Part 6 - Kenyataan Pahit

1135 Kata
Zahra pov Malam ini aku berada dirumah Rian, menyiapkan makan malam bersama keluarganya, dan mereka juga tak henti hentinya membahas tentang kebodohanku, dasar Rian menyebalkan. "Zah, ayo makan, kok malah ngelamun" ucap mama Rian padaku. "Eh, iya umi maaf" aku menunduk malu. "Udah ga usah dipikirin lagi" ucap Rian. Aku hanya tersenyum. Daniel pov Malam ini aku keluar dari tempat kost ku, sekedar menenangkan hati, entah aku akan pergi kemana. Aku memutuskan berhenti disebuah mesjid yg aku lihat sedikit ramai, mungkin saja ada pengajian, aku berjalan masuk ke sana. "Daniel" panggil seseorang yg membuatku berbalik. "Pak Rafi" "Kamu ngapain ? Saya kaget lihat kamu disini, daerah ini kan sangat jauh dari kost kamu" "Gak apa apa pak, tadi cari angin saja, ga sengaja lihat mesjid ini ramai, aku pikir akan ada pengajian" "Oh iya, memang ada pengajian dan ceramah, yaudah yuk masuk" Kami berjalan menuju ke dalam mesjid, aku pun juga heran kenapa pak Rafi juga berada disini. "Pak Rafi kok bisa disini juga ? Memangnya rumah pak Rafi dimana?" "Rumah saya didekat sini kok, nanti setelah selesai, kamu main ya kerumah" Aku hanya mengangguk, tak ada salahnya juga punya orang terdekat disini, sambil aku menyesuaikan diri. Rian pov Setelah makan malam selesai, kami semua berkumpul diruang tamu, aku melihat Zahra begitu serius mengobrol dengan mama ku. "Ehm, ma, pa, ada yg mau Rian bicarakan" Kulihat semua orang menatapku. "Zah, aku ingin menjadikanmu istriku, kamu mau?" Hening, semua orang diam. "Kamu serius Rian?" tanya papa ku. "Iya pah" aku tersenyum senang, kulihat Zahra juga tersenyum. "Zahra bagaimana?" tanya papaku pada Zahra. "Bisakah aku menjawabnya besok? Aku ingin mengabari orangtuaku dahulu" ucapnya menunduk. "Makasih Zah" ucapku pelan. Kami pun melanjutkan obrolan yg lainnya bersama orang tuaku dan adik adikku. Daniel pov Acara pengajian selesai, aku benar benar tak menyangka ternyata pak Rafi itu adalah seorang penceramah, ceramahnya juga sangat bagus menurutku. "Pak Rafi kenapa ga jadi ustad aja? Bagus banget tadi ceramahnya, aku juga ga nyangka pak Rafi begitu hebat" Kulihat dia tersenyum ramah padaku. "Dulu orang tua saya memang sangat berharap saya bisa menjadi seorang ustad, dari kecil sampai dewasa saya hidup di pesantren, sampai saya lulus dari madrasah saya sangat ingin sekali menjadi seorang programer, karna selama di pesantren saya slalu diminta untuk membetulkan barang barang elektronik yg rusak, entah ilmu darimana saya juga tidak tau, semua saya pelajari begitu saja dengan buku buku yg saya pinjam dari perpustakaan, setelah pengumuman lulus, saya minta pada orangtua saya kalau saya ingin kuliah komputer, awalnya mereka tidak menyetujui, tapi ibu saya yg mendorong ayah saya untuk mengijinkan saya dengan satu syarat, saya tak pernah lupa dengan agama, itu yg saya jaga sampai sekarang, sampai saya sering ditawari untuk memberikan ceramah, alhamdulillah saya slalu menyanggupinya" Aku terdiam mendengarkan semua ucapannya, sungguh mulia sekali sikapnya, aku mulai kagum dengan sosok pak Rafi, begitu bijaksana. "Tak perlu memujiku seperti itu, sudah ayo jalan" "Pak Rafi bisa juga baca pikiran orang?" tanyaku kaget. "Saya tak bisa, tapi raut wajahmu membuat saya tau apa yg ada di pikiranmu" aku hanya garuk garuk kepala. Kami menaiki motorku menuju rumahnya, sampai dirumahnya aku sedikit kagum dengan rumahnya, tak terlalu besar tapi sangat indah menurutku dan yg pasti terasa nyaman. "Mau sampe kapan mengagumi rumah saya? Kamu mau jadi santapan nyamuk disitu" "Hehe, iya pak maaf" "Assalamualaikum" ucapnya saat memasuki rumah, kulihat seorang wanita berhijab keluar menyambutnya dan aku berfikir itu adalah istrinya. "Walaikumsalam" ucap wanita itu menyalami pak Rafi. "Anak anak mana mi?" "Udah tidur abi, ini siapa?" "Oh ini Daniel, teman kantor abi, dia karyawan baru" aku menangkupkan tanganku didepan d**a sama sepertinya. "Ayo masuk" Aku duduk diruang tamu bersama pak Rafi, kulihat istrinya pergi ke dapur. "Anak pak Rafi ada berapa?" tanyaku penasaran. "Anak saya ada 2, laki laki dan perempuan" masih sekolah kelas 1 SMP, mereka kembar" "Alhamdulillah" "Orang tua kamu tinggal dimana?" "Orang tua saya ada di medan" "Oh begitu, sudah berapa lama kami menjadi mualaf? Orang tua kamu tau?" "Sudah satu tahun lebih pak, awalnya mereka memang tak setuju, saya tak memberitahu mereka saat pertama kali saya menjadi mualaf, mereka tau setelah 6 bulan saya menjadi mualaf, mereka sangat marah, bahka ayah saya memusuhi saya, semua keluarga saya marah, dan saat mereka tahu bahwa nama depan saya ditambah Muhammad, awalnya saya juga merasa takut, seperti orang yg tak mempunyai siapapun lagi didunia ini, namun sejak saat itu juga saya lebih mendekatkan diri pada Allah, saya selalu berdoa agar keluarga saya bisa menerima keputusan saya, sangat sulit saat itu, namun beberapa bulan kemudian kakak saya menelfon bahwa ibu saya sakit, saya makin sedih pak, tapi ada hikmah dibalik semua cobaan yg saya dapat, keluarga saya mulai menerima saya lagi saat saya pulang dengan penampilan saya yg begitu berbeda" aku menghela nafas, mengingat semua masa lalu itu membuat d**a ku sesak. Pak Rafi menepuk pundakku pelan, dia mengajakku untuk berbincang di taman depan rumahnya. "Keputusanmu sudah sangat benar, menjadi muslim sejati itu memang banyak tantangannya, tergantung pada hati kita, tetap menjalaninya dengan sabar, atau berhenti sampai disitu, jika kita menjalaninya dengan sabar, percayalah akan ada hikmah yg sangat indah dibalik semua itu, dan satu hal, kamu boleh memanggil saya abi jika sedang tidak dikantor, anggaplah saya orangtuamu" ucapnya tersenyum membuat hatiku menghangat, dia begitu baik. "Lalu bagaimana dengan Zahra?" tanyanya membuatku kaget, aku tersenyum miris jika mengingat semua itu. "Dia akan menikah, dengan pria lain" "Dengan Rian maksudmu?" aku langsung menoleh, kenapa semua ini membuatku sangat tidak percaya, begitu banyak hal yg aku tidak tau, aku hanya mengangguk. "Perlu sedikit keberanian untuk mendapatkan sesuatu yg sulit" "Tapi saya tak tau harus berbuat apa, dia adalah masa lalu saya...." aku menceritakan semuanya padanya, entahlah, aku begitu nyaman berbicara dengan pak Rafi, dan aku memang sedang membutuhkan teman untuk mencurahkan segala isi hatiku. "Ingatlah bahwa Allah sebaik baiknya pengatur rencana, semua hal yg kita lewati selalu ada hikmahnya, tapi tetap ingat bahwa semua yg kita lalui hanya karna Allah" "Tapi setiap saya ingin berbicara padanya, dia slalu menghindari saya, dia seperti sangat takut jika saya berada didekatnya" aku hanya menunduk, diam mencerna semua perasaanku. "Tak perlu ada yg ditakutkan jika semua hal itu diawali dengan niat yg baik, semua juga akan berakhir dengan baik, inshaa Allah" "Terima kasih abi" aku tersenyum padanya. "Abi tau tentang Rian?" tanyaku. "Saya tau, mereka dekat sudah satu tahun yg lalu lebih, namun saat beberapa bulan mereka dekat Rian pergi ke kalimantan selama 10 bulan untuk pekerjaan, dan yg saya tau saat dia kembali dia akan melamar Zahra, hanya itu yg saya tau, saya kenal baik dengan ayahnya, mereka sangat menyayangi Zahra" "Kamu tak perlu takut, jika kamu merasa lebih pantas untuk Zahra, bicaralah, agar semuanya tak ada penyesalan" Kenyataan ini sungguh menyita semua isi otakku, aku tak bisa berfikir apa apa lagi, sungguh kenyataan yg ku terima saat ini begitu pahit, ya Allah maafkan aku. ♥♥♥♥♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN