Chapter 11. Cinta Menjadi Benci

1299 Kata

Pukul tiga pagi, Rani membuka pintu kamarnya perlahan. Begitu melihat Arka tidur di sofa, ia hanya bisa menggeleng. Dasi seragam Arka terlepas, seragam pilotnya kusut, dan koper hitamnya teronggok di lantai. Napas teratur, tetapi alisnya sesekali berkerut seolah bahkan dalam tidur pun pikirannya tetap bekerja keras. Rani berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menatap cermin — mata sayunya menatap balik, penuh cemas. Ia menggosok gigi tergesa-gesa, seakan ingin cepat menyelesaikan ritual paginya. Tangan gemetar ketika ia mengambil wadah kecil dan menampung urin pagi pertamanya dengan sangat hati-hati. Ketika keluar, ia menemukan Arka masih terlelap, satu lengan menutupi dahi. Rani berdiri sejenak, menimbang apakah perlu membangunkannya atau tidak. Tapi akhir

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN