Kenyataan yang Rio ketahui beberapa saat yang lalu mampu membuat hati pemuda itu perih. Sedih, gelisah, dan merasa terkhianati menggerogoti batinnya. Satu jam yang lalu, dia sengaja berkunjung ke rumah keluarga Anggara. Awalnya dia ke sana hanya ingin bertemu Putri dan menyelesaikan pengakuan dirinya tempo hari. Namun, kejadiannya yang dia dapat tidak sesuai ekspetasi. Saat itu, Rio sudah sampai di depan rumah gadis yang entah sejak kapan perasaan aneh itu tumbuh. “Kak Rio?” Putri tampak terkejut dengan kedatangan seniornya yang tiba-tiba ini. Keduanya duduk di depan teras. Awalnya Putri meminta Rio untuk masuk ke dalam rumah, namun pemuda itu menolak. “Hai, Put,” sapa Rio dengan senyum canggung. “Hai, Kak. Kak Rio ada apa?” tanya Putri langsung. “Sebenarnya gue mau ajak lo jalan,”

