Malam sudah larut ketika Rani tiba di rumah. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian penuh bekerja dan menahan rasa cemas sejak kejadian di lorong belakang ruang briefing tadi. Begitu masuk, ia menyalakan lampu ruang tengah yang redup, menaruh tas kerja di kursi, lalu segera menuju dapur. Dengan gerakan otomatis, ia mencuci beras, memasak nasi dengan magicom, menggoreng telur, dan menumis sayur. Sambil menunggu nasi matang, ia bersandar di kitchen zink. Tak lama kemudian gadis itu duduk sendirian di meja makan kecil, menyuapkan makanan dengan tenang. Setiap kunyahan terasa hambar, karena pikirannya sibuk melayang buana. Tentang Arka, tentang tatapan pria itu, dan juga suara pria itu yang terus bergema di kepalanya. Setelah makan, ia membereskan meja, mencuci piring, sendok dan gelas, lalu

