Mulai dekat

1772 Kata
Dari kejadian tadi, bang Tanjung jadi sering merhatiin aku. Yeee bukannya sok kecantikan, tapi emang ya tiap dimana pun aku berada dia juga selalu ada. Aku aja sampek heran. Dan senyumnya itu looohhh seakan gak mau pergi kalo' kami tak sengaja saling bertatapan. Aku jadi risih sendiri, niat ku dari awal memang murni dinas tanpa mau Te-Pe Te-Pe pada lawan jenis. Karena dari cerita yang pernah ku dengar niihhh, anak Akper yang laki-laki itu bisa punya pacar lebih dari 1. Dan disaat-saat dinas beginilah mereka menebarkan rayuan-rayuan tissue_nya yang receh itu. Makanya, sejak awal aku sudah berusaha membentengi diri, supaya tak mudah termakan rayuan cacing tuh para serigala berbulu ayam. Ku perhatikan juga semenjak di ceramahi panjang lebar oleh kakak pegawainya, dia tak pernah lagi kabur-kaburan. Slalu ada di tempat, dan stand by kalau sedang dibutuhkan tenaganya. Seperti saat ini, aku sedang bercengkrama dengan adek-adek tingkat 1 dari salah satu Akbid. Ku utarakan kalau sebenarnya cita-cita ku sejak awal ingin menjadi seorang bidan. Tapi, jalannya malah diberi rezeki kuliah bagian keperawatan. Bukannya tidak bersyukur, bersyukur buanget malah. Bisa merasakan kuliah di salah satu universitas bergengsi dan terbesar di Sumatera Utara, berasa mimpi tau gak sih??? Mungkin menurut klen, aku ini berlebihan. Tapi, bagi otakku yang pas-pasan, ini suatu keajaiban cuuuyyy. Universitas Sumatera Utara gitu looohhhh... Dulu gak pernah punya mimpi bakalan mengenyam pendidikan di kampus terbesar se_SUMUT ini. Pernah kemari, duluuuuuu kali waktu masih kecil, kira-kira pas SD kayaknya. Wisudanya tulang ku, tepatnya adek mamakku. Ngelihat tulang ku keluar dari gedung auditorium yang besar itu, bersama ratusan mahasiswa yang lainnya itu berasa "Waaaahhhhh" gitu. Ehh ternyata, eyke juga dapat rezeki bok bisa ngerasain jadi mahasiswi disini. Alhamdulillah wa syukurillaaahhh ya Rabb. Lagi enak-enaknya cerita nih yeee, tetiba aja tuh si Abang hencem ikutan nyeletuk, "Gak usah percaya, dek...! Bohong itu..." Ujarnya sambil tertawa bersama kawannya dan ada juga anak Akper lainnya yang laki-laki, berdiri bersisian dengannya. Ku balas dong, "Sibuk kali, klen!! Nyambuuunnggg aja, dah kayak wayar sambong!" Sinisku. Tiba-tiba kawannya yang pakek kacamata, mendatangi kami. Berdiri tepat disamping ku sambil berucap, "Kakak ini pun barunya dek, ngerasain dinas lapangan. Kalo' mau nanya sama Abang, dek. Kalo' kami dah sering kali dinas kekgini, sangkingkan seringnya sampek hapal seluruh ruangan yang ada di rumah sakit ini" Jawabnya jumawa. "Eleehhh... Sombrong!" Ejekku. "Gak caya, adek??? Boleh adek tanya sama pegawainya, anak Akper Wira dah sering y kak dinas disini?!" Ujarnya lagi. "Gak perlu!!" Kesel aku lihatnya. Sementang lah udah tingkat 3, jadi sombong lah dianya. Taulah awak ini yang juga baru dinas lapangan, tapi apa salahnya coba saling tukar cerita tentang pengalaman dinas masing-masing?!. Disaat kami masih membasah yang gak perlu di bahas, kawannya -siapa lagi coba kalo' bukan bang Tanjung- malah ngomong, "Ehh Her, ku perhatikan kok mirip klen? Sama-sama pakek kacamata pula' itu. Nanti jodoh yang di pertemukan klen, gak??" Ucapnya. Tiba-tiba... Cekrik Aku melotot ke arahnya, tanpa minta izin, minta maaf, minta tolong, atau minta makan sekalipun, dengan tidak sopannya dia sudah memotret diriku bersama temannya tadi yang masih setia berdiri disampingku. Baru kemudian dengan wajah songonggnya dia berjalan menghampiri kawannya sambil menunjukkan hasil bidikannya tadi. "Ehh iya dek, mirip rupanya kita looohhhh... Hehehe" Senang kali orang ini berdua ketawa yaaa!! Kesel aku!! "Kirim ke hp ku wan, biar jadi kenang-kenangan. Manataunya betol ya kaaaannnn... Jodoh kita dek, ini bisa jadi foto prewed kita nanti" Cengirrnya. Preeetttt... Ogah!!! Ku palingkan mukak ku ke arah lain, males liat kelakuan gak bermutu nih bedua orang. "Dek, jangan cemberut napa mukaknya?? Gemezz Abang liatnya, jadi pengen nyubit. Tuh pipi kayaknya empuk kali, tembem kayak pantaat bayi" Kamprett lah!! Nyari gara-gara nih bedua orang!! Tapi, males ahh nanggepinnya, yang ada nanti makin tambah mengkekk pula'. Malam pun makin larut. Waktunya rehat sejenak, mengistirahatkan raga yang seharian tadi sudah beraktivitas. Seperti kata kakak pegawai semalam, kalo' kami yang perempuan bakalan tidur di dalam ruangan Nurse station, sedang yang laki-lakinya tidur dimana pun mereka mau asalkan masih berada di ruangan 9 ini. Kami bergotong royong merapikan ruangan, serta menata kasur untuk tempat kami melepas lelah nanti. Setelah rapi, waktunya rebahan. Aaahhh... nyamannyaaa Satu jam dua jam, masih aman terkendali. Kami pun masih berada di alam mimpi masing-masing. Sampai pada pukul 03.00 tepat, pintu ruangan tempat kami menyemayamkan mimpi di ketuk berulang-ulang. Pertanda kalau yang sedang mengetuk sedang terburu-buru. "Kenapa dek?" Tanya kakak pegawainya. "Ada pasien yang lepas selang NGT nya, kak" Jawab yang mengetuk tadi. Aku pun kurang jelas melihat siapa yang mengetuk, karena ruangan masih dalam keadaan gelap dan juga disaat tidur kacamataku, ku simpan. 'NGT adalah Selang nasogastrik atau Nasogastric Tube (NGT), atau biasa dikenal dengan istilah sonde adalah selang khusus yang dimasukkan melalui hidung melewati tenggorokan lalu kerongkongan dan menuju ke dalam perut (lambung)'. Pemasangan selang nasogastrik atau nasogastric tube (NGT) sering dilakukan untuk memberikan makanan dan obat kepada pasien, atau untuk mengosongkan lambung. Tidak berapa lama, ruangan terang benderang. Rupanya lampu sudah dinyalakan kembali. Barulah terlihat wajah orang yang mengetuk pintu tadi. "Jadi, dah dipasang lagi selangnya??". "Belum kak. Inilah mau ngambil alat dulu, biar dipasang balek". "Siapa yang pande diantara klen masangnya? Itu yang tingkat 3, anak Akper Wira itu kayaknya dah biasa orang tu pasang NGT. Orang itu aja suruh pasang, bisa kan?". "Iya, kak. Rencananya memang Abang itu yang mau masang, kak". "Kok bisalah pula'nya copot?". "Gak tau kami kak. Itu tadi anak koas, kak yang lagi visit, tiba-tiba aja dah ribut orang itu karna lepas selangnya". "Bisalah pula'nya kekgitu. Ck ck ck... ada-ada aja pun" Repet kakak pegawainya sambil menyiapkan alat. Aku langsung sigap berdiri, karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Begitu alat-alat sudah disiapkan, anak dinas yang laki-laki tadi langsung bergegas berlari ke ruang rawat pasien. Kami pun mengekor di belakangnya. Ternyata sampai di ruang rawat, ada sedikit percekcokan antara bang Tanjung dan satu orang koas. Ku hampiri bang Tanjung dan ku tepuk lengannya. Setelah dia melirik ke arahku, ku dungakkan kepala tanda bertanya 'ada apa?'. Mengerti akan kode ku, dia langsung menunjuk ke arah selang NGT yang terlepas. Seketika aku pun melotot ngeri melihat selang tadi, yang sudah ada sedikit bercak darahnya. Sambil agak membungkuk, dia berbisik di telingaku, "Dipaksa". Tambah melototlah mataku, sambil melirik ke arah pasien tersebut dan membayangkan betapa sakitnya yang di rasakannya. Sampek berdarah gitu coba!! Keluarga pasien sempat menolak untuk dilakukannya tindakan pemasangan selang NGT kembali. Mengingat pasien sempat mengeluhkan sakit, apalagi terlihat adanya sedikit bercak darah pada selang tersebut. Kami sempat menanyakan kepada kakak pegawai, bagaimana solusi yang terbaik. Mengingat si pasien makan dan minumnya melalui selang NGT. Masa' iya, pasiennya gak minum-minum satu malaman?? Okelah kalo' makan, besok paginya itu pas sarapan. Akhirnya, sambil menunggu pasien merasa tenang dan nyaman untuk dilakukan pemasangan selang NGT tersebut, kami mencoba mengukur tensi si bapak pasien, karena menurut koas tadi dia hanya bermaksud mengukur tensi si pasien yang sempat menurun. Karena di lihatnya selang NGT tadi agak miring, jadi dia bermaksud membenarkan letaknya. Alhasil bukannya tambah bener, yang ada secara tidak sengaja malah tertariknya dan tercabut sebagian selangnya. Dikira si koas karena hanya sebagian yang tercabut, maka di sorongnya kembali selang tadi ke dalam. Mungkin karena letak posisi pasiennya tidak pas, maka kemungkinan ujung selang tadi menyucuk ke sembarang arah. Jadilah terasa nyeri dirasakan pasien tersebut. Sedang si koas masih berusaha memaksa selang tadi supaya masuk, si pasien merasa tidak nyaman, dan melakukan tindakan pencabutan secara spontan. Heboh dong keluarga pasien, melihat kejadian tersebut. Ributlah jadinya keluarga pasien dengan si koas tadi. Karena terjadi keributan, bang Tanjung dan kawannya yang tidur tidak jauh dari ruang pasien pun merasa terganggu dan berlari ke ruangan tersebut tuk mengecek keadaan. Kami sempat bersitegang juga dengan koas yang membandel tersebut. Dia tetap keukeh, kalo' dia yang akan melakukan tindakan pemasangan selang NGT. Akhirnya ku bilang, "Ya udah, coba Abang lah dulu yang ngukurnya, gimana?". Ku persilahkan padanya untuk melakukan tindakan, sebagaimana yang diketahuinya. Ternyata, dari caranya mengukur panjang selang sudah salah. Yang dilakukannya adalah dengan menarik ujung selang dari hidung ke ulu hati. Kami semua yang melihat langsung protes, karna itu salah. Yang seharusnya dilakukan adalah menarik ujung selang dari hidung mengarah ke telinga dahulu, baru di teruskan ke ulu hati. Mengapa demikian?? Karena selang yang masuk melalui rongga hidung akan melalui tenggorokan juga, baru lurus masuk hingga ke bagian dalam lambung. Kalaulah yang diukur hanya dari hidung ke ulu hati saja, ujung selang akan menggantung tepat di paru-paru. Tidak akan sampai ke saluran dalam lambung. Yang artinya, makanan yang di masukkan akan memenuhi paru-paru, tidak akan sampai ke lambung. Mendengar penjelasan yang demikian, si koas pun mengalah. Apalagi melihat reaksi keluarga pasien yang sudah keberatan, kalau si koas yang melakukan tindakan. Ketika mau mengukur tensi pasien, si koas juga bersikeras dia yang melakukan. Okaaayyyy... kami ngalah. Si koas mengukur tensi, lengkap lagi dengan stetoskop yang nangkring di kupingnya. Saat si koas melakukan tindakan, kami fokus pada jarum sphygmo (alat tensimeter). Sedang jari tangan bang Tanjung menekan pergelangan tangan pasien, merasakan denyutannya. Terlihat jarum sphygmo yang tadinya lancar bergerak, 2 kali tersendat diangka yang berbeda. "Berapa?" Bisik bang Tanjung di telinga ku. "120/80" Jawabku. Dia tersenyum tanda mengiyakan, sambil mengangkat jempol tangannya ke atas. Lalu aku tersentak, tangannya sudah berada di atas kepala ku sambil mengusap-usap. Aku terdiam membeku karena tindakan kilatnya tadi. Yang kulakukan hanya menatapnya sambil berkedip-kedip, bingung. Sedangkan dia tersenyum makin manis di depan ku. Akhirnya, setelah mendapat persetujuan dari pasien, bang Tanjung dan kawannya yang melakukan tindakan pemasangan kembali selang NGT yang baru. Tak sampai 5 menit, tindakan yang dilakukan mereka berjalan lancar dan sukses. Pasien dan keluarganya bisa bernafas lega kembali setelah perdebatan alot antara si koas yang membandel tersebut dengan kami dan keluarga pasien, karena saluran untuk makanan dan minuman si pasien telah dipasang kembali. Aku disini, bukan berarti mau menjatuhkan kredibilitas seorang dokter koas ya weee... Karena kita masih sama-sama dalam tahap belajar, bukan berarti kami merasa bahwa kami yang perawat ini yang lebih baik dari dokter koas. Tidak sama sekali. Antara dokter dan perawat juga merupakan suatu ikatan saling mendukung satu sama lainnya. Karena kita disini rekan kerja, bukan pesuruh atau yang disuruh. Cuma terkadang diantara sekeliling kita, pasti ada tuh satu dari ratusan bahkan ribuan orang sekalipun, pasti ada yang merasa lebih hebat dan lebih pintar. Bukan hanya di kalangan dokter dan perawat saja, dimana-mana juga begitu. Sedangkan anak kembar identik saja, yang sudah jelas-jelas dikandung dalam perut yang sama, bahkan ibu yang sama bisa memiliki sifat yang berbeda. Itulah tadi yang dikatakan dengan EGO. Tiga huruf itu bisa menghancurkan segalanya bila tidak bisa kita kontrol sebaik-baiknya. Maka dari itu, hindari yang namanya berlaku egois, baik tuk diri sendiri apalagi kepada orang lain. Karena itu bisa merugikan bagi diri kita sendiri, bahkan juga orang lain. See Uuuu...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN