Chapter 6

1320 Kata
Putri tampak dongkol hari ini. Sepanjang perjalanan menuju kampus, gadis itu hanya diam membisu dan selalu menampilkan wajah kusutnya. Ano sedikit meringis dan bingung dengan mood adiknya pagi ini. Dia rasa pagi ini langit tampak cerah dan tidak menunjukkan awan hitam, akan tetapi sikap Putri malah sebaliknya. Ingin bertanya tapi sedikit takut, takutnya gadis itu sedang dalam masa bulanan. Tahu bagaimana perempuan ketika sedang masanya bukan? Bak singa yang tidak mau diganggu dan disentuh. Bahkan hingga keduanya telah sampai di kampus, tidak ada pembicaraan sama sekali. Lebih tepatnya Ano tidak ingin membangunkan sang singa yang telah siap menerkam dirinya hidup-hidup. Ano masih ingin hidup dan tidak ingin mati berdiri.  “PUTRI.”  Hingga tiba-tiba kehadiran Rio yang sedikit berlari ke arah keduanya mampu membuat hati Ano sedikit lega sementara. Setidaknya dia tidak sendirian menghadapi si singa. Untuk saat ini.  “Apa?” jawab Putri ketus tanpa mau menengok ke arah Rio.  Rio meringis dan dia tau dirinyalah yang bersalah dan sudah sepatutnya dia meminta maaf. “Gue minta maaf, soal kemarin … gue ada urusan yang emergency banget. Jadi, gue batalin janjian,” jelas Rio.  Ano mengernyit bingung hingga segalanya seolah berjalan di otaknya, sehingga dia menyimpulkan jika adiknya ini tengah dalam keadaan marah kepada Rio. Jadi, Rio lah penyebab adiknya bersikap aneh pagi ini. Ano kira Putri dalam masa bulanan. Gadis-gadis memang aneh.  “Kak Rio sudah merusak semuanya. Kemarin, aku dan mama sudah siapain semuanya. Tapi, Kak Rio nggak datang. Aku kesal. Auk deh.” Setelah mengatakan isi hatinya, Putri memilih pergi meninggalkan kedua laki-laki itu dengan Rio yang meringis serta Ano yang bingung.  “Aduh, gue salah ya?”  “Jelas lo salah b**o,” cibir Ano, “jadi gara-gara lo dia bersikap aneh pagi ini? Anjir lo. Lo hampir buat gue jantungan k*****t,” kesal Ano.  “Lah? Kok gue?”  “Sepanjang jalan ke kampus, itu makhluk nggak bicara sama sekali dan lo tau muka dia macam apa? Kayak singa yang sudah siap nerkam mangsa hidup-hidup. Ngeri anjir.”  “Tunggu. Kenapa lo berangkat bareng Putri?”  “Dia adik gue.” Seketika Rio terbelalak kaget dengan pernyataan Ano.  “Ha? Adik? Seriusan lo?”  “Sepuluh rius malah.”  “Gue kok baru tau. Jangan-jangan lo bohong?” Curiga Rio.  “Mana mungkin gue bohong soal keluarga gue.”  “Tapi gue nggak –“  “Nggak pernah lihat Putri di Keluarga Anggara?” tebak Ano dan dibalas anggukan oleh Rio.  “Jelaslah. Dia kita sembunyiin. Eh ralat, maksudnya dia sengaja nggak kita publish,” jelas Ano.  “Kenapa?” Rio tampak penasaran dengan keluarga Ano yang kaya raya akan tetapi malah menyembunyikan gadis manis seperti Putri. Bukankah itu hal aneh?  “Panjang ceritanya. Yang jelas, dulu dia pernah diculik oleh rekan bisnis papa dan untungnya kita bisa selamatin dia.”  “Wah parah.”  “Ya begitulah. Dia itu berharga di keluarga gue dan maka dari itulah kita nggak mau dia kenapa-kenapa dia.”  “Hmmm iya juga sih. Secara keluarga lo itu terkenal dan kaya raya. Siapa sih yang nggak mencoba menjatuhkan keluarga lo yang selalu harmonis. Kalau gue jadi lo sih, gue bakal lakuin hal yang sama. Gue akan selalu jagain dia.”  “Lo suka sama Putri?” tanya Ano tiba-tiba.  “Ha?” Rio tentu saja terkejut dengan pertanyaan dari temannya itu. “Gue tau lo suka dia. Kelihatan kali di mata lo itu.” Rio menggaruk kepalanya salah tingkah. “Ya, lo tau sendiri gue nggak pernah suka sama anak kampus. Ini baru pertama kali, No.”  “Iya juga sih. Tapi, Yo. Gue saranin lo mundur.”  “Maksud lo? Lo nggak mau gue deket sama Putri?" “Bukan. Saingan lo berat.”  “Putri sudah punya pacar?” tebak Rio sedikit merasakan sakit di dadanya. Haruskah cinta bertepuk sebelah tangan? Lagi?  “Bukan pacar,” kata Ano mendekat ke telinga Rio untuk membisikkan satu kata sakral, “tapi tunangan.”  “WHAT?”  Tunangan? Bagaimana bisa dia punya tunangan? Siapa tunangan dia?   Berbagai pertanyaan muncul di otak Rio. Entah bagaimana, setelah mengatakan kebenaran itu, Ano tiba-tiba pergi dan sayangnya Rio belum sempat bertanya siapakah tunangan gadis itu. Ya, gadis bernama Putri itu perlahan-lahan sudah mengambil hati seorang Rio meskipun laki-laki itu mencoba menyangkalnya. Setidaknya jangan sampai perasaan ini tumbuh semakin dalam sebelum semuanya jelas.  “Woi! Ngelamun aja lo, Yo.” tegur Vando kepada Rio yang tengah melamun di koridor kampus.  “Vando. Ngagetin aja lo,” kesal Rio.  “Yaelah muka lo kesal banget kayaknya.”  “Hmmm.”  Terjadi keheningan di antara keduanya. Rio yang sibuk dengan segala argumennya dan Vando yang sibuk membalas chat dari Putri. Keduanya masih intens berkomunikasi via chat.  “Apa yang bakal lo lakuin ketika lo tiba-tiba saja punya perasaan ke satu cewek dan sayangnya cewek ini sudah punya cowok,” kata Rio tiba-tiba dan membuat Vando sedikit bingung dengan maksud perkataan Rio. Kenapa tiba-tiba Rio bicara tentang cewek? Apakah yang dia maksud adalah Putri?  “Maksud lo?”  “Nggak jadi. Lupain. Gue cabut dulu, Van. Ada kelas Pak Hasan.”  Rio saat ini memilih untuk mengikuti kelas dulu, mungkin saja pikirannya bisa beralih dan sedikit melupakan fakta baru yang ia dapat. Tunangan? Sampai saat ini Rio tidak menyangka gadis seperti Putri sudah mempunyai hubungan sejauh itu. Haruskah ia menyerah?  I woke up in tears with you by my side A breath of relief and I realized No, we’re not prromised tomorrow So, I’m gonna love you like I’m gonna lose you I’m gonna –  “Kak Rio! Dari tadi salah mulu nadanya ish.” Putri tampak kesal dengan Rio pasalnya laki-laki itu selalu salah memainkan nada gitar. Dia tampak tak fokus. Dan fokusnya terbelah karena Putri.  “Sorry, kita coba lagi.”  “Nggak! Mood Putri sudah nggak ada.” Putri pergi meninggalkan Rio dengan perasaan dongkol. Kemarin sudah batalin latihan dan sekarang Rio salah memainkan gitar. Putri kesal sekesal kesalnya kepada Rio.  “Put.” Rio mencoba mengejar gadis itu.  “Apa?” jawabnya ketus.  “Gue minta maaf. Maaf buat yang kemarin dan hari ini juga,” kata Rio penuh dengan penyesalan. Akhirnya Putri tidak tega melihat Rio memohon seperti ini kepadanya. Meskipun begitu, Putri masih memiliki hati nurani.  “Sebenarnya Putri sudah maafin. Putri itu nggak suka sama orang yang suka ingkar janji apalagi yang tiba-tiba batalin janji ketika sudah di akhir. Putri tuh paling kesal sama orang yang begitu. Terus yang tadi, kenapa Kak Rio nggak fokus? Kenapa Kak Rio selalu salah mainnya? Kemarin sudah nggak jadi latihan, dan sekarang Kak Rio mainnya nggak benar. Ini kita bisa kalah loh, Kak.” Unek-unek Putri pun dia keluarkan. Tidak salah jika dia kesal, dan itu wajar.  Alasannya hanya satu, gue mikirin lo, Put.  Andai Rio bisa mengucapkan kalimat itu, dan yang keluar adalah, “Gue mikirin mama.” Tukang bohong, itulah Rio. Tidak mau jujur dengan diri sendiri. Munafik.  “Mama Kak Rio kenapa?”  “Mama sakit. Kemarin dia masuk rumah sakit, maka dari itu gue nggak jadi ke rumah lo.”  “Astaga. Maaf, Putri nggak tau,” kata Putri bersalah karena sejak tadi dia terus menerus menyalahkan Rio tanpa tahu bagaimana keadaan laki-laki itu.  “Iya nggak apa-apa. Gue juga salah karena nggak ngabarin lo kemarin.”  “Iya, Kak, nggak apa-apa. Putri doakan semoga mamanya Kak Rio cepat sembuh.”  “Amin. Terima kasih.”  “Sama-sama. Ya sudah latihan hari ini cukup sampai di sini saja, Kak. Mending Kak Rio temenin mamanya kakak.”  “Lo? Seriusan nggak apa-apa?”  “Iya, Kak, udah deh sana pergi.”  Putri menatap kepergian Rio dengan hati gelisah dan khawatir. Memikirkan bagaimana keadaan Rio yang ditimpa musibah. Putri pernah merasakannya, di mana Lili saat itu tengah terbaring di rumah sakit akibat penyakit vertigo yang diderita sang mama. Putri saat itu sedih melihat orang yang sangat ia sayangi terbaring lemah. Dan Rio pastinya juga begitu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN