Luka Lama - 5 (Flashback)

2076 Kata
Ini gil*! Tapi ... Jika tak melakukannya, mungkin dia yang akan benar-benar gil*. Dyra mungkin sudah kehilangan akal karena putus asa, tapi dia tak peduli. Selagi apa yang diinginkannya menjadi miliknya, sekali pun harus menggunakan cara kotor, maka akan ia lakukan. Kembali menundukkan pandangan, Dyra membuka telapak tangannya yang sejak tadi terkepal erat, memperlihatkan sebuah bungkusan kecil yang telah ia persiapkan. Hasil dari membeli pada seseorang yang tak diketahuinya karena bertransaksi secara rahasia. Selain malu identitasnya terbongkar, Dyra juga memastikan tak ada yang mengetahuinya. Menyelipkannya di dalam dompet, Dyra mengela napas panjang, mematut diri di depan cermin seukuran tubuh. Memastikan jika dress hitam di atas paha yang memeluk tubuhnya saat ini tampak membuatnya memesona. Si*lnya, orang yang ingin ia buat terpesona, tak pernah bisa melihat kecantikan yang dimiliki karena sudah tertutup cinta buta pada wanita lain. Mendengkus sinis, sudut bibir Dyra tertarik ke atas hingga membentuk sebuah seringai. Mengangkat dagu, wanita itu memandang lekat dirinya dari pantulan cermin. Malam ini, dia terpaksa menanggalkan semua kewarasan dan harga diri demi bisa mencapai tujuannya. "Mungkin, setelah ini, kamu akan membenciku, tapi ... Dengan berjalannya waktu, aku yakin kamu bisa menerimaku seutuhnya nanti." Menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, Dyra berbalik, mengayunkan langkah menuju pintu kamar. Bersiap menjalankan misinya. Memesan sebuah taksi, Dyra menatap suasana malam dari balik jendela. Dengan tangan yang saling meremas di atas pangkuan, wanita itu termenung sejenak. Ada secuil perasaan gamang yang merongrong, hingga membuatnya terpikirkan untuk membatalkan semua rencana gil* yang akan dilakukannya. Terlebih, membayangkan senyuman manis dari seseorang akan berubah menjadi raut kebencian untuknya. Sanggupkah Dyra menerima itu semua? Menggelengkan kepala pelan, Dyra berusaha bertahan pada keputusannya. Tak berapa lama, taksi yang Dyra tumpangi sudah tiba di tempat tujuan. Usai membayar, wanita itu turun. Menengadahkan kepala, hanya untuk menatap gedung apartemen yang menjulang angkuh di hadapannya. Di mana ... Sosok yang akan di temuinya saat ini, menempati salah satu unit di sana. Menggigit bibir bawah, Dyra memejamkan mata sejenak, mengela napas panjang demi mengais keberanian yang sempat tercecer. Membuka kembali kedua matanya, Dyra mengayunkan langkah dengan dagu terangkat. Membabat semua keraguan yang sempat membayangi. Dari pesan singkat yang dikirim pada sosok itu, Dyra bisa memastikan jika kedatangannya tak akan sia-sia karena pria yang ingin ditemuinya tengah berada di unit apartemennya. Berjalan di lorong apartemen yang sepi, wanita itu mengayunkan langkah di iringi rasa gamang yang ternyata tak juga enyah. Terlebih, saat akhirnya sampai di depan unit apartemen pria itu, jemari telunjuk Dyra bergetar saat akan menekan bel. Si*l! Ini benar-benar memalukan. Beruntung, tak ada yang memerhatikan kegugupannya. Astaga ... Bagaimana cara untuk mengendapkan rasa gugup yang membuat tubuhnya gemetaran? Dyra nyaris terlonjak saat lamunan membuatnya tak sadar jika pintu di depannya terbuka. Memperlihatkan sosok yang selalu berhasil menggetarkan hatinya. Terlebih, saat senyuman menawan itu tertangkap penglihatannya. "Dy?" Berdeham canggung, Dyra menyelipkan anak rambut ke belakang telinga dengan gerakan pelan, tak lupa memberi senyuman tipis. "Apa gue mengganggu?" Dendra tak lekas menjawab, pria itu memindai penampilan sahabatnya yang tampak sangat berbeda. Kemana jeans belel robek di bagian paha serta lutut, kemeja atau kaus kebesaran, serta topi yang selalu menyembunyikan surai hitam panjang yang kini tergerai indah. "Dra? Hei? Halo?" Menjentikkan jari di depan wajah pria yang memandangnya tanpa berkedip, Dyra berusaha keras menyembunyikan rasa senangnya. Tau begini, seharusnya sedari dulu dia merubah penampilan. Hingga tak membuatnya kehilangan pria yang kini menambatkan hati pada sosok lain. Meringis malu, Dendra mengelus belakang leher dengan canggung. "S—sorry, gue ... Cukup takjub sama penampilan lo malam ini. Abis dari mana sih? Kondangan?" Mendengkus, Dyra tak menjawab pertanyaan yang Dendra lontarkan. Ia justru mendorong tubuh sahabatnya hingga melangkah mundur, memberinya ruang untuk masuk ke dalam apartemen pria itu tanpa dipersilakan lebih dulu. Berdiri cukup lama dengan high heels yang kini terpasang dikedua kaki ternyata cukup menyiksa. Tapi Dyra berusaha menahan agar tak merus*k penampilannya. "Dy?" Usai menutup pintu, Dendra ikut masuk ke dalam, mengekori Dyra yang sudah mendudukkan diri di sofa panjang yang berada di ruang tengah apartemennya. Bersilang kaki, Dyra bersedekap tangan. Sedikit mendongak untuk menatap Dendra yang masih berdiri di samping sofa yang didudukinya. "Gue ke sini, khusus mau merayakan kebahagiaan lo." Tersenyum cerah, Dendra menepuk tangan penuh semangat. "Gue pesan makanan kalau begitu. Melakukan perayaan harus ada yang disajikan, masa cuma disuguhi obrolan? Sebentar, gue ambil ponsel di kamar." Menganggukkan kepala, Dyra memerhatikan kepergian Dendra. Setelah sosoknya tak lagi tertangkap penglihatan, senyuman di wajah wanita itu meluruh dengan cepat. Memejamkan mata sejenak, ia kembali meyakinkan diri, jika yang dilakukannya sudah tepat. Pria itu ... Ia tak bisa merelakannya untuk sosok lain. Tidak! Dendra memang ditakdirkan bersamanya. Keduanya sudah saling mengenal sedari mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sementara perempuan itu? Sudut bibir Dyra terangkat menjadi senyuman sinis. Berdecih setiap kali mengingat wanita yang sudah mengoyak kebahagiaannya. Merampas sosok yang selama ini menjadikannya sebagai prioritas. "Gue udah pesan makanan, lo mau ada yang dipengen nggak? Biar sekalian gue pesankan." Suara Dendra membuat Dyra menegakkan posisi tubuhnya, sewaktu pria itu mengisi tempat kosong di sampingnya, Dyra menggeleng, "nggak usah, gue ikut lo aja. Terserah mau pesan apa. Tau sendiri kan, gue nggak pilih-pilih soal makanan, yang penting enak dan bikin kenyang." Mendengkus, Dendra tersenyum dengan tangan kanan yang terangkat dan refleks mendarat di atas kepala Dyra, mengacak rambut wanita itu seperti yang sering dilakukannya. "Ish! Dra, rambut gue udah cantik-cantik rusak nih!" "Lagian, mau makan gratis di tempat gue aja dandan kayak mau kondangan di hajatannya artis." "Ck! Bawel deh, gue kan lagi belajar jadi perempuan." "Emang selama ini lo apa? Oh, iya gue lupa, lo perempuan jadi-jadian ya?" Merangsek maju, Dyra memiting leher Dendra, membuat pria itu tergelak puas alih-alih meminta maaf dan memohon untuk dilepaskan. Tawa keduanya lebur, mengisi apartemen yang sebelumnya sepi. Usai berhenti saling mengejek, keduanya terlibat obrolan cukup lama, sampai suara bel apartemen membuat Dendra bangkit dari duduknya untuk berderap menuju pintu depan. Dan, seperti yang pria itu duga, sosok yang datang adalah kurir pengantar makanan pesanannya. Usai menyelesaikan pembayaran dan mengucap terima kasih, Dendra kembali ke tempat di mana Dyra menunggu. "Taraaa! Makanan datang ...." Mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan kantung plastik berlogo tempat makan yang cukup sering mereka pesan. Dendra bergegas mendudukkan diri di samping Dyra lagi, bekerjasama membongkar makanan yang kini menyesaki meja di depan mereka. "Hm ... Biar gue yang ambil minum ya," menepuk pelan lengan Dendra, Dyra mencangklong tas ke bahu kirinya dan bangkit dari duduknya. Menengadahkan wajah, Dendra mengerutkan kening, "lo ngapain bawa tas? Cuma ambil minum doang kan? Ck! Jangan bilang, takut gue geledah?" Dengan tangan yang mencengkram ujung dress yang dikenakannya, Dyra terkekeh kering, mengibas tangan di depan wajah, wanita itu menggeleng sebagai bentuk bantahan atas tuduhan yang Dendra layangkan. Ia tau pria itu hanya bergurau seperti biasa. Si*lnya, kali ini cukup membuat Dyra menegang meski berusaha ia tutupi agar tak dicurigai. "B—bukan begitu, gue ... Hm, itu—ekhm! Mau sekalian ke toilet, dan jaga-jaga, kalau dandanan gue yang langka ini masih sempurna atau perlu perbaikan?" "Dandan lo masih utuh, Dy. Astaga, sejak kapan lo ribet soal begituan sih? Cabe nyelip di gigi aja masih PD buat cengar-cengir lo!" "Ck! Ini kan acara spesial, Dra. Udah ah, ribet lo, gue ke belakang dulu, sekalian ambil minum buat kita." Tak mengindahkan ucapan Dendra selanjutnya, Dyra memilih segera beranjak pergi. Berusaha untuk tak memperpanjang perdebatan mereka. Yang nantinya justru bisa menimbulkan kecurigaan. Sesampainya di dapur, Dyra sesekali menolehkan kepala ke arah belakang, memastikan jika Dendra tak akan menyusulnya. Mengela napas panjang, demi mengais secuil ketenangan yang kembali terkoyak. Dyra membuka tas miliknya, merogoh untuk mencari dompet yang tersimpan di sana. Tapi, tentu saja bukan benda itu yang dia cari, melainkan ... Senyum Dyra terukir di bibir berlipstik merahnya, mendapati bungkusan yang terjejal di dalam sana. Kembali menoleh untuk memastikan keadaan, Dyra meraih gelas panjang dan membuat es teh manis kesukaan Dendra. Sebelum kemudian ... Membuka perlahan bungkus kecil yang disimpannya dan menjadi hal terpenting akan rencananya malam ini. Bubuk berwarna putih ia tuangkan ke dalam gelas berisi es teh yang sudah ia buat. Sementara untuk dirinya sendiri, Dyra hanya menyiapkan air putih biasa. Memasukan kembali bekas bungkusan kecil itu ke dalam tasnya. Dyra mencangklong tas dibahu kiri, lalu membawa dua minuman ke depan, di mana Dendra sudah menunggu. "Ini dia minumannya, silakan ...." Meletakan gelas di dekat Dendra, Dyra berusaha untuk bersikap biasa. "Wih ... Tau aja kedoyanan gue. Kalau begitu, ayo kita mulai makan." "Tunggu, sebelum itu, kita bersulang," meraih gelas miliknya yang berisi air putih, Dyra merekahkan senyuman manis, "untuk merayakan sahabat gue yang—" meneguk ludah kelu, ia berusaha melanjutkan kata-katanya meski terasa begitu sulit, seolah ada duri yang mengganjal ditenggorokan. "M—melamar, kekasihnya." Terkekeh dengan raut bahagia, Dendra meraih gelas berisi es teh buatan Dyra dan ikut mengangkatnya. "Makasih, lo emang sahabat terbaik gue, Dy." "Ya, tentu saja," balas Dyra, menelan hantaman rasa sakit dari tangan tak kasat mata, mendengar pengakuan Dendra atas statusnya di hidup pria itu. Sebelum kemudian, membiarkan kedua gelas mereka saling beradu hingga menciptakan suara berdenting. Lalu mulai meneguknya secara perlahan. Di tengah pergerakannya yang masih meminum minumannya, tatapan Dyra tak lepas dari sosok Dendra yang tak pernah memudarkan senyuman. Pria itu kemudian dengan semangat mengajaknya menyantap makanan yang sudah tersaji di depan mereka. Di selingi obrolan, yang di d*minasi rencana Dendra yang berniat melamar wanita yang baru beberapa bulan menyandang status sebagai kekasihnya. Pria itu begitu antusias, sampai mungkin ... Tak bisa menemukan tatapan penuh luka yang terpancar di kedua netra milik Dyra. Selesai makan, dan membersihkan semuanya. Dyra memutuskan untuk izin ke toilet, meninggalkan Dendra yang masih berada di sofa seorang diri. Di depan cermin westafel, Dyra menatap sosoknya yang tampak kalut. Dengan kedua tangan yang mencengkram pinggiran westafel, wanita itu mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah, seolah baru saja melakukan lari begitu jauh. Dad*nya bergemuruh, sesak oleh perasaan bimbang yang kembali menyerang di detik-detik terakhir keputusannya. Menyalakan keran air, dengan kedua telapak tangannya, Dyra menampung kucuran air tersebut, sebelum membasuhkan di wajahnya. Mengangkat kepala, Dyra menelan paksa semua ragu yang sebelumnya masih menggelayut. "Tidak, sudah terlambat untuk mundur. Apa pun konsekuensinya, yang terpenting ... Dendra tetap jadi milik gue." Bermodal keberanian yang hanya segenggam tangan, Dyra berusaha bertahan pada rencananya. Usai mengeringkan wajah basahnya. Tanpa memoles ulang makeup yang sebagian besar sudah luntur, wanita itu mengayunkan langkah keluar dari kamar mandi. Kedua tangannya mengepal erat di masing-masing tubuh, saat mendapati Dendra yang masih bertahan di sofa. Tapi ... Tentu saja, dengan keadaan yang berbeda. Pria itu sudah menanggalkan atasannya, mengacak rambut dengan erangan frustasi. Mengetatkan rahang, Dyra berusaha mengeraskan hati, saat melangkah maju agar kian dekat dengan pria itu. "Dra? Lo ... Kenapa?" Dendra yang sebelumnya menunduk sembari mengacak-acak rambut, mengangkat wajah dengan cepat. Wajah pria itu sudah sangat memerah, ah ..., bahkan di sekujur tubuhnya, dengan peluh yang membasahi. Bangkit dari duduknya, Dendra menatap Dyra dengan tak fokus. Pria itu berusaha keras untuk tetap menjaga kewarasannya yang nyaris lenyap di telan perasaan gil* yang kini menguasai dirinya. "Dy," tersengal-sengal, ia berusaha untuk menyelesaikan ucapannya, meski kepalanya terasa begitu pening, seolah baru saja dihantam sesuatu. "L—lo sebaiknya pulang sekarang!" "Lo kenapa Dra?" Tanya Dyra dengan suara yang nyaris seperti bisikan. Tangan kanannya terangkat, sebelum kemudian mendarat di leher Dendra, dengan ibu jari, ia mengelus lembut, tapi berhasil menghancurkan batas kewarasan yang sejak tadi Dendra jaga mati-matian. "AKH! SI*LAN!" Meraung keras, Dendra mencengkram tangan Dyra yang menyentuhnya. Mendorong tubuh wanita yang merupakan sahabatnya itu hingga jatuh ke atas sofa. "Lari Dy, sebelum gue berubah jadi monster buat hidup lo!" Mengeraskan hati, Dyra tetap bertahan di posisinya yang terbaring di atas sofa, dengan kedua kaki yang masih menjuntai di lantai. Alih-alih melarikan diri seperti yang Dendra harapkan karena reaksi tubuhnya yang tiba-tiba saja membuatnya kelimpungan, Dyra justru meraih salah satu tangan Dendra dan menariknya dengan entakan hingga tubuh pria itu jatuh menindihnya. "Gue yang bikin lo jadi monster, Dra." Merangkul kedua tangannya di leher Dendra yang menyorot penuh keterkejutan, Dyra justru menikmatinya. "K—kenapa? Kenapa lo lakukan ini, Dy? Lo sahabat gue!" Tersenyum dan memberi satu kecupan di dagu pria itu. Dyra menatap netra yang kini menyorot penuh kekecewaan. "Karena lo hanya akan jadi milik gue, sampai kapan pun." "BRENGS*K LO DY!" Melepas kasar dekapan Dyra, Dendra menyorot penuh kebencian. "Lo akan menyesal, gue pastikan itu!" Desisnya, sebelum akhirnya menyerah. Saat sisa kewarasannya terkalahkan dengan entah—apa pun itu yang sudah Dyra berikan padanya. Malam itu, tak hanya persahabatan mereka yang hancur. Tapi hubungan keduanya benar-benar terkoyak oleh kekecewaan yang kemudian berubah menjadi kebencian yang mengakar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN