Dengan langkah gontai, Rani keluar dari kamar mandi. Di tangannya, ada gelas kecil berisi urin miliknya sendiri. Cairan itu seolah jadi simbol dari ketakutan yang tak bisa ia buang begitu saja. Gadis itu meletakkan gelas kecil di atas meja rias, ia menatapnya lama, karena benda itulah yang akan menentukan bagaimana masa depannya. Tangan Rani terulur hendak mengambil satu kotak tespek, tapi tangannya segera ia tarik kembali dan tubuhnya gemetar hebat karena menangis lagi. “Kenapa aku nggak punya keberanian?” bisiknya parau. “Padahal tinggal celupin aja … tinggal nunggu sebentar … tapi aku … aku takut banget.” Rani menutup wajah dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang oleh isakan. Gelas kecil itu membuat suasana kamar terasa kian menyesakkan. Setiap kali menoleh, ia merasa seakan

