Part 3 - Gelisah

741 Kata
Author pov "Baiklah, sepertinya interviewnya sampai disini, dan ini file mengenai peraturan dikantor, saya harap anda bisa bekerja sama dengan baik dikantor kami" ucap Zahra selembut mungkin, tak ada yg tahu bahwa hatinya sangat gelisah. "Terima kasih bu" ucap Daniel yg merasakan hal yg sama dengan Zahra. "Saya permisi dulu" "Yah baiklah, Vella tolong antarkan pak Daniel" suruh Zahra pada Vella yy membuatnya tersadar dari lamunannya. "Baik bu" Mereka pergi meninggalkan Zahra diruangannya. Zahra langsung duduk, menenangkan hatinya, mengucapkan istighfar sebanyak mungkin. Sementara Daniel terus berjalan dengan segala perasaan yg ada dihatinya, suara wanita disampingnya mengalihkan lamunannya, dilihatnya wanita itu menyodorkan tangannya. "Aku Vella" ucap Vella sambil menyodorkan tangannya didepan Daniel. Daniel tak membalas uluran tangan Vella, iya hanya menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya. Vella mengerutkan keningnya, heran dengan sikap Daniel yg tak biasa. "Kayak orang islam aja yg ga boleh bersentuhan, kita kan sama sama non muslim" Daniel hanya tersenyum sedikit menanggapi ucapan Vella, dia memang belum sepenuhnya membuka identitasnya yg sudah mualaf, bukan dia malu, dia hanya tak ingin mengumbar itu semua, dia membiarkan orang tau dengan sendirinya. "Aku Daniel Arvando, panggil saja Daniel" ucap Daniel pelan dengan pandangan terus lurus kedepan, sementara Vella terus menatapnya dengan sejuta pertanyaan di kepalanya, bagaimana bisa pria sepertinya sangat menjaga jarak pada seorang wanita, seperti orang muslim, memandang pun dia tak mau. "Jagalah tatapanmu karna itu bisa menimbulkan dosa" ucap Daniel sambil berjalan lebih cepat, dan ternyata mereka sudah sampai didepan kantor, Daniel langsung menaiki motornya yg terparkir di depan. Vella pov Ya Tuhan, ada apa dengan perasaanku, aku bingung, baru ini aku menemukan lelaki yg begitu dingin dan tak mau memandangju, padahal begitu banyak lelaki yg ingin menjadi pacarku yg selalu aku tolak, tapi dia sangat berbeda, sikapnya seperti lelaki muslim yg pernah kutemui, padahal aku tau bahwa agama kami sama. Aku tersenyum melepas kepergiannya, aku sangat menyukainya, akan aku lakukan apapun agar dia menjadi milikku. Daniel pov Aku mengendarai motorku dengan pelan, aku mengingat ingat kejadian tadi yg baru saja aku lewati. Zahra sudah sangat berbeda, hijabnya semakin panjang, cara bicaranya yg begitu lembut, tawanya juga tak seperti dulu lagi meski dia masih suka bercanda. Dan satu yg membuatku sedikit risih, wanita bernama Vella, wanita itu tak henti terus menatapku, aku merasakan bahwa dia menyukaiku, dia cukup cantik, namun kecantikannya tak bisa ia tutupi, seorang wanita non muslim. Semoga saja semuanya akan baik baik saja. Zahra pov Lamunanku buyar saat aku mendengarkan bahwa jam sudah menunjukkan istirahat, aku segera pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat, saat keluar ruangan aku bertemu Vella. "Mau sholat Zah?" "Iya Vel, mau makan dimana?" "Di kantin aja, aku lagi males keluar, kamu?" "Aku mau ke resto temenku sebentar, dia ingin bertemu" "Ohh itu, oke deh" Kami diam saat memasuki lift, ruanganku berada dilantai 7. "Zah, menurut kamu Daniel itu pria seperti apa?" Deg!! Jantungku terasa berdetak kencang saat aku mendengarkan namanya. "Kenapa tanya seperti itu? Kamu suka? Jangan nyakitin pria mulu Vel, ga kasihan apa, udah sangat banyak pria yg kamu sakitin, aku ga mau nanti kamu kena batunya" ucapku yg sedikit menasehati sahabatku yg satu ini, dia memang suka sekali mempermainkan perasaan pria. "Aku janji, kali ini aku bener bener serius Zah, aku suka sama Daniel saat pertama kali aku melihatnya, dan kamu tau Zah yg membuatku makin menyukainya, saat tadi aku mengantarkannya, aku menyalaminya sekedar ingin mengenalnya tapi dia hanya menangkupkan kedua tangannya seperti yg biasa kamu lakukan saat bersalaman dengan laki laki, dia juga tak menatapku saat bicara, aku sedikit heran padahal dia seorang non muslim sama sepertiku, tapi sikapnya seperti seorang muslim". Penuturan Vella membuatku terpaku, aku mencerna sedikit demi sedikit perkataan Vella, benarkah semua itu, dulu pun dia memang tak pernah menyentuhku, memegang tanganku pun dia tak pernah, tapi saat berbicara padaku dia selalu menatapku, meski tadi aku tak melihatnya saat berbicara padaku, karna aku sibuk dengan file yg akan kuberikan padanya dan sibuk dengan fikiranku sendiri aku juga tak menyadari perubahannya. "Zah, kok melamun sih, mau sampe kapan disitu terus, kita udah sampe dilantai satu" aku terkejut saat Vella menarikku, entah berapa lama aku melamun. "Maaf Vel" "Kamu kenapa sih Zah? Hari ini beda banget, jadi lebih diem, kamu ada masalah?" "Ga ada kok Vel, yaudah kalo gitu aku pergi dulu ya takut keburu habis jam istirahatnya" "Hmm, yaudah deh, tapi kalo ada apa apa cerita ya" "Iya, yaudah bye" "Bye" Aku melambaikan tanganku padanya saat memasuki mobil, aku melajukan mobilku pelan menuju mesjid yg biasa aku kunjungi. ♥♥♥♥♥♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN