Permainan Detektif

830 Kata
Dara merasa dirinya sedang bermain detektif-detektifan saat ini. Ia mengikuti kemanapun lelaki itu pergi. Dari mall tempat pertemuan mereka, sampai sekarang. Stalker? Dara bahkan tidak pernah menguntit lelaki sebelumnya. Entah mengapa, lelaki di mall itu membuat jantungnya tidak tenang, hingga tak mungkin diabaikan. Dara memandang lembut lelaki yang tengah tertawa dengan beberapa lelaki yang tampak seperti rekan kerjanya. Dari balik kaca mobil, ia tersenyum manis melihat tawa lelaki itu. Jantungnya tidak dapat berdetak dengan normal semenjak pertemuannya dengan lelaki itu. Apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? Cinta atau sekedar ketertarikan fisik aja? Matahari sudah mulai tenggelam, Dara masih mengikuti lelaki itu layaknya seorang penguntit profesional yang sudah terlatih dalam hal menguntit. Mengejar lelaki itu adalah rutinitas baru baginya. Mobilnya berhenti di sebuah bar yang terletak di tepi pantai, Dara bahkan sudah tidak tahu sampai kapan ia harus mengikuti lelaki itu. Ia turun dari mobil dan masuk ke dalam bar. Ia akan mencoba mendapatkan nomer ponsel lelaki itu, agar tidurnya tenang malam ini. Mustahil bagi Dara untuk terus menguntit lelaki yang bahkan namanya saja ia tidak tahu. Dara duduk di meja bartender, berjarak beberapa kursi kosong dari tempat lelaki itu duduk. Ia tidak bisa berada di dekat lelaki itu karna merasa memiliki penyakit jantung yang membuat hatinya tak tenang. Ia hanya bisa menggenggam erat segelas beer di hadapannya dan tak mampu melepaskan pandangan dari lelaki itu. Aku menginginkanmu dan akan mendapatkanmu! Apa yang salah denganmu, wahai jantung? Dara merutuk dirinya sendiri dalam hati. Lelaki di seberang sana tampak stress dan sedih saat ini. Tawa yang tadi siang ditunjukkan pada rekan kerjanya menghilang begitu saja. Tatapan mata sayu itu membuat Dara semakin ingin mendekat dan memeluk erat tubuh lelaki yang berhasil membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Lelaki itu berdiri sambil membawa sebotol beer dan berjalan keluar menuju balkon bar. Dara tidak dapat menghentikan kaki yang ingin mengikuti lelaki itu. Balkon milik bar ini terbilang sepi, banyak orang yang lebih memilih menikmati malam dengan minum dan musik keras di dalam sana. Tempat ini adalah satu-satunya bar bernuansa rumah panggung yang terletak di tepi pantai Ancol, Jakarta Utara. Konsep yang diambil cukup unik, karena tidak seperti bar biasanya yang didesain secara modern, namun tempat ini terkesan klasik dan sederhana dari luar, namun tidak dengan interior dalam yang terlihat cukup mewah.  Angin laut menerpa wajah Dara. Aroma asin mulai menguasai indera penciuman. Walaupun lelaki itu berdiri tidak jauh darinya, tetapi ia tidak bisa melakukan apa pun selain memandang. Lelaki itu bahkan tidak menyadari kehadirannya, Dara seakan menyatu dengan angin yang menerpa wajah tampan lelaki itu. Ada tapi tidak dapat disadari keberadaannya. Lelaki itu menyandarkan tubuh pada pagar balkon yang terbuat dari kayu, ia mengarahkan pandangan ke langit, seakan menerawang jauh ke atas sana. Dara mengikuti arah pandang lelaki itu. Bintang-bintang kecil mendominasi langit malam ini. Terasa begitu aneh bagi Dara, perasaan asing yang membuat hatinya sesak tanpa sebab. Ia tidak mengerti, bagaimana bisa ia merasa begitu bahagia hanya dengan memandang wajah lelaki itu dari kejauhan. Byyuurr Dara menoleh ke arah lelaki itu saat mendengar suara sesuatu yang terjatuh ke dalam air. Wanita itu membuka lebar kedua mata saat tidak melihat lelaki itu lagi di sampingnya, lalu Dara mengalihkan pandangan ke laut di bawah mereka. “Damn! Kenapa lelaki tampan kayak kamu mau bunuh diri?” Dara berteriak frustasi. Tanpa berpikir panjang lagi, ia melompat ke dalam laut dan menyelamatkan lelaki pujaannya. Ia menyelam untuk mencari sosok lelaki itu, semakin dalam, dan semakin dalam. Pada akhirnya, ia menemukan lelaki itu, tampak tidak sadarkan diri dan memejamkan mata. Dara berenang mendekati tubuh lelaki itu dan menempatkan bibirnya pada bibir lelaki itu, mencoba membagi sedikit oksigen yang masih dimilikinya. Bibir mereka saling bertemu. Dengan perlahan, lelaki itu membuka matanya. Mereka saling berpandangan dan dengan susah payah Dara membawa tubuh lelaki itu ke permukaan. Saat sudah berada di tepi, Dara menekan d**a lelaki itu berulang kali, dan memberikan oksigen ke dalam mulutnya. Beruntung, ia pernah belajar cara penyelamatan pertama di saat keadaan darurat, bantuan pernapasan adalah hal yang dikuasainya dulu. Dara sengaja memilih mahasiswa tampan untuk menjadi partner latihannya. Sekarang semua itu ada manfaatnya.  Lelaki itu terbatuk, air keluar melalui mulutnya. Dara bernapas lega saat melihat lelaki itu membuka matanya, namun tidak lama mata itu terpejam kembali. Dara membaringkan tubuhnya di samping lelaki itu, mencoba mengatur napas dan detak jantungnya. “Kenapa kamu mau bunuh diri?” Dara berkata lirih dan mengusap pipi lelaki itu. Lelaki itu bernapas walau memejamkan mata. Dara segera berdiri dan berlari sekencangnya untuk mencari pertolongan bagi lelaki asing itu. Beberapa orang mulai mendekati Dara dan dengan sigap wanita itu mengajak kerumunan orang itu untuk segera membawa tubuh lelaki asing itu pergi ke rumah sakit. “Sudah saatnya aku meninggalkanmu, tapi kita pasti akan bertemu lagi,” Dara berbisik ke telinga lelaki itu dan mengecup bibirnya. Dara tidak peduli apakah pekerjaan atau siapakah nama lelaki itu? Yang ia tahu, lelaki itu telah membuat jantungnya menjadi aneh. Lelaki itu akan menjadi alasannya melanjutkan hidup dengan semangat. Ia menginginkan lelaki itu dan tidak peduli jika lelaki itu tidak menginginkannya. Ia berjanji dalam hati bahwa ia akan memenangkan hati lelaki asing itu. Mendapatkan cinta dan membuat lelaki itu mencintainya juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN