Chapter 7

1433 Kata
Kampus tempat Putri belajar kini tampak ramai. Banyak stand-stand makanan dan minuman yang di didirikan di sini. Event tiga bulanan kali ini sepertinya berlangsung dengan meriah terbukti dari antusiasme mahasiswa yang ikut meriahkan acaranya. Vando dan Ano dkk tampak tersenyum senang dengan acara mereka yang sudah dipastikan akan berjalan lancar, setidaknya pagi ini langit sangat mendukung sekali.  “Itu bocah ke mana sih? Lama amat njir,” kesal Rio menanti kedatangan Putri yang sejak tadi batang hidungnya tidak terlihat. Rio gelisah jika tiba-tiba saja Putri tidak jadi ikut. Haruskah latihan yang mereka lakukan terbuang sia-sia?  “No, si Putri mana?” tanya Rio kepada Ano yang saat itu kebetulan lewat.  “Entah. Gue nggak bareng dia tadi. Palingan dia diantar Pak Bambang.”  “k*****t. Gue telfonin nggak diangkat lagi. Jangan-jangan adik lo kabur lagi. s**l, seharusnya kalau nggak mau tampil ya bilang dari awal. Haduh, pusing gue.”  “Suuzan aja lo sama adik gue. Adik gue bukan termasuk orang yang lo sebutin barusan. Tenang aja, dia pasti datang. Biasalah cewek lama kalau urusan persiapan gini.”  “Hmmm. Yaudah deh lo urus BEM, gue mau persiapan. Perintah Rio yang langsung pergi ke gerbang guna melihat Putri sudah datang atau tidak.  “Itu bocah parah amat. Sudah jam 8 lagi. s**l, bentar lagi tampil.”  Rio sudah kalang kabut menunggu Putri yang tak kunjung datang. Akhirnya dia pasrah dan memilih untuk kembali masuk ke dalam. Biarlah dia akan bermain solo kali ini meskipun peraturannya harus duet.  “Sorry, Kak, telat.”  Tiba-tiba saja kedatangan Putri mampu membuat Rio bernapas lega.  “Lama amat. Gue kira lo melarikan diri,” cibir Rio.  “Jahat banget. Aku nggak bakal lari dari tanggung jawab,” balas Putri tak terima atas tuduhan seniornya ini.  “Hahaha, ok deh.”  Katakan atau tidak sama sekali. Semalam, Rio sudah berkonsultasi dengan Samuel kakaknya. Menanyakan perihal kegelisahan hatinya dan mencari jawaban atas kegelisahan itu. Jika Rio boleh memilih, dia tidak akan mau jatuh hati kepada gadis yang sudah memiliki kekasih. Dia tak ingin dicap sebagai perusak hubungan orang alias PHO.  “Katakan atau tidak sama sekali. Tak peduli dia sudah punya kekasih atau tidak, yang terpenting ungkapkan semua perasaan lo ke dia.”  “Tapi, Kak, gue nggak punya keberanian untuk itu. Gue takut keadaan kita akan berbeda setelah gue jujur sama dia perihal perasaan gue. Dan yang terpenting, gue takut dia memilih menjauh.” Rio mencoba membantah segala opini dari kakak satu-satunya itu.  Samuel memang sudah memiliki pengalaman dalam kisah cinta. Meninggalkan atau ditinggalkan merupakan hal yang sudah biasa bagi dirinya. Penerima dan penolakan dalam soal perasaan memang sudah hal yang biasa juga bagi dirinya. Tak peduli apa hasil akhir yang akan dia dapat, yang terpenting baginya adalah ungkapkan semuanya sebelum kata terlambat itu datang. Samuel sudah merasakan ditinggalkan di saat dirinya tak mampu mengungkapkan perasaannya sendiri. Terlalu egois dan gengsi yang membumbung tinggi.  “Put.”  “Ya?”  Rio menggenggam satu tangan Putri dengan tatapan serius. Putri pun tak kalah seriusnya dengan tatapan Rio juga saat ini.  “Gue mau bilang sesuatu.”  “Bilang apa, Kak?”  “Sebenarnya gue … gue … gue ….”  Anjir, susah banget jujur sama diri sendiri.  “Putri? Rio?” Kedatangan Vando merubah suasana menjadi berbeda. Dan tangan yang tadinya sempat tergenggam oleh Rio, kini sudah terlepas. Senyum di wajah Putri terbit dengan manisnya, begitu juga dengan Vando.  “Kak Vando, ada apa, Kak?” tanya Putri memastikan bahwa Vando tidak melihat tindakan Rio barusan.  “Nggak ada, aku cuma mau lihat kamu sebelum tampil. Kamu cantik banget hari ini. Jadi iri,” kata Vando sedih.  “Iri?”  “Iri sama mereka yang bisa lihat kecantikan kamu. Jadi nggak rela berbagi,” ucap Vando lesu.  “Ihhh Kak Vando apaan sih.” Putri tampak malu-malu sambil mencubit gemas lengan Vando. Dan yang dianiaya hanya bisa tertawa ringan karena sudah berhasil membuat Putri tersipu malu.  “Eh? Kalian kok saling kenal?” Tidak mau seperti kambing congek, Rio memilih mengangkat suara. Melihat interaksi keduanya yang seperti sudah kenal lama, mampu menimbulkan berbagai pertanyaan di kepala Rio. Terlebih ketika melihat Vando yang terkenal dingin bisa tertawa hanya dengan Putri. Kejadian langka.  “Eh, sorry, Yo, lupa gue kalau ada lo.”  “Hmmm.”  “Kak Rio kenalin ini –“  “Nggak perlu kenalan kali, Put. Gue tau dia itu Vando.” Potong Rio.  “Ehehe iya.” “Kebiasaan kamu ish.” Vando gemas dan susah untuk tidak mencubit pipi Putri yang gembul.  Aku-kamu??  Pertanyaan aneh muncul di kepala Rio. Keduanya terlihat seperti dekat. Tapi iya juga sih karena Vando adalah sahabat Ano jadi menjadi hal mustahil jika keduanya tidak dekat.  “Ya sudah ya aku mau balik lagi bantu teman-teman. Semangat tampilnya.” Vando menunjukkan kepalan tangannya sebagai bentuk penyemangat untuk Putri. Dan gadis itu tersenyum senang.  “Terima kasih, Kak.”  Setelah kepergian Vando, kini giliran Rio dan Putri untuk tampil di depan. Keduanya tampak memakai pakaian yang serasi. Setelan kemeja yang Rio gunakan tampak pas sekali dengan dress yang digunakan Putri. Rio tampak bersiap-siap menyiapkan gitar, sedangkan Putri tampak sedikit gugup karena dia jarang sekali tampil di muka umum.  “Santai. Jangan gugup. Anggap saja kita seperti latihan biasa, hanya berdua tanpa adanya mereka.” Kata-kata penguat dari Rio sedikit meredupkan kegelisahan gadis itu. Mungkin untuk sesaat. Rio memulai intro pertamanya. Lagu I’m Gonna Lose You yang dibawakan Meghan Trainor ft John Legend menjadi pilihan keduanya.  I found my self dreaming in silver and gold. Like a scene from a movie that every broken heart knows. We were walking on moonlight you pulled me close. Split second and you dissapeared and then was alone. Woke up in tears with you by my side. A breath of relief and I realized. No one will promise tomorrow.  So, I’m gonna love you like I’m gonna lose you. I’m gonna hold you like I’m saying goodbye. Forever will stay in, I won’t take you for granted. ‘Cause we’ll never know it when we’ll run out of time. So, I’m gonna love you like I’m gonna lose you. I’m gonna love you like I’m gonna lose you.  Putri larut dalam nyanyiannya, seakan lagu ini gambaran atas dirinya saat ini. Ya, Putri merasakan begitu mencintai Vando seakan dirinya akan kehilangan laki-laki itu. Penonton pun ikut larut dalam lagu ini. Hingga suara emas Rio mampus membius mereka juga.  In a blink of an eye, Just a whisper of smoke. You could lose everything. The truth is you’re never alone. So, I’ll kiss you longer baby. Any chance that I get. I’ll make the most of the minutes. So long with no regret. Let’s take our time to say what we want. Here’s what we’ve got.  Before it’s all gone. Cause no one will promise tomorrow.  Lirik demi lirik Rio resapi dan dia ungkapkan dengan sepenuh hati. Sengaja dia memilih lagu ini sebagai bentuk pengungkapan perasaannya. Biarlah dia gagal tadi, mungkin dengan lagu ini Putri bisa tau perasaannya. Ingat, lagu adalah salah satu bentuk pengungkapan perasaan.  So, I’m gonna love you like I’m gonna lose you. I’m gonna hold you like I’m saying goodbye. Forever will stay in, I won’t take you for granted. ‘Cause we’ll never know it when we’ll run out of time. So, I’m gonna love you like I’m gonna lose you. I’m gonna love you like I’m gonna lose you.  I’m gonna love you like I’m gonna lose you. I’m gonna hold you like I’m saying goodbye. Forever will stay in, I won’t take you for granted. ‘Cause we’ll never know it when we’ll run out of time. So, I’m gonna love you like I’m gonna lose you. I’m gonna love you like I’m gonna lose you.  Hingga keduanya menyanyikan lirik bersama, penuh dengan penghayatan, dan di akhiri dengan tepuk tangan meriah dari penonton. Kali ini, kedua kedua pasangan ini sukses membuat acara menjadi meriah dan baper tentunya. Dari kejauhan Vando bisa merasakan jika temannya itu memiliki perasaan kepada tunangannya itu. Semua pun bisa menebak jika Rio menyukai Putri, terlihat jelas dari tatapan laki-laki itu. Lantas, apakah Vando akan tinggal diam?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN