Part 5 - Kejutan

1461 Kata
Daniel pov Hari ini aku sama sekali tak bersemangat bekerja, hatiku terasa sakit, sakit melihatnya menangis, aku tak punya keberanian untuk mendekatinya, aku tak mau dia membuka sakit yg dulu pernah aku lakukan padanya, ya Allah apa yg harus aku lakukan. "Ngelamunin apa Dan? Udah kebuka tuh lift nya" ucap seseorang mengagetkanku. "Eh, pak Rafi, maaf" "Ngelamunin apa ? Aku lihat wajahmu murung terus ? Ga enak ya kerja disini ?" "Engga kok pak, hanya ada yg dipikirin aja" "Mikirin wanita ?" Aku hanya tersenyum, bagaimana dia bisa mengetahui isi hatiku. "Tak usah sungkan, memang umur kita jauh berbeda, kamu bisa menganggap saya ayah kamu kalau kamu mau" Pak Rafi memang sudah berkepala 5, tapi wajahnya masih belum menunjukkan umurnya, meski begitu dia sangat baik pada semua orang. "Kamu tau alasan saya menyuruh kamu yg keruangan Zahra kemarin?" Aku sedikit terkejut dengan ucapannya, jadi dia menyuruhku karna ada alasannya. "Aku merasa kau sangat cocok dengan Zahra, aku juga merasa kalian akan berjodoh" Deg!! Ucapannya membuatku sangat terkejut, apakah mungkin, sementara aku tau bahwa Zahra akan menikah dengan orang lain. "Tak usah dipikirkan, serahkan semuanya pada Allah, saya juga tau kamu muslim makanya saya berani berbicara itu pada kamu" dia langsung keluar lift saat pintu lift terbuka, aku masih diam mematung mencerna ucapannya, darimana dia tau, sementara yg tau identitasku hanya Fahri dan Andri. Zahra pov Aku sangat tidak bersemangat untuk pergi ke kantor hari ini, semalaman aku tidak tidur. Aku sampai diruanganku dan langsung duduk di sofa, kepalaku begitu pusing, kudengar hp ku berdering. Rian calling.. Aku melihat layar hpku dengan tidak percaya, masih beranikah dia menelfonku setelah apa yg dia lakukan padaku, aku membiarkan telfonnya sampai mati, namun beberapa detik kemudian dia menelfon lagi, dengan malas aku mengangkatnya. "Assalamualaikum" ucapku pelan. "Walaikumsalam Zahra, bagaimana kabarmu, kau sakit? Suaramu begitu serak" "Aku baik baik saja, ada apa? Aku sedang bekerja" "Kau sibuk?" "Iya" "Baiklah, aku akan menelfonmu lagi nanti, assalamualaikum" "Walaikumsalam" Tidakkah ada niatnya untuk menjelaskan padaku, kesedihan langasung menyelimuti hatiku, banyak banyak aku beristighfar dalam hati. "Tadaaaaaaaaaaa, aku bawa brownies kesukaanmu" Vella mengagetkanku. "Vel bisa ga kalau masuk ketuk pintu dulu, aku kaget" "Hehe, maaf deh, hei kamu kenapa? abis nangis?" dia langsung mendekap wajahku dengan tangannya. "Vel jangan gitu ah, jilbab aku rusak nih" "Maaf" Aku melihat Vella sedih, aku menceritakan padanya soal kejadian kemarin, tak terasa air mataku pun menetes kembali, sudah hampir 1 tahun aku menunggunya kembali untuk menepati janjinya melamarku, tapi apa yg aku dapatkan sekarang, dia membohongiku. "Zah, apa kamu udah tanya sama dia? Mungkin aja kamu salah liat, mungkin itu bukan dia" "Ga mungkin Vel, aku jelas jelas liat kalo itu dia meski hanya aku lihat dari belakang, dan suaranya juga benar benar suara Rian, aku ga mungkin salah" "Tenangin hati kamu Zah, ingat kamu masih punya Tuhan" Aku memeluk Vella dengan erat. "Makasih Vel" "Udah ah jangan melow terus, Tuhan tau kok apa yg terbaik buat kamu dan sekarang ayo kita makan brownies" aku tersenyum melihat tingkahnya yg selalu saja bisa membuatku tersenyum meski hatiku masih sangat sakit. Rian pov Aku masih memandangi hp ku, Zahra berubah, dia sedikit cuek padaku, apakah ada yg terjadi saat aku pergi, tak biasanya dia begitu cuek saat aku telfon, biasanya dia selalu berbicara dengan nadanya yg ceria tapi sekarang, padahal siang ini aku sudah berencana akan ke kantornya, membuat kejutan untuknya, semoga saja dia senang, mungkin dia memang sedang sibuk saat ini. "Assalamualaikum Ris" "........." "Kamu jadi ikut mas?" ".........." "Yasudah, jam istirahat nanti mas jemput kamu" ".........." "Assalamualaikum" "........" Aku menelfon Risa, dia sepupuku, dia juga menjemputku dibandara kemarin saat aku tiba dibandung, aku memang tak memberitahu Zahra bahwa aku sudah kembali, aku hanya ingin memberi kejutan untuknya, dan kemarin aku juga membeli cincin untuk melamar Zahra, aku benar benar akan menepati janjiku padanya dulu. Flashback on "Assalamualaikum Zahra" aku menelfon Zahra malam ini, seperti biasanya, tapi aku begitu gugup, karna aku akan memberitahunya bahwa aku akan pergi ke kalimantan, aku ditugaskan kesana selama 10 bulan, dan selama itu juga aku tak akan melihat Zahra. "Walaikumsalam Rian" "Gimana kabarmu? Maaf aku baru menelfon setelah 1 minggu aku tak menghubungimu" "Alhamdulillah aku baik, tak apa Rian, aku juga sedang banyak  pekerjaan, bagaimana kabarmu ?" "Aku baik Zah, oh ya, umi bilang kemarin kamu kerumah, kenapa ga memberitahuku?" "Iya aku kemarin lewat daerah sana tak sengaja, aku melihat mama mu menyiram bunga, jadi aku mampir" "Oh begitu" "Yan, kamu ga apa apa? Suara kamu begitu berat kudengar" "Aku akan pergi Zah" Aku tak mendengar suara lagi saat aku mengatakan hal itu, kulihat panggilan masih tersambung. "Zah, apa kamu mendengarku?" "Yah, aku mendengarmu" ucapnya pelan, aku merasakan dia kecewa, apa aku menyakitinya, fikirku. "Aku tidak pergi meninggalkanmu Zah, aku akan pergi ke kalimantan, aku ditugaskan bekerja kesana selama 10 bulan" "Pergilah" "Zah, aku akan melamarmu, tepat setelah aku pulang dari kalimantan 10 bulan lagi, aku juga akan menghubungimu meski hanya sekedar mendengar kabarmu, apa kamu mau menungguku Zah? Percayalah, aku memang tak bisa berjanji karna Allah yg mempunyai takdir, tapi aku percayakan semuanya pada Allah bahwa aku benar benar akan melamarmu" Kudengar Zahra hanya menghela nafas, ini sangat berat untukku, juga sangat berat untuknya, selama pertemuanku pertama dengannya dikota bandung, kami mulai saling akrab dan membuka hati, sampai orangtuaku sudah sangat menyukainya, Zahra juga sering pergi pengajian dengan ibuku, begitu sangat indah aku lihat. "Inshaa Allah jika Allah berkehendak, aku akan menunggumu" ucapnya pelan yg membuat senyumku mengembang. "Benarkah?" "Inshaa Allah" " Terima kasih Zah" "Sama sama Rian" Flashback off Zahra pov Tak terasa waktu begitu cepat berlalu hingga menunjukkan jam istirahat, aku segera keluar ruangan, saat akan memasuki lift, kulihat pak Rafi dan Daniel juga masuk ke dalam lift, aku bergeser ke belakang. "Apa kabar Zah?" tanya pak Rafi memecahkan keheningan. "Alhamdulillah baik pak" "Tapi saya tak melihat kamu baik baik saja" Aku hanya tersenyum simpul, pak Rafi memang mudah mengetahui isi hati seseorang. Kami saling diam sampai pintu lift terbuka dilantai satu, kami segera keluar, aku segera menuju parkiran, kulihat mereka berdua pergi ke kantin. Saat aku menuju ke parkiran, aku melihat sebuah mobil berhenti didepanku, keluar seorang pria dari dalam mobil itu, pria yg aku kenali. "Rian" ucapku pelan, perhatianku teralihkan saat seorang wanita juga keluar dari mobil itu, itu adalah wanita yg kulihat di restoran kemarin, untuk apa mereka kesini. "Zahra, aku kembali, maaf mungkin kamu terkejut aku ada disini" aku sama sekali tak terkejut, karna aku sudah tau bahwa dia sudah dibandung. "Zah, kamu baik baik saja, wajahmu pucat" tanyanya yg ingin menghampiriku. "Aku tak apa Rian, aku harus pergi" ucapku sambil berlalu. "Zahra tunggu!!!" dia berlari menghampiriku. "Apa lagi Rian? Kamu mau menyakitiku lagi? Untuk apa kamu datang?" "Zah, tenang, kenapa kamu jadi emosi, aku datang baik baik kesini bersama sepupuku Risa" Ucapnya yg membuatku kaget, dia bilang tadi sepupu. "Maksud kamu? Dia sepupumu?"  "Iya itu Risa, dia sepupuku" aku melihat wanita itu tersenyum padaku, dia menghampiriku, mengulurkan tangannya padaku "Aku Risa, maaf mbak mungkin aku membuat mbak salah paham" Aki sungguh tak percaya dengan ini semua, bagaimana mungkin. "Zah, kamu kenapa?" tanya Rian. "Bukankah dia tunanganmu?" tanyaku pada Rian, kulihat mereka saling menatap, lalu tertawa bersama, seakan akan mereka menertawakan kebodohanku. "Ya ampun Zah, bukankah kamu yg akan menikah denganku?" "Tapi kemarin aku melihatmu direstoran bersamanya, dan aku memdengar bahwa kau akan membeli cincin tunangan padanya" "Zah, dengar aku, maaf sebelumnya karna aku tak memberitahumu bahwa aku akan pulang, karna aku akan memberi kejutan untukmu, kemarin aku pulang dan Risa yg menjemputku dibandara lalu kami mampir ke restoran karna aku lapar, aku juga sama sekali tak melihatmu disana, dan aku juga meminta Risa menemaniku membelikan cincin untuk pernikahan kita" Penjelasannya membuatku benar benar kaget, aku sudah menangis semalaman seperti orang bodoh, dan kenyataan ini membuatku semakin bodoh, ya Allah, inikah rencanamu, aku benar benar merutuki kebodohanku. "Maaf" ucapku pelan. "Zah, aku yg minta maaf hingga membuatmu salah paham seperti ini, kau mau memaafkanku" "Aku sudah memaafkanmu" Daniel pov Temanku tiba tiba telfon, menyampaikan bahwa paketku dari orangtuaku di kampung halaman sudah sampai, dengan bergegas aku meninggalkan pak Rafi yg baru saja duduk di kantin. Namun saat aku sampai di dekat parkiran, aku melihat Zahra dengan seorang pria yg kukenali, itu Rian, juga bersama seorang waniya yg tidak aku kenal, aku mendengarkan semua pembicaraan mereka, itu juga yg membuat semua pertanyaan dikepalaku terjawab, jadi itu hal yg membuat Zahra menangis, begitu besarkah perasaannya pada Rian. Hatiku kembali sedih, aku berjalan kembali memasuki kantor, kukirim pesan pada temanku bahwa paket itu akan aku ambil nanti sore. Ya Allah, begitu pahit semua kenyataan ini, mengapa selama ini aku selalu menjadi pengecut, mengapa selama ini aku hanya diam, begitu banyak penyesalan yg hinggap dibenakku, aku mengusap wajahku kasar, bagitu lelah, inikah balasan karna dulu aku menyianyiakannya. Sungguh ini kejutan yg sangat menyakitkan untukku. ♥♥♥♥♥♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN