Zahra pov
Hari ini aku masuk kerja dengan sangat semangat.
Flashback on
"Hallo, assalamualaikum ma"
"Walaikumsalam Zah"
"Bagaimana kabar mama sama ayah ?"
"Alhamdulillah sehat, kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah sehat ma, ehm ma, ada yg ingin Zahra bicarakan"
"Bicaralah"
"Zahra dilamar oleh Rian ma"
"Alhamdulillah, dia sudah kembali?"
"Sudah kemarin ma, dan tadi dia melamar Zahra didepan keluarganya, Zahra belum memberi jawaban karna Zahra ingin meminta ijin sama mama"
"Semua keputusan ada ditanganmu nak, mama rasa rian orang yg baik dan sholeh, jika hatimu yakin mama dan ayah merestuimu, kamu mau bicara dengan ayahmu? Dia ada disamping mama"
"Boleh ma"
"Hallo Zah"
"Iya ayah, ayah sudah dengar pembicaraan Zahra dengan mama kan?"
"Sudah nak, ayah merestui, inshaa Allah lusa ayah dan mama akan kesana"
"Benarkah? Apakah tidak terburu buru yah?"
"Bukankah kalian sudah mengenal lama? Terus apa yg membuatmu berfikir terburu buru?"
"Baik yah, Zahra akan menunggu kedatangan ayah dan mama"
"Kamu jaga diri baik baik disana, tetap menjaga jarak dengannya, ayah tidak mau kamu melanggar aturan agama"
"Inshaa Allah Zahra janji yah"
"Yasudah kamu istirahat ya, assalamualaikum"
"Walaikumsalam yah"
Flashback off
Daniel pov
Aku sedikit mempunyai semangat untuk masuk ke kantor hari ini, saat aku memasuki lift, kulihat Zahra berjalan menuju lift dengan tersenyum yg sangat indah, namun saat dia melihatku ada didalam lift dia sangat ragu untuk masuk, dan kulihat senyum dibibirnya menghilang, apakah wajahku begitu menakutkan untuknya.
Beberapa saat kulihat dia masuk kedalam lift, dia berjalan menuju pojok lift dengan wajah menunduk.
"Apa kabar Zah?" aku sedikit memberanikan diri untuk bertanya.
"Baik"
Begitu cueknya dia membalas ucapanku, aku diam sampai pintu lift terbuka, dan kulihat Zahra begitu cepat keluar dari lift.
"Zahra tunggu" dia berhenti namun tetap melihat kedepan.
"Aku minta maaf Zah"
"Untuk apa?"
"Semuanya, untuk yg lalu, aku minta maaf"
"Mengapa baru sekarang?"
"Aku...aku..." aku tak tau apa jawaban dari pertanyaannya, aku bingung.
"Kenapa diam?" kulihat dia berbalik melihatku, namun wajahnya berpaling tak menatapku.
"Zah, aku memang bukan malaikat, aku hanya manusia, yg tak pernah luput dari kesalahan, lalu bukankah memutuskan tali silahturahmi itu dibenci oleh Tuhan"
"Dan aku juga bukan Tuhan yg bisa dengan mudah memaafkan hambanya, aku juga wanita biasa yg mempunyai hati"
"Aku minta maaf Zah, tapi kamu hanya perlu tau bahwa aku tak pernah meninggalkanmu dari dulu hingga sekarang" kulihat dia diam menunduk, hatiku benar benar lega sekarang, bisa mengatakan semuanya.
"Maafkan aku Zah, assalamualaikum" aku pergi meninggalkannya karna aku dengar suara lift akan terbuka, karna ini sudah jam untuk masuk kekantor.
Vella pov
Aku berdiri dibalik tembok dengan dadaku terasa sesak begitu dalam, aku mendengar semua pembicaraan antara Zahra dan Daniel, jadi mereka pernah dekat dan ada hubungan, tapi hubungan seperti apa.
Tapi aku melihat Daniel begitu tulus mencintai Zahra, Daniel begitu serius menatapnya, ya Tuhan apa yg harus aku lakukan, haruskan aku tetap mengharapkan Daniel.
Airmataku menetes dengan sendirinya, haruskah aku marah pada Zahra, tapi salah apa Zahra padaku hingga aku harus marah padanya, mereka mempunyai masa lalu dan aku baru tau.
Zahra pov
Aku terdiam mendengar semua ucapan dari Daniel, apa maksudnya berkata itu semua, dia bilang bahwa dia tak pernah meninggalkanku, lalu dulu itu apa yg dia katakan, dia mengatakan bahwa aku dan dia tak harus saling bertemu lagi apapun alasannya.
Tak terasa airmataku menetes, hatiku benar benar bimbang, apa yg harus aku lakukan sekarang, kenapa dia hadir disaat aku sudah mulai melenyapkan perasaanku padanya dan membuka hatiku untuk Rian, ya Allah kenyataan ini sungguh sangat pahit, aku sama sekali tak mengerti semua ini.
Kudengar hpku berbunyi, dan segera aku mengambilnya.
Rian calling...
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, kamu kenapa Zah? Kamu sakit?"
"Engga kok yan, aku ga apa apa, baru aja sampe kantor"
"Oh begitu, Zah?"
"Iya Rian"
"Apakah kamu sudah punya jawabannya?"
Aku terdiam saat dia menanyakan hal itu padaku, aku benar benar bingung sekarang, aku sungguh tidak tau.
"Zah, kamu masih disana? Kamu mendengarku?"
"Ehm, iya yan, maaf dan aku belum bisa menjawabnya, aku butuh waktu"
"Hmm, baiklah Zah, aku akan menunggumu sampai kapanpun itu seperti selama ini kamu selalu menungguku, assalamualaikum Zah"
"Waalaikumsalam"
Aku terdiam mendengar ucapan Rian barusan, begitu lama aku menunggunya, haruskah aku berhenti hanya karna seseorang yg sudah pernah menyianyiakanku, aku tak akan menyianyiakan orang yg sudah mempertahankanku, aku benar benar sangat yakin sekarang, ya Allah mudah mudahan keputusanku benar.
Calling Rian...
"Assalamualaikum Zah"
"Waalaikumsalam Rian"
"Ada apa Zah?"
"Aku menerima lamaranmu Rian, orangtuaku akan datang besok"
"Benarkah Zah? Kamu yakin?"
"Kalau aku tidak yakin untuk apa aku masih menunggumu sampai sekarang?"
"Terima kasih Zah"
"Sama sama Rian, aku kerja lagi ya"
"Baik Zah, assalamualaikum"
"Walaikumsalam Rian"
Aku tersenyum memandang hpku, ya Allah aku benar benar yakin sekarang, bantu aku ya Allah.
Rian pov
Aku tersenyum lebar melihat layar hpku, rasanya semua ini seperti mimpi meski aku yakin bahwa Zahra akan menerimaku tapi rasanya ini lebih indah
Mama calling...
"Assalamualaikum ma"
"Waalaikumsalam yan, kamu dimana?"
"Rian ada dikantor ma, kenapa?"
"Bisa pulang sebentar ga? Temenin mama ke supermarket, tadi Zahra telfon mama katanya orang tuanya besok akan datang"
"Iya bisa ma, tadi Zahra juga sudah nelfon Rian, dan dia nerima lamaran Rian ma"
"Alhamdulillah, papa juga udah tau tadi mama yg kasih tau, papa sangat seneng yan"
"Alhamdulillah ma, janji Rian tercapai"
"Yaudah buruan kamu pulang, hati hati dijalan, mama tunggu, assalamualaikum"
"Iya ma, walaikumsalam"
Betapa bahagianya aku saat ini, ya Allah, mudahkanlah semua ini.
♥♥♥♥♥♥♥♥