan tangan Gavi dari kepala dengan lembut, wajahnya semakin memerah. "Jangan gombal!"
"Tuh kan, wajah kamu makin merah." Gavi tertawa, kali ini tangannya usil mencubit pipi Rani.
"Gav!" Rani melotot, memasang wajah garang.
Tapi Gavi malah semakin gemas dengan Rani. "Kamu melotot gitu kamu pikir aku bakal takut sama kamu? Enggak, ya! Yang ada aku malah makin cinta."
Arka tak tahan lagi melihat kemesraan Rani dan Gavi, ia mengepalkan kedua tangannya, ingin segera pergi dari rumah Rani. “Aku balik dulu, ya.”
“Oke,” balas Gavi singkat.
“Sekali lagi makasih, ya," imbuh Rani sebelum Arka berbalik. "Salam buat Bunda, Ayah dan Elma,”
“Iya.” Arka melangkah keluar dari halaman Rani.
Dari luar Arka tampak tenang, tapi sebenarnya, pria itu merasakan langkahnya berat, seolah setiap hentakan kaki menambah beban di d**a. Ia menoleh sekilas ke arah rumah Rani, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. "Kenapa? Kenapa kok hatiku nggak nyaman banget pas lihat Rani deket sama Gavi?"
Arka berhenti sebentar di trotoar, lalu menarik napas dalam-dalam. "Aku sudah menikah sama perempuan yang dulu sangat aku cintai dan bisa dikatakan, aku bahagia hidup sama dia. Jadi, aku pasti nggak cinta Rani! Iya, aku enggak cinta, aku cuma sayang dia karena dia teman dekatku ... iya, cuma teman!"
Tapi ingatan malam panas itu mendesak masuk ke dalam pikiran Arka. Malam yang seharusnya tidak pernah terjadi dan yang membuat batas antara dirinya dan Rani kabur. "Sialan!"
Tangan Arka terangkat, mengusap wajah dengan kasar dan rahangnya mengeras. “Kenapa aku malah jadi inget itu, sih? Menyebalkan! Gara-gara kejadian itu, aku jadi sadar, kalau aku … aku—”
Kata-kata Arka terputus, seolah lidahnya menolak mengaku. Ia menggeleng cepat, berusaha menepis pikiran yang menyesakkan. “Stop, Ar! Jangan bodoh. Jangan mikir yang nggak-nggak!”
Namun, bayangan wajah Rani terus saja berputar di pikirannya. Suara, senyuman, bahkan cara gadis itu saat memandang dirinya, membuat hati Arka seperti diremas perasaan asing yang ia sendiri tak ingin pahami. "Gimana kalau Rani benar-benar hamil anakku?"
Jantung Arka berdegup kencang. Napasnya memburu. Ia bahkan harus berhenti sejenak untuk menenangkan diri sebelum melangkah masuk ke halaman rumahnya. "Siapa yang harus kupilih?"
“Arka!” Sebuah suara lembut menyambutnya.
Itu suara Elma, ia tersenyum manja, melingkarkan tangan ke lengan sang suami. "Akhirnya kamu pulang juga."
Kehangatan dari sang istri itu seharusnya menenangkan hari Arka, tapi entah kenapa justru membuat dadanya semakin sesak. "Maaf, ya. Tadi tuh ada Gavi di rumah Rani. Jadi kita ngobrol sebentar untuk basa-basi."
"Wah ... Rani diapelin Gavi, fix nih, bentar lagi pasti mereka nikah nyusul kita." Elma tersenyum lebar, menggoyangkan tangan Arka. "Anak kita bisa sebaya sama anak mereka nanti, terus bisa jadi temen, kayak kamu sama Rani."
"Iya." Mendengar kata anak, kembali membuat d**a Arka terasa sesak. "Semoga saja mereka berjodoh dan segera menikah," ucapnya memaksakan diri untuk tersenyum.
"Amin." Elma mengangguk semangat lalu menatap wajah Arka penuh sayang. "Owh iya, tadi kamu udah sarapan belum?"
“Udah,” jawab Arka cepat. "Pas kamu masih tidur tadi."
Bibir Elma manyun, cemberut manja. “Ih, kok nggak nunggu aku bangun sih? Atau bangunin aku kek, kamu malah ninggalin aku!”
"Aku udah coba bangunin kamu tadi, El. Tapi kamu nggak mau bangun, malah meluk guling erat-erat." Arka tersenyum, berusaha agar istrinya itu berhenti merajuk. “Maaf ya, El. Aku tadi lapar banget. Tapi, ayo aku temenin kamu makan sekarang. Mau aku ambilin juga enggak? Atau mau aku suapin?”
“Iya, mau diambilin terus disuapin sama kamu ya, Sayangku,” jawab Elma riang.
Setelah mereka duduk di meja makan, Arka mengambilkan makanan untuk istrinya. Ia menyuapkan sendok pertama dengan lembut. "Makan yang banyak, ya!"
"Iya." Elma tersenyum puas. “Hem ... enak banget kalau disuapin sama kamu, Sayang.”
Arka berusaha membalas senyuman itu, meski dalam dadanya masih ada sesak yang belum reda sejak dari rumah Rani. Dan di saat itu, langkah kaki terdengar dari arah koridor. Fina — ibu Arka — melintas sambil membawa pot kecil berisi benih bunga. Ia sempat berhenti, menatap sebentar ke arah pasangan itu, lalu geleng-geleng kepala.
"Astaga, manja banget dia. Udah bangun kesiangan, makan tinggal makan aja masih minta diambilin dan disuapin. Beda sekali sama Rani, kalau dia jadi mantuku, pasti ada yang bantuin aku masak," batin Fina merasa kesal.
“Eh, Bunda.” Elma buru-buru menelan suapan dan menyapa dengan sopan. “Bunda mau ngapain?”
“Mau nanam benih bunga ini." Fina menunjukkan pot kecil yang ia bawa. "Kemarin Rani ngasih benih bunga krisan yang warnanya belum Bunda punya. Jadi koleksi bunga krisan Bunda makin lengkap, deh. Nggak sabar pengen lihat ini berbunga.”
“Owh, gitu.” Elma mengangguk cepat, mencoba terdengar antusias. “Besok aku beliin Bunda benih bunga juga, deh. Tinggal bilang aja, Bunda pengen benih bunga apa dan warna apa.”
Fina mengangguk dan tersenyum. “Iya, nanti Bunda bilang ke kamu.” Setelah itu ia berlalu menuju halaman belakang.
Namun dalam hati, wanita paruh baya itu menggerutu. "Kupikir dia mau ikut bantu aku nanam benih ini. Astaga! Selera Arka benar-benar aneh. Kalau Rani, pasti sudah nimbrung di halaman, pegang cangkul kecil, dan rela tangannya kotor demi menemaniku."
Elma kembali menatap Arka. “Bunda deket banget ya, sama Rani? Kok Rani sampai tahu benih bunga apa yang Bunda belum punya?”
“Mereka kan sama-sama punya hobi menanam. Jadi ya wajar kalau sering ngobrol soal benih atau warna bunga apa yang belum mereka dimiliki.” Arka menyodorkan sendok lagi ke mulut Elma. "Ayo makan lagi!"
Tapi Elma menahan tangan Arka, expresi wajahnya berubah serius. “Jujur ya, Ar. Aku itu cemburu sama Rani.”
Arka tertegun. “Cemburu?”
“Iya.” Elma mengembuskan napas panjang. “Aku bukan cemburu sama kamu. Aku cemburunya ke Bunda. Soalnya Bunda selalu inget Rani. Tadi pas beliau masak, beliau kepikiran Rani terus nyuruh kamu anter makanan ke rumah Rani. Bibit bunga juga dari Rani. Terus kadang kalau lagi ngobrol sama aku, Bunda kadang ceritain masa kecil kamu sama Rani. Jujur, aku kesel banget dengernya.”
Arka terdiam beberapa detik. Lalu ia meletakkan sendok, mengusap puncak kepala Elma dengan lembut. “Maaf ya, El. Besok aku coba bilang ke Bunda biar dia nggak sering ngomongin Rani lagi di depan kamu.”
“Tapi jangan bilang kalau aku yang nyuruh, loh!” balas Elma buru-buru. “Nanti bisa-bisa Bunda marah dan benci sama aku.”
Arka tersenyum tipis, kembali berusaha menenangkan sang istri. “Nggak, kok. Aku paham banget soal itu, El. Tapi, kamu tolong sabar sebentar ya! Karena aku bakal bilang hal itu ke Bunda di waktu yang tepat.”
Elma akhirnya mengangguk dan tersenyum lega. “Oke. Makasih, Ar.”
Arka mengelus pipi Elma, menatapnya lama. Tapi di balik tatapan itu, hatinya kembali terhimpit hingga dia refleks membatin, "Kalau Elma hamil anakku … pasti Bunda bakal nyuruh aku cerein Elma lalu nikahi Rani, karena Bunda emang lebih suka sama Rani."