Rani menatap punggung Arka yang semakin menjauh hingga hilang di balik pagar rumahnya. Ia menghela napas panjang, perasaannya terasa kacau, karena terharu dengan kebaikan ibu pria itu dan juga merasa melihat sikap Arka barusan.
“Ran?” suara Gavi memanggil lembut.
Rani menoleh. “Eh, iya, Gav?”
“Kenapa bengong gitu? Kamu baik-baik aja, kan?” Gavi mencondongkan tubuh, menatap Rani penuh perhatian. "Kamu nggak lagi sakit, kan?"
Rani cepat-cepat tersenyum, menutupi gejolak hatinya. “Iya, aku nggak apa-apa.” Ia menggenggam mangkok lebih erat sebentar, lalu mendongak menatap Gavi. “Kamu udah sarapan belum?”
“Belum.” Gavi terkekeh. “Aku kan tadi langsung ke sini setelah dari Bandara, jadi belum sempet sarapan.”
“Ya ampun, Gav!” Rani spontan menepuk dahinya dengan tangan kanan, tangan kirinya masih membawa mangkok. “Kenapa kamu nggak bilang dari tadi? Yuk masuk ke rumahku, kita makan bareng. Kebetulan tadi aku udah masak sayur bayam sama goreng tempe, dimakan sama tumis daging dari Bunda Fina pasti rasanya makin enak.”
“Beneran? Aku boleh masuk ke rumah kamu?" Wajah Gavi berbinar, seakan ditawari hadiah istimewa dari Rani.
"Ya boleh lah." Rani tersenyum kikuk, mencoba menutupi rasa canggung. "Masa aku biarin tamu yang datang ke rumah aku kelaparan.”
Mereka pun melangkah masuk ke rumah. Rani bergegas ke dapur, mengambil 2 piring, 2 sendok, 2 garpu, 2 gelas kosong, lalu dengan lincah menata sayur dan lauk di meja makan kecilnya. Tapi, entah kenapa jantung Rani berdetak tak karuan. Bukan karena Gavi yang menatapnya dengan tatapan kagum, melainkan karena Arka.
"Kenapa sih Arka nggak mau pergi dari otak dan hati aku? Padahal lagi ada Gavi ada di sini, apalagi dia tadi terang-terangan bilang mau nikahin aku. Aku harus gimana?" batinnya resah.
“Ran, rumahmu ini kecil dan sederhana bagi aku, tapi aku merasa nyaman banget di sini." Gavi menghela napas panjang. "Beda sama rumah orang tuaku yang gede itu, tapi bagiku rasanya tuh sepi dan bikin sesak. Itu sebabnya kenapa aku milih tinggal sendiri di apartemen.”
“Owh, ya? Kenapa?” tanya Rani penasaran, ia duduk di hadapan Gavi.
"Keluargaku ... bisa dibilang enggak harmonis. Aku punya Mama punya Papa. Tapi mereka sering banget berantem." Mata Gavi berkaca-kaca. "Yah ... pokoknya lebih sering denger suara teriakan daripada suara orang tertawa."
"Gav." Rani menggenggam tangan Gavi. "Setidaknya kamu masih punya orang tua komplit. Sementara aku yatim piatu. Jujur, aku sering merasa kesepian, aku juga kadang sering nangis karena kangen orang tuaku."
"Kamu perempuan yang hebat, Ran." Telapak tangan Gavi bergerak dengan cepat, bergantian menggenggam tangan Rani. "Kalau boleh, aku ... aku mau sering-sering datang ke sini, nemenin kamu di rumah ini biar kamu nggak kesepian lagi."
Rani tersenyum lebar, lalu mengangguk. "Iya, datang aja! Rumah ini terbuka lebar buat kamu. Ayo dimakan! Yang banyak, ya!"
"Siap." Dengan semangat, Gavi segera mengambil nasi, sayur dan lauk.
Rani menatap Gavi yang begitu lahap menyuap. Ada rasa senang di hatinya melihat pria itu. "Andai Gavi bilang mau mampir ke sini kemarin, pasti aku masakin makanan yang lebih enak dari ini. Untungnya sih ada tumis daging cabe hijau dari Bunda Fina," batinnya sambil mengunyah.
“Ran,” ujar Gavi sambil mengunyah, lalu menenggak air putih. “Masakan kamu enak banget, sumpah!”
Rani buru-buru menelan makanannya lalu tersenyum, “Enak karena ada tumis daging cabe ijo buatan Mama Fina. Kalau cuma sayur bayam sama tempe goreng doang, pasti kamu bilang ke enggak enak.”
“Eh, nggak gitu.” Gavi langsung menaruh sendoknya, menatap Rani serius. “Aku beneran. Ini sayur bayammu enak banget. Padahal sejujurnya aku tuh nggak begitu suka sayur, apalagi bayam. Tapi entah kenapa pas aku makan masakanmu ini, kok aku jadi suka banget sama sayur, ya?”
"Alah, bisa aja kamu, Gav." Rani terkekeh, lalu menggeleng. "Jangan kebanyakan gombal deh!”
“Aku serius.” Gavi mencondongkan tubuhnya sedikit. “Tanganmu pasti ajaib karena bisa bikin sayur yang sederhana jadi istimewa. Makanya aku bisa lahap kayak gini.”
Rani buru-buru menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ia berdehem pelan sebelum berkata, “Syukurlah kalau kamu suka. Kamu boleh nambah nanti. Pokoknya di sini kamu harus makan sampai kenyang, ngerti?”
“Siap, Nyonya Rani!” jawab Gavi sambil tertawa, lalu kembali menyendok nasi ke piringnya. “Kalau bisa, aku mau makan sayur tiap hari di rumahmu.”
Sendok di tangan Rani berhenti bergerak. Kata-kata Gavi barusan seperti menusuk hatinya dengan rasa yang sulit dijelaskan. Antara canggung, bahagia, sekaligus takut. "Setiap hari, ya? Apa dia serius cinta sama aku?" batinnya masih belum yakin.
Setelah makanan di piringnya kosong, Gavi berkata, “Ran, makasih banyak ya. Aku kenyang banget.”
“Syukurlah kalau kamu kenyang.” Rani mulai berdiri, menumpuk piring dan gelas kotor. “Aku cuci ini dulu, ya.”
Belum sempat Rani melangkah ke dapur, Gavi ikut bangkit. “Biar aku aja yang nyuci.”
“Eh, nggak usah, Gav. Kamu kan tamu aku.”
“Justru karena aku tamu, makanya aku harus bantuin tuan rumah nyuci piring. Nggak sopan kalau aku cuma makan doang terus ongkang-ongkang kaki,” balas Gavi santai sambil merebut dua piring kotor dari tangan Rani.
Rani sempat melongo, lalu akhirnya terkekeh. “Kamu ini, ya sudah deh. Tapi hati-hati, ya! Jangan pecahin piringku. Soalnya aku nggak punya banyak uang buat beli piring lagi.”
"Tenang aja, kalau aku pecahin piring kamu, aku bakal tanggung jawab kasih kamu 100 piring yang baru yang terbuat dari emas," balas Gavi menaik turunkan alisnya.
Mereka berdua masuk ke dapur. Gavi berdiri di depan wastafel, menggulung lengan kemeja hingga siku, memperlihatkan lengan kekar yang tampak kontras dengan gerakan tangannya yang hati-hati. Ia mulai menggosok gelas, piring, dan sendok dengan penuh semangat.
Sementara Rani berdiri di samping Gavi. Pandangannya tanpa sadar terfokus pada gerakan tangan pria itu. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat hatinya bergetar ketika melihat pria yang biasanya gagah dengan seragam pilot, kini berdiri di dapurnya, melakukan pekerjaan sederhana itu.
“Wih, ternyata kamu jago juga cuci piringnya.” Rani bertepuk tangan.
“Jangan salah. Di apartemen, aku itu nyuci piring sendiri, nyapu sendiri, nyuci baju juga sendiri. Jadi aku udah pro,” jawab Gavi dengan bangga.
Begitu semua piring, gelas, sendok dan garpu selesai dicuci, Gavi mengusap tangan dengan handuk kecil yang diberikan Rani padanya. “Aku pamit dulu ya, Ran. Makasih sarapannya. Nanti aku kabarin kalau ada jadwal long haul, biar aku bawa oleh-oleh yang banyak buat kamu.”
"Nggak usah repot bawa oleh-oleh segala, ah!" Rani mengambil kembali handuk kecil dari tangan Gavi. “Hati-hati di jalan, Gav. Makasih juga sudah bantu aku cuci piring.”
Tangan Gavi terulur untuk mengusap puncak kepala Rani. “Sampai nanti, ya. Selamat beristirahat.” Lalu, ia berjalan keluar, menutup pintu dengan pelan dan masuk ke mobilnya.
Setelah pintu rumah Rani tertutup rapat, rumah kecil itu kembali terasa hening dan sepi. Gadis itu melangkah ke kamar. Lalu tatapannya refleks tertuju ke meja yang terdapat sebuah paperbag. Seketika, seluruh napasnya tercekat ketika melihat paperbag itu. Paperbag yang Arka berikan beberapa hari yang lalu, dan Rani belum berani menggunakan 10 benda yang ada di dalam sana.
Tiba-tiba air mata Rani jatuh, deras, tanpa bisa ia tahan lagi. Ia duduk di tepi ranjang, meraih satu kotak tespek dan memandanginya. “Aku … aku udah nggak suci lagi,” gumamnya di antara isak.
Kata-kata itu otomatis keluar seperti pisau yang menusuk-nusuk hati Rani. “Sepertinya aku nggak pantes buat pria sebaik Gavi. Dia pantas mendapatkan gadis yang suci.”
Rani membuang kotak tespek, lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangan, isak tangisnya makin menjadi. Perasaan malu, takut, dan penyesalan berkecamuk saat mengingat kenangan malam itu panas itu dengan sangat detail dan ia sangat menyesal telah memberi sesuatu yang tak bisa ia ambil kembali kepada Arka.
Di sudut pikiran Rani, ada rasa lelah yang dalam, yaitu lelah menunggu, lelah berharap, dan lelah mencintai seseorang yang tak pernah menganggapnya ada. Namun, di balik tangisan itu, ada pula bisik kecil yang mengatakan bahwa cinta yang tulus itu tidak memandang soal ‘kesucian’ dan ia berhak mendapatkan kebahagiaan.
Rani kembali menatap tespek yang tergeletak di lantai. Ia tahu harus segera menggunakan alat itu untuk mendapatkan kepastian. "Sekarang, ya?"