Zahra pov
Pagi ini aku berangkat kerja lebih awal, agar aku tak melihatnya, aku sedikit takut padanya, takut rasa itu kembali lagi, aku sampai dikantor sebelum jam 7, kantor masih begitu sepi, hanya ada ob yg baru datang juga.
"Pagi bu Zahra" ucap seorang ob, pak darmawan, meski dia sudah sedikit tua, tapi semangat kerjanya begiti tinggi, selain senyumnya yg ramah, dia juga begitu taat pada agama.
"Pagi pak Darma" ucapku tersenyum padanya.
"Kok tumben berangkatnya pagi banget bu"
"Ga apa apa pak, biasa, ngindarin macet"
"Oh gitu, kalau begitu saya permisi bu, mari, Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Aku berjalan menuju lift, namun saat aku ingin memencet tombol seseorang menghalangi pintu lift dengan kakinya, pintu lift terbuka, menampakkan 2 orang laki laki yg kukenal, dan yg satunya membuat jantungku kembali berdetak kencang, aku datang sepagi ini untuk menghindarinya tapi malah bertemu dengannya.
"Pagi bu Zahra" ucap Daniel padaku, ku balas hanya senyum.
"Tumben pagi pagi udah nyampe, ga mandi ya?" aku hanya memutar bola mataku, dia Fahri, kenapa mereka bisa bersama, fikirku.
"Pasti lagi ngelamunin jorok, ya kan?"
"Apaan sih, garing tau" ucap ku kesal, kulirik Daniel yg sedikit tertawa.
"Gimana interview kemarin Dan, kamu ga di apa apain kan sama ibu Zahra yg terhormat?" tanya Fahri yg sepertinya sedikit menyindirku.
"Biasa aja kok pak, nyaman" ucapnya biasa saja yg hampir membuatku tersedak.
"Ohh kirain"
"Mas Fahri nyindir aku ya?"
"Kalo merasa ya maaf"
Aku hanya mengalihkan pandanganku, kudengar mereka berdua tertawa, sampai akhirnya pintu lift terbuka dan aku langsung berjalan duluan.
Fahri pov
Aku melihat Zahra pagi ini, sedikit heran dengannya karna dia datang begitu pagi, tak biasanya, tapi aku hanya diam saja, mungkin dia ada sedikit pekerjaan, fikirku.
Aku memasuki lift bersamanya dan juga Daniel, karyawan bagian programer yg baru diperusahaanku.
Kulihat Zahra keluar dengan wajah kesalnya, aku memang suka sekali melihatnya begitu, kulihat Daniel diam melihat Zahra begitu serius, sedikit pertanyaan muncul di kepalaku, apakah dia juga menyukai Zahra.
"Daniel" ucapku menepuk bahunya pelan.
"Eh, maaf pak"
"Mau sampe kapaan disitu terus?"
"Oh udah sampe ya" ucapnya sambil garuk garuk kepala yg aku tau pasti tidak gatal.
"Hmm dasar"
Aku berjalan menuju ke ruanganku, dan Daniel menuju ruangannya, kulihat ruangan Zahra sudah tertutup rapat.
Daniel pov
Aku sudah sampai di ruanganku, disana sudah tersedia meja untukku, sangat nyaman ruangan ini menurutku, ada 4 meja diruangan ini, mungkin mereka belum datang.
Aku duduk dikursi, sedikit mengingat kejadian di lift tadi, kulihat Zahra dan Fahri begitu dekat, apakah mereka sangat dekat, rasa cemburu tiba tiba saja melintas dibenakku, segera aku beristighfar.
"Assalamualaikum" ucap salah seorang yg baru saja masuk keruangan.
"Eh, maaf, ga tau ada orang" lanjutnya lagi.
"Ga apa apa kok, saya Daniel, karyawan baru"
"Ohh itu, iya saya udah denger, kenalin saya Rafi"
Aku tersenyum dan kami lanjutkan mengobrol tentang asal usul masing masing, hingga 2 orang pria masuk bersamaan, aku menyalami mereka berdua.
"Doni"
"Rendi"
"Aku Daniel"
Kami berempat berbincang bincang sebelum jam bekerja dimulai, ternyata mereka sangat cepat untuk menerima ku, kami tertawa dan bercanda, sangat nyaman, fikirku.
Obrolan kami selesai saat jam bekerja telah dimulai, sebagai seorang programer, pekerjaanku hanya didepan komputer, memeriksa sambungan internet di perusahaan ini.
Kudengar telfon di meja Rafi.
"Assalamualaikum"
"........"
"Iya bu Zahra"
"......."
"Oh begitu baiklah, saya akan kesana"
"........"
"Walaikumsalam"
Sedikit terdengar pembicaraan mereka di telfon saat menyebut nama itu, sibuk dengan lamunanku tentang apa yg dibicarakannya, Rafi memanggilku.
"Daniel"
"Ah, ya pak"
"Bisa kamu ke ruangan bu Zahra, sambungan internet di komputernya mati, tolong kamu periksa"
"Emm, saya pak?" tanyaku gugup sekaligus senang.
"Iya kamu, kan saya ngomongnya sama kamu bukan sama yg dibelakang kamu" segera aku melihat kebelakang, dan tak ada siapapun, dan mereka semua tertawa, aku hanya garuk garuk kepalaku yg tidak gatal, ternyata dia mengerjaiku.
"Hehe, baik pak, permisi"
Masih kedengar mereja semua tertawa, betapa malunya aku, baru pertama kali bekerja sudah dikerjain, maklum saja lah, umurku lebih muda dari mereka, mereka semua juga sudah menikah, hanya aku yg belum.
Aku berjalan menuju ruangan Zahra, jantungku mulai berdetak sangat kencang.
Tok...tok...tok...
"Masuk" kudengar suara dari dalam, aku membuka pintunya pelan, namun aku diam beberapa saat, sama sepertinya yg mungkin kaget dengan kehadiranku.
"Ehemmmm, masuk pak Daniel, tar kesambet loh kalo didepan pintu terus" suara Vella membuyarkan lamunanku, kulihat dia tertawa melihatku.
"Maaf" ucapku pelan.
Zahra pov
Aku terpaku saat mengetahui siapa yg datang keruanganku, padahal aku menelfon pak Rafi, kenapa dia yg datang.
"Sambungan internet saya mati, bisa kamu perbaiki?" tanyaku sambil berdiri dari tempat dudukku dan menjauh dari meja kerjaku.
"Bisa, biar saya periksa"
"Pak Rafi kemana?"
"Dia ada diruangan, tadi dia menyuruh saya untuk kesini"
"Ohh gitu"
"Aku duduk di sofa bersama Vella yg sedang sibuk menatap Daniel" perasaan cemburu tiba tiba saja melintas dibenakku.
"Sudah selesai bu, internetnya sudah bisa" lamunanku tersadar saat Daniel memanggilku.
"Oh, baiklah, terima kasih banyak"
"Sama sama, kalau begitu saya permisi"
Aku hanya membalasnya dengan senyuman sedikit.
"Zah, dia ganteng banget hari ini, menurut kamu, aku udah cantik belum?" ucapan Vella yg membuatku kaget.
"Hmmmm" aku tak memperdulikan ucapannya dan beralih dengan pekerjaanku.
"Huh malah dicuekin, yaudah deh, aku balik"
Aku tertawa melihat tingkahnya yg sangat kekanakan.
Vita calling....
Kulihat hp ku ada panggilan masuk, ternyata Vita teman kuliahku dibandung.
"Assalamualaikum vit"
"........"
"Bisa, memang ada apa?"
"........"
"Oh baiklah"
".........."
"Walaikumsalam"
Daniel pov
Aku kembali keruanganku dengan perasaan sedih, aku sangat bingung dengan apa yg aku lihat tadi.
Flashback on
Aku memeriksa sambungan internet yg ada dikomputer Zahra, saat sambungannya sudah aktif kembali aku memeriksa internetnya mencoba membuka salah satu aplikasinya, namun tiba tiba saja aku melihat email masuk yg entah kenapa langsung terbuka.
Email dari seseorang yg bernama Rian, tak sengaja aku membacanya.
"Assalamualaikum calon kekasih hatiku, apa kabar? Aku akan pulang beberapa hari lagi, apakah kau masih menungguku, aku akan menepati janjiku beberapa bulan yg lalu, aku akan segera mengkhitbahmu saat aku tiba dibandung, semoga Allah memudahkan jalan kita :) "
Begitulah isi email yg aku baca, aku sempat melihat fotonya, keterkejutanku bertambah saat mengetahui lelaki itu, dia adalah Rian teman kuliah Zahra, seniorku, umur Zahra 1 tahun diatasku, aku pernah melihat Rian meski tak lama karna dia dipindahkan ke universitas yg ada di cabang.
Benarkah semua yg aku lihat, apakah mereka akan menikah, ya Allah kenapa hatiku menjadi sedih.
Zahra pov
Jam makan siang sudah tiba, aku bersiap siap untuk pergi menemui Vita, sepertinya ada hal yg penting, aku segera menuju parkiran.
"Zahra!!!" seseorang memanggilku, aku segera berbalik.
"Vella"
"Mau kemana kok buru buru?"
"Aku mau ketemu Vita, tadi dia telfon katanya mau ketemu"
"Ohh gitu, yaudah deh, hati hati ya"
Kubalas ucapannya dengan anggukan.
Daniel pov
Aku melihat Zahra keluar dari ruangannya dengan buru buru, mau kemana dia, fikirku.
Aku sempat melihat Vella memanggilnya dan melihat mereka berbicara sebentar sampai akhirnya Zahra pergi meninggalkan Vella, sepertinya ada perasaan yg tidak enak, aku menikutinya sampai dia pergi dengan mobilnya, aku segera mengambil motorku dan mengikutinya.
Beberapa lama diperjalanan, aku melihat mobilnya berhenti disebuah restoran, aku masuk ke tempat makan biasa yg ada didepan restoran itu, aku ingin menunggunya saja disini.
Zahra pov
Aku memasuki restoran yg sudah dijanjikan oleh Vita, namun 15 menit aku menunggunya, dia belum juga kelihatan, sampai suara lelaki dibelakangku sedikit mengalihkan perhatianku, suara yg sepertinya sangat aku kenali.
"Kapan kita akan beli cincin tunangannya" ucap suara wanita yg kudengar.
"Hari ini juga kita akan beli" kata lelaki itu.
"Kamu serius kan? Entar kayak waktu itu lagi, udah capek kesana kemari malah ga jadi"
"Hehe, iya jadi kok, tenang aja, pasti bakalan jadi kita beli"
Sedikit aku melihat kebelakang, dan benar saja, ternyata itu Rian, aku sangat mengenali suaranya, dan tadi mereka bilang mau membeli cincin tunangan, ingatanku teralihkan pada kejadian beberapa bulan lalu, saat Rian akan pergi ke kalimantan, dia bilang bahwa saat dia pulang, dia akan melamarku, dan sekarang dia ada dibandung, tidakkah dia lupa akan ucapannya dulu.
Sejak dia mulai mendekatiku dulu, aku merespon baik niatnya, meski masih dalam batasan agama, dia berjanji akan melamarku, manjadikanku satu satunya milikku, dan saat itupun aku mulai membuka hatiku untuknya, sedikit berharap bahwa semua perkataannya benar.
Tapi sekarang, aku mendengar dia akan membelikan cincin tunangan bersama wanita itu, hatiku seprti teriris, apa maksud semua ini, aku menunggunya beberapa bulan, mencoba memantapkan hatiku padanya, tapi sekarang, sekedar memberitahuku bahwa dia ada dibandung pun dia tak ada.
Aku pergi meninggalkan restoran itu dengan perasaan sakit, kulihat Vita juga belum datang, tak terasa air mataku menetes, aku menangis, sangat sakit rasanya, dia membohongiku selama ini, atau ternyata dia tak pernah pergi.
Daniel pov
Aku melihat Zahra keluar dari restoran dengan terburu buru dan aku melihatnya mengusap air mata, apa dia menangis, tapi kenapa.
Dia menjalankan mobilnya, aku segera mengikutinya kembali, kulihat mobilnya berhenti disebuah mesjid.
Zahra keluar dari mobilnya, masih kulihat dia menangis, kulihat dia mengambil air wudhu dan menuju tempat sholat.
Zahra pov
Mungkin ini satu satunya tempat untuk aku mencurahkan segala isi hatiku, di mesjid ini, aku menangis dalam sholatku, sedikit untuk menenangkan hatiku, aku membaca al- Qur'an yg biasa aku bawa masih dengan air mata yg terus mengalir.
♥♥♥♥♥♥♥
Aku meyakini adanya matahari meski aku tak melihatnya dibalik awan hujan
Aku meyakini adanya cinta walau aku sedang terluka
Dan aku meyakini adanya kebahagiaan walau aku sedang sedih
Sebagaimana aku meyakini keadaan-Mu ya Allah, walau aku tak mampu melihatmu.