Robert membelai puncak kepala Rose penuh kasih, ia menatap Rose dengan sendu. Robert menggenggam tangan Rose dengan erat. Selama ini Robert tidak tahu apa yang telah Rose alami, hanya rasa benci yang ia rasakan saat Rose meniggalkannya. Hari ini semuanya telah terungkap, tetapi apa yang bisa Robert lakukan. Robert tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi, bukan? Robert turut merasakan sakit yang sama sepeti apa yang Rose rasakan selama ini. Rose, wanita itu sedari tadi belum membuka mata, membuat Robert khawatir dan tidak sanggup pergi dari sisi wanita itu. Apalagi Robert tidak tahu tinggal dimanakah Rose selama ia tinggal di Jakarta. “Ibu Rose mengidap kanker darah stadium akhir… mungkin waktunya tidak lama lagi, pingsan kali ini hanya karena ibu Rose terlalu capek, tolong biarkan di

