Chapter 8 - Inilah Akhirnya ....

2173 Kata
**** Hari itu benar-benar ramai. Meja-meja, kursi, serta panggung yang entah untuk apa sudah tersedia di tempat. Bahkan, arenan dari tiga kategori lomba yang diadakan pun sudah tertata megah di depan meja-meja peserta. Shella meneguk ludah. Tubuhnya bergerak sendiri menuju salah satu tempat yang kosong, sedang pikirannya masih dihantui rasa takut akan perlombaan yang akan segera dihadapi. Tak perlu menunggu lama sampai acara pembukaan dimulai. Kedua gadis itu menyimak sambil menyantap snack yang didapatnya dari panitia. Shella tak begitu ingat apa yang dibicarakan pembawa acara hari itu, yang ia tahu hanya bagian di mana ketentuan perlombaan akan diberitahu di arenanya masing-masing. Jadi, setiap perwakilan tim dimohon untuk mendekati arena perlombaan untu mendapat penjelasan. “Siapa yang mau ke sana?” tanya Deva. “Kamu aja, deh,” sahut Shella. “Ya udah.” Gadis berkacamata itu meninggalkan tempat duduknya dan bergabung di antara orang-orang yang mengerumuni arena berbentuk persegi setinggi paha itu. Shella sempat memperhatikan dari jauh untuk beberapa saat. Namun, rasa penasarannya yang membuncah membuatnya ikut mendekati Deva dan memperhatikan kakak panitia yang berbicara. “Apa itu?” Shella menunjuk buku berukuran A5 di tangan temannya. “Buku panduan gitu lah. Ada peraturan sama konsep rintangannya. Lihat, ada poin-poinnya juga.” Deva menunjukkan isi buku tersebut, sampai akhirmya Shella memintanya dan membacanya sendiri. Penjelasan kakak-kakak panitia tak berbeda jauh dengan apa yang ada di buku. “Nanti kalian diberi tiga kesempatan saat take point atau saat penilaian. Setiap mengambil kesempatan baru, skor yang sudah diperoleh sebelumnya akan di-restart dan mulai lagi dari nol.” “Ganteng …. Kakak panitianya ganteng dikacamata….” “Fokus ke penjelasan, Shel….” “Aw!” Satu cubitan menyerang pinggang Shella. “Ya—ya. Aku fokus!” Kakak panitia berkacamata itu melanjutkan, “Kalian bisa tes robot kalian di arena ini, tapi lima belas menit sebelum take point, robot kalian akan dikarantina, dan tidak boleh lagi ada yang diutak-atik.” Penjelasan masih berlanjut. Kedua gadis yang menjadi perwakilan sekolahnya itu menyimak dengan sungguh-sungguh agar tidak ada yang terlewat untuk dipahami. Setelah panitia selesai menjelaskan, dan tidak ada lagi yang ditanyakan, kerumunan itupun dibubarkan agar mereka kembali ke temaptnya masig-masing, lalu mulai memprogram robotnya. Momen mendebarkan bagi mereka berdua dimulai dari sekarang. **** Hawa panas, tegang, dan agak pengap meliputi atmosfer di sekitar Shella dan Deva. Semua peserta yang ada di sekeliling mereka seakan memberi tekanan berat satu sama lain. Membuat kedua gadis itu berkeringat penuh kekhaRahmaran. “Gimana nih, Shel. Robotnya error terus dari istirahat tadi,” tanya Deva panik. Shella menggigit bibir bawahnya. Jari-jarinya saling bertaut gelisah. Mereka sudah tak lagi menghitung berapa banyak percobaan yang merek lakukan sejak mentari mulai tergelincir ke arah barat. Robot Shella dan Deva enggan juga bergerak sesuai yang mereka inginkan, padahal program sudah dibuat sesuai yang diharuskan. Robot akan bergerak melintasi rintangan yang ada sambil mengambil poin sebanyak-banyaknya, sampai ke finish. Seharusnya begitulah robot mereka bekerja setelah mereka program. Tapi kenapa masih tetap error?! Shella frustrasi, bahkan Deva sudah terlihat pucat dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Mental mereka sudah benar-benar down dengan semua masalah ini. Shella ingin mengumpat dengan arena lombanya yang terbuka. Paparan sinar matahari ke arena lomba sangat berpengaruh pada sensor cahaya di robot lego mereka. Berulang kali mereka mengukur dan mencocokkan pantulan cahaya di arena dengan sensor, tapi matahari tak selamanya memacnarkan cahaya yang sama. Belum lagi, orang-orang yang lalu lalang menghalangi arena. Merubah kembali nilai pantulan cahaya yang sudah diukur. Gadis berambut pendek itu menjerit dalam hati. Andai saja robot ini miliknya dan merupakan barang murah, ia sudah membantingnya ke lantai sejak mengambil robot dari karantina tadi. “Peserta nomor 10.” Shella dan Deva mendapat nomor urut take point ke-14…. Gadis itu benar-benar mengumpat di dalam hati. “Dev—Deva?” Shella memandangi meja yang ditinggal penunggunya. Temannya tiba-tiba menghilang. Ah. Tidak ada waktu untuk memikirkan Deva. Shella harus melakukan sesuatu pada robotnya. Setidaknya mencoba apa yang bisa ia coba saat ini. Satu pesan masuk. Shella meraih handphone-nya yang tergeletak di meja. Satu pesan w******p dari pelatihnya telah ia terima. Sedari awal, kak Riki memang mengawasi mereka dari atas sambil sedikit-sedikit memberi instruksi melalui WA. Ia melihat beberapa obrolan sebelumnya, yang sepertinya dilakukan oleh Deva sebelum pesan ini masuk. “Coba view yang di area utamanya. Karena pencahayaannya beda dengan arena yang di sebelah. Bandingkan masih oke nggak nilainya.” Arena untuk perlombaan mereka memang ada dua. Satu arena utama untuk take point, satu lagi untuk pengukuran, atau untuk melakukan pengujian. Pesan lain masuk. “Coba terus, cek posisi sensor dan cek programnya.” “Ayo agak cepat. Waktunya udah mau habis.” Shella membalas “Oke” pada pelatihnya, lantas melanjutkan apa yang bisa ia kerjakan. Samar-samar ia mendengar peserta nomor 13 yang dipanggil untuk melakukan take point, dan itu benar-benar membuat Shella banjir keringat. “Peserta nomor urut 14, silahkan mendekati arena untuk melakukan take point.” Oh. s**l! Deva tak kunjung kembali juga. Terpaksa, ia harus tampil seorang diri. Dengan tangan gemetar dan mata yang mulai memanas, Shella melangkah perlahan mendekati kerumunan orang yang memandanginya. “Tenang, Shel. Tenang. Tinggal jalanin aja robotnya, terus tiggalin tempat ini.” “Kamu habis nangis, ya?” Pertanyaan dari salah satu panitia membuat Shella tersentak. “Ng—Nggak ….” Sial, pertanyaan itu malah membuat mata Shella semakin berair. Tidak! Jangan … jangan sekarang, kumohon. Aku harus menjalankan robot ini dulu…, katanya pada diri sendiri. Shella memposisikan robotnya, jarinya yang lemas menekan tombol start, dan seketika membuat robot itu bergerak. Percobaan pertama, gagal total. Robotnya menabrak rintangan pertama. Shella mecoba untuk kedua kalinya. Namun, hasilnya sama, kali ini robotnya malah berjalan tak beraturan. Kesempatan ketiga, Shella sudah pasrah. Robotnya sudah benar-benar kacau, dan tak ada satupun poin maupun rintangan yang berhasil dilalui. Tanpa basa-basi lagi, Shella mengambil robotnya dan berjalan cepat menuju tempatnya. “Kak, Deva hilang,” ketik Shella di WA. “Itu datang.” Shella menangkap sosok gadis dengan matanya yang memerah berjalan keluar dari toilet wanita. Dari suaranya yang sesenggukan itu, Shella tahu apa yang dilakukannya di toilet tadi. Kak Riki turut datang bersamaan dengan gadis itu. Melihat senyum pelatih yang langka itu, meruntuhkan pertahanan Shella. Bendungan pada matanya tak dapat lagi ia tahan. Semua perkataan menghibur nan hangat yang tak pernah ditampakkan kak Riki semakin membuat Shella mengucurkan air mata. Merasa payah dan mengecewakan guru serta orang-orang yang sudah percaya pada mereka. “Udah. Udah. Jangan nangis,” ucap pria muda itu. “Kalian udah berusaha sampai sekarang aja itu udah bagus.” Senyap. Tak ada jawaban yang keluar dari kedua mulut gadis itu. Hany terdengar suara napas yang tersendat dengan kepala yang menunduk dalam. Berusaha menutupi mata sembab dan pipi basah akibat air mata. Riki juga tidak berkata apa-apa lagi selain mengeluarkan suara-suara pelan untuk menenangkan. Tangannya menepuk-nepuk punggung gadis di samping Shella yang terlihat lebih tertekan darinya. Namun, hal itu malah membuatnya semakin mengucurkan air mata. “Eh, udah, Dev, udah. Kok malah tambah kenceng sih nangisnya?” kekeh Riki setengah bercanda. “Kan kakak udah bilang, kalian udah berusaha semaksimal mungkin. Kerja kalian itu udah bagus. Kenapa harus nangis?” “Bukan gitu...” Deva sesenggukan berusaha berucap. “…da kakak mah nggak ngerti aku…,” katanya. “Iyalah Kakak emang nggak ngerti kamu, karena Kakak bukan pacar kamu. Sekarang coba telepon pacar kamu, suruh dia ngertiin kamu.” Lagi-lagi kak Riki menggoda gadis yang malu-malu kesal itu, sedangkan Shella hampir tertawa karenanya. “Nggak ada pacar, Kak….” Shella semakin tersenyum lebar mendengar jawaban rekan satu timnya. “Kalau udah usahain yang terbaik, dan udah yakin 99% kita berhasil, ingat, selalu ada 1% kemungkinan kalian untuk gagal.” Riki terus berucap. “Kalau kalian merasa kecewa dan mengecewakan, kalian malah cuman buang-buang tenaga doang. Yang orang lain lihat itu cuman hasilnya. Kalau kalian menang, orang-orang bilang “Wah hebat” tanpa tahu gimana kalian berjuang, tapi, kalau kalah, ya orang-orang juga biasa. Kayak Kakak. Kakak bilang kakak kecewa sama kalian gara-gara gagal dan nggak menang? Kakak nggak bilang, ‘kan? Kenapa? Karena menurut kakak, kalian udah berhasil. Berhasil berusaha.” “Kakak yang tahu dan lihat sendiri usaha kalian sampe bisa ada di tempat ini, dan Kakak di sini bangga sama kalian. Kenapa kalian kecewa sama diri kalian sediri?” Deva tak berucap. Shella pun masih belum berani mengeluarkan kata-kata. Fokusnya masih pada menahan bendungan di dalam mata agar tidak membanjiri wajah. Ia merasa kalau sepatah kata saja ia berucap, bendungan rapuh itu akan hancur dengan sangat cepat. Melihat kebisuan dua gadis bimbingannya, Riki berusaha kembali berucap. “Shella, Deva, ingat. Yang tahu apa yang kalian lalui, cuman diri kalian sendiri, yang tahu lika-likunya, ya cuman kalian. Ingat masa-masa kalian latihan, karena tujuh hari dengan satu malam penuh masa kalian berlatih itu yang paling berharga, dan memang menurut kakak masa itu yang paling penting.” Shella mengatupkan kedua telapak tangan pada wajah. Mendengar semua perkataan pelatihnya benar-benar menggoyahkan hati, hingga mata ini sudah tak lagi sanggup menahan tumpahan bulir-bulir air mata. **** Setelah…entahlah, Shella tidak menghitung berapa lama dirinya dan rekan satu timnya butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum akhirnya mereka duduk bersama di atas jok mobil dan berangkat pulang menuju kota asal—Bandung. Matahari tiga perempatnya ditelan oleh cakrawala. Digantikan oleh langit yang menggelap dengan awan-awan kelabunya. Oh, apakah perjalanan pulang malam ini akan ditemani oleh rintik-rintik hujan? Ah, kalaupun begitu tak apalah. Setidaknya alam bisa memberikannya sedikit kesejukkan di antara raga yang masih terasa panas ini. Mobil terus bergerak maju menyusuri jalan besar yang penuh dengan kendaraan berlalu-lalang. Tanpa disadari angkasa sudah benar-benar gelap, dan senandung azan sayup-sayup terdengar di tengah keramaian jalanan. Mobil yang ditumpaki lima orang tersebut berhenti di sebuah Masjid besar yang entah ada di mana lokasi tepatnya. Shella turun diikuti Deva dan kak Riki yang masih berusaha menenangkan gadis berkacamata itu sejak keberangkatan. “Udah, atuh, Dev. Jangan nangis terus.” Begiulah kata yang dia ucapkan berulang-ulang. Shella yang mendengar beberapa kali tersenyum dan tertawa melihat reaksi yang diberikan Deva. Kata-kata itu membuatnya senang, sekaligus malu, karena nada suara yang seperti tengah mengejeknya. Gadis beriris coklat itu menyipitkan mata saat memasuki bangunan yang terang benderang di dalamnya. Jaket hitam yang dikenakan ia buka dan diikatkan ke pinggang, lalu melepas sepatu hitam yang menjadi alas kakinya di belakang tulisan Batas Suci pada tangga. Deva yang sedang tak melaksanakan ibadah duduk di dekat pintu masuk, kala Shella melangkah menuju tempat wudhu. Air yang lantas membasahi wajah dan beberapa bagian tubuhnya langsung menghantarkan kesegaran tiada tara. Wajah yang kaku dan sedikit basah karena air mata seperti tersapu bersih oleh air yang mensucikan itu. Shella sengaja men-delay beberapa detik gerakannya agar bisa lebih merasakan tiap tetes yang menyentuh kulitnya. Sungguh…Shella bersyukur bisa merasakan air sesegar ini. Beberapa menit kemudian, sembahyang berjamaah dilaksanakan. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit sampai para jamaah meninggalkan rumah sembahyang. Shella pun menyusul Deva yang ternyata sudah berdiri di dekat mobil—bersama Riki. Dari jauh, Shella mengira kalau pria itu masih menggodanya dari ekspresi cemberut yang dipasang Deva. Ia berjalan mendekat. “Ibu mana?” “Nggak tahu,” jawab Deva dengan nada jutek. Lah kok aku juga kena juteknya, sih…. “Shella, Deva!” Kedua gadis yang terpanggil menoleh pada suara wanita yang datang dari arah tempat-tempat makan—membawa beberapa bungkus kantong plastik di tangan. “Mau makan di jalan, atau mau makan dulu di sini?” Bu Riska yang memutuskan untuk pulang bersama dengan mereka—walau beda mobil—menawarkan seporsi nasi dan ayam Kentucky yang dibungkus untuk dibawa pulang. “Eeng….” Shella menoleh pada Deva yang sama-sama menoleh padanya. Sorot mata keduanya sama-sama memancarkan pertanyaan, “Gimana?” “Terserah kamu we, Shel.” Deva lagi-lagi menyerahkan keputusan kepada Shella. Gadis yang ditunjuk pun hanya bisa menghela napas. “Makan dulu di sini, boleh, Bu?” Shella tak suka berada di dalam mobil, terutama jika itu harus sambil makan makanan berat seperti ini. Daripada dirinya harus berakhir dengan memuntahkan kembali semua isi perut yang baru saja dimasukkannya, lebih baik ia berdiam diri lebih lama dulu di sini sebelum melanjutkan perjalanan. Bu Riska dan Bu Siti memperbolehkannya. Mereka pun makan untuk setidaknya tiga puluh menit, dan akhirnya melanjutkan perjalanan dengan perut kenyang, sampai Deva dan Shella tertidur lelap. **** “Ya! Medetashi, medetashi (Selesai, selesai).” Shella menutup kilas balik penuh kenangannya dengan tepuk tangan ringan dari beberapa orang. “Haah…. Capek juga, ya, cerita kayak gini.” “Ya iyalah. Karena kamu ceritanya banyak banget diselipin hal-hal nggak perlu yang bikin ceirtanya jadi panjang,” kata Deva. “Lihat! Udah jam berapa sekarang.” Sang gadis menunjuk jam dinding putih di atas papan tulis, yang menunjukkan pukul 17.05. Kelebihan lima menit dari jam pulang seharusnya. “Oh iya!” Shella menyuruh sang adik kelas. “Rangga, cepet kamu siapin dan bubarin ekskulnya. Udah lebih dari jam pulang ini soalnya.” Lelaki bertubuh kecil itu menuruti perkataan seniornya dan segera bejalan menuju depan kelas. Berseru untuk segera mengakhiri aktivitas masing-masing dan membereskan segala peralatan dan barang-barang pribadi, karena kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja akan segera berakhir. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN