Luka Lama - 4

1950 Kata
Suara teriakan yang saling bersahutan di tengah malam bak sebuah lagu pengantar tidur bagi Binar, bahkan ... Sedari kecil. Jadi, bermodal earphone yang menyumpal kedua telinganya, gadis itu menaikan selimut hingga sebatas dagu. Memejamkan mata, meski kantuk tak juga mendera. Dua bulan sejak Binar mendapati keberadaan sang Papa dengan wanita lain, ia tak pernah sekali pun membahasnya. Entah mengkonfirmasi hal tersebut pada pria itu, atau pun mengadukannya pada sang Mama. Dua orang dewasa itu terlalu sibuk, dan keberadaannya yang sejak dulu seperti sosok tak kasat mata membuatnya urung melempar topik yang kian memantik pertengkaran. Jadi, bungkam adalah satu-satunya jalan yang dipilih. Mengela napas panjang, kedua kelopak mata yang sebelumnya ia pejamkan secara paksa, perlahan terbuka. Di tengah suasana kamar yang tampak remang-remang, gadis itu bangkit. Merubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Sebelum kemudian, kedua kaki telanjangnya menjejak lantai yang terasa dingin. Meraih kenop pintu, ia dorong perlahan hingga menciptakan celah kecil yang kian melebar, hingga tubuhnya bisa melewati ambang pintu. Mengayunkan langkah setelah berhasil keluar dari kamar, suara pertengkaran kian tertangkap jelas pendengarannya. Dari tempatnya berdiri, tatapan Binar jatuh pada sosok kedua orangtuanya yang masih saling melempar m*kian yang berada di lantai bawah. Apa mereka tak memiliki kegiatan lain selain bertengkar? Atau ... Itu ungkapan cinta khas keduanya? Baiklah, tentu saja itu konyol. Mana ada ungkapan cinta dengan saling mem*ki pasangannya sendiri? Hanya saja, Binar hanya tak habis pikir dengan sikap ajaib kedua orangtuanya. Kening Binar mengernyit, saat mendapati hal janggal yang berada di sana. Dua koper besar yang digenggam erat sang Papa mencuri perhatiannya. Sekali pun pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan, pria itu biasa membawa satu koper dengan ukuran yang lebih kecil. Tidak seperti yang dilihat Binar saat ini. "SUDAHLAH! UNTUK APA MEMPERTAHANKAN RUMAH TANGGA YANG SEPERTI NERAK* BUAT KITA BERDUA?! BERPISAH ADALAH JALAN TERBAIK!" "JALAN TERBAIK? TERBAIK APA YANG KAMU MAKSUD, HAH?! INI SAMA SAJA DENGAN KAMU YANG LARI DARI TANGGUNGJAWAB!" Tersenyum muram, kedua tangan Binar mencengkram erat pembatas. Dari lantai atas pun ia masih bisa menangkap pertengkaran kedua orangtuanya. Mengingat, suara mereka yang begitu keras. Keduanya masih terlibat perdebatan sengit, Dendra bersikeras ingin pergi, pria itu sudah muak dengan kehidupannya yang memiliki keluarga tanpa adanya cinta. Pria itu menggeret kedua koper besarnya, tapi langkahnya terinterupsi saat salah satu kakinya ditahan. Menolehkan kepala, ia dikejutkan dengan Dyra yang tengah bersimpuh sembari memeluk kaki kirinya. "Lepas! Apa yang kamu lakukan?" "Nggak! Aku nggak akan biarin kamu pergi!" "Dyra, lepaskan! Jangan keras kepala. Kita memang tidak bisa bersama. Selama bertahun-tahun, hanya untuk saling menyakiti. Jadi, ayo berpisah dan cari kebahagiaan masing-masing." Menggeleng keras, dengan wajah basah karena air mata, Dyra tetap tak mau melepaskan Dendra. "Nggak! Kamu udah janji dulu, Ndra. Mana janji kamu? MANA?!" Karena tersulut emosi, Dendra mengentak keras kakinya yang dipeluk Dyra, hingga wanita itu terjengkang. Dengan rahang mengetat keras, Dendra menatap nyalang sosok yang masih berstatus sebagai istrinya. "Aku akan tetap bertanggungjawab, tapi tidak dengan terus terikat sama kamu." Mengeraskan hati, ia bersiap membalik tubuh dan pergi. Tapi ... Entah dorongan dari mana, hingga membuat Dendra mendongak ke lantai atas, hingga tatapannya bersirobok dengan sosok yang menatapnya dengan raut yang sulit diartikan. Dendra cukup terkejut saat tau, jika ada Binar yang entah sejak kapan menyaksikan pertengkarannya dengan Dyra? Berdeham, pria itu menulikan pendengaran dari isakan pilu Dyra yang masih bersimpuh di atas lantai. Sebelum kemudian berbalik dan mulai mengayunkan langkah menuju pintu keluar, yang saat ini bak sebuah jalan kebebasan dari ikatan yang selama ini mencekiknya. Malam itu, Binar tau, tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari keutuhan keluarganya yang sudah sejak lama reatk, dan tinggal menunggu waktu untuk hancur. Dan ternyata, sekaranglah waktunya. *** "Bi!" Teriakan seseorang membuat Binar yang melangkah lesu terhenti, menolehkan kepala, ia dapati sosok Agni yang berderap cepat kearahnya. "Astaga!" Merangkum wajah Binar dengan kedua tangannya, Agni menatap lekat sang sahabat. "Lo semalam dapat jadwal ronda, Bi?" Berdecak, Binar melepas tangan Agni dari wajahnya. Tanpa membalas perkataan gadis itu, ia melanjutkan langkah yang sebelumnya terjeda. Mendengkus sebal karena diabaikan, Agni mensejajarkan langkah dengan Binar yang masih memilih bungkam. "Kenapa sih lo? Sakit gigi? Diem mulu perasaan—lah, kok? Heh, Bi, lo ngapain ke UKS?" "Kepala gue pusing banget, tolong mintain izin ya?" "Lah, kalau sakit ngapain lo berangkat?" Karena beristirahat di rumah pun bukan menjadi pilihan. Yang ada, kepala Binar kian sakit. Mendengar teriakkan disertai m*kian dan suara benda pecah dari kamar sang Mama. Gadis itu tak lagi bisa memejamkan mata. Seusai menyaksikan puncak dari drama kedua orangtuanya, dengan kepergian sang Papa di tengah malam. Ia benar-benar terus terjaga hingga matahari meneriakkan pagi. Mengela napas, Agni memperbaiki letak poninya, sebelum kemudian menganggukkan kepala. "Yaudah deh, sono istirahat, selain lingkaran hitam di bawah mata, muka lo pucat banget Bi, gue kira keputihan bedak—eh, tapi lo kan nggak pernah dandan ya. Udah cantik, sampai bikin pentolan sekolah klepek-klepek." "Nggak usah mulai." Tergelak puas, karena sudah berhasil menggoda Binar. Agni mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V. "Makasih Ni, udah bantuin gue." "Dih, apaan sih lo? Sok-sok sungkan gitu." Meninju pelan bahu Binar, Agni akhirnya pamit menuju kelas mereka. Meninggalkan sahabatnya yang menyeret langkah menuju UKS. Menyapa Dokter jaga, Binar mengatakan keluhannya, gadis itu kemudian diminta berbaring untuk diperiksa kondisinya. "Kamu kurang istirahat, terus anemia juga. Nanti Saya kasih obat ya, istirahat saja dulu. Kalau masih belum dirasa baik kondisinya, lebih baik izin untuk pulang. Jangan memaksakan diri." Binar yang tengah berbaring di atas brankar mengangguk, "iya Dok, terima kasih." Sayangnya, kondisi Binar memang tak membaik hingga jam istirahat. Dan disarankan untuk pulang. Selain wajahnya yang kian pucat, suhu tubuhnya pun semakin terasa panas. "Sorry ya, Ni, gue jadi nyusahin lo." Binar merasa tak enak hati, gara-gara dia, Agni harus meminta izin untuk mengantarnya pulang. Beruntung, sekarang masih jam istirahat. "Bi, jangan mulai deh, kan gue udah izin. Lagian, abis anterin lo, bisa langsung balik ke sekolah." "Tapi, lo jadi nggak bisa nikmatin jam istirahat." "Tadi pagi gue udah sarapan banyak, jadi nggak masalah lewatin makan siang." Binar tak bisa memercayai sepenuhnya. Karena bisa saja, Agni berkata seperti itu hanya untuk mengurangi rasa bersalahnya. Sesampainya di parkiran sekolah, keduanya menuju motor matic milik Agni yang terparkir di sana. Belum sempat sampai ke tujuan. Mereka sudah dihadang lebih dulu. "Mau kemana lo?" Binar mengerutkan kening, ia tak mengerti, sejak kapan Eric dan gerombolannya berada di sini? Apa karena fokus bicara dengan Agni, dia sampai tak sadar? "Bukan urusan lo yang pasti." Jawab Binar ketus dan tak memedulikan Eric yang mungkin saja kesal karena ucapan yang dilontarkannya. "Binar sakit, jadi dia izin pu—aduh!" Meringis, Agni mendelik pada Binar yang menatap datar. Tak memperlihatkan wajah berdosa karena sudah menginjak kakinya dengan kekuatan penuh. Mana sahabatnya yang tadi lemas tak berdaya? Heran Agni. "Lo sakit?" Tanya Eric yang memerhatikan wajah Binar lebih seksama. "Iya, muka lo kayak orang sakit." "Dan muka lo kayak orang yang suka ikut campur urusan orang lain—minggir!" Mendorong tubuh Eric agar menyingkir dari hadapannya. Binar menggeram kesal karena cowok itu bergeming di tempatnya. Astaga ... Binar sudah tak lagi memiliki tenaga untuk berkonfrontasi. Kepalanya kian terasa pusing dengan tubuh lemas. Beruntung, ada Agni yang memapahnya. Dia jadi merasa bersalah karena sempat menginjak keras kaki gadis itu. Binar kesal, Agni memberitahukan kondisinya pada Eric. "Gue yang anter." Jelas, itu bukan sebuah pertanyaan, tapi pernyataan. "No, lo bawa mobil kan?" Tanya Eric pada salah seorang temannya yang mengangguk. "Bawa, Bos." "Pinjam dulu sini, gue hari ini pake motor." "Kenapa memangnya kalau pake motor?" Tanya Agni yang lupa bersikap gugup di depan Eric. Mungkin karena jiwa keponya lebih mendominasi. "Lo nggak liat kondisi temen lo yang bisa tumbang kapan aja? Bahaya kalau naik motor." "Iya, apalagi Bos kalau nyetir motor kayak lagi ikut balapan. Nanti yang dibonceng jatuh di jalan pun bisa-bisa dia nggak ngeh—aduh! Bos, kok gue ditabok." "Makanya jangan ember kalau ngomong." Meringis, salah satu teman Eric yang tadi mengoceh memberikan gestur seolah-olah mengunci mulut. "Ayo," tak mengindahkan penolakan yang Binar lontarkan, Eric berjalan menuju mobil salah satu temannya yang ia pinjam. "Bi," bisik Agni sembari menyenggol lengan sahabatnya yang tetap bergeming. "Udah, ikut Eric aja. Sorry, bukannya gue nggak mau nganterin. Tapi lebih enak kalau lo pulang naik mobil kan? Nggak kepanasan, terus bisa istirahat juga di jalan. Bener kata temennya Eric, kalau lo tumbang terus pingsan pas masih diperjalanan gimana?" Mengela napas, Binar mengangguk samar, "nggak apa-apa, thanks Ni, udah bantuin." "Ck! Nggak usah sungkan segala. Udah, ayo, gue bantu lo ke mobil temennya Eric." Memapah Binar yang berjalan sedikit terseok karena tubuhnya yang melemas, Agni membantu gadis itu menuju Eric yang sudah membukakan pintu bagian penumpang. Selama perjalanan, keduanya tak terlibat pembicaraan. Eric tampak tenang berkendara, sementara Binar memejamkan mata dengan kepala yang disandarkan pada jendela mobil. Sejujurnya, selain karena mengistirahatkan tubuh, ia menghindari suasana canggung yang menjerat mereka. Tapi siapa sangka? Binar justru benar-benar terlelap. Sebelum kemudian, guncangan pelan dibahunya membuat tidurnya terusik. Mengerutkan kening, dengan mata yang terbuka secara perlahan. Binar setengah linglung, mengedarkan pandangan karena merasa asing pada sekitarnya. Tapi atensinya jatuh pada wajah familiar yang berada cukup dekat dengannya. "Sorry, gue terpaksa usik tidur lo. Tapi—" menggaruk belakang kepalanya dengan senyuman canggung, Eric berdeham, "kita sudah sampai." Menegakkan posisi duduknya secara tiba-tiba. Binar yang sudah sadar sepenuhnya. Menggaruk pipi untuk mengalihkan rasa kikuk. "O—oh, iya. Hm ... Makasih." Sejenak, keduanya terjebak senyap. Sampai kemudian Eric membuka seat belt dan keluar dari dalam mobil, dengan Binar yang sejak tadi mengikuti pergerakannya. Gadis itu tersentak, tak menyangka jika Eric membukakan pintu untuknya. Bergerak cepat dengan membuka seat belt dan mengenakan tas yang sebelumnya diletakan di atas pangkuan. Binar segera keluar, hingga berhadapan dengan Eric yang baru saja menutup pintu mobil. "Sekali lagi, makasih buat tumpangannya." "Nggak masalah, anggap aja balas budi, karena lo dulu pernah kasih pertolongan." Binar yang tak mau mendebat hanya bisa mengela napas sembari menganggukkan kepala. Cowok itu selalu melempar alasan yang sama setiap kali memberi bantuan padanya. Padahal, pertolongan yang Binar lakukan hanya satu kali. Dan itu pun, sudah Eric bayar dengan berbagai pertolongan yang pria itu berikan. Menggaruk kening, Eric berdeham hingga mengoyak lamunan sesaat Binar. "Kalau begitu, gue balik ke sekolah dulu." "O—oh, iya, hati-hati, dan ... Terima kasih." Menggumam singkat, Eric mengangguk. Lalu memutari mobil dan kembali menempati kursi kemudi. Sebelum melaju, ia sempat menyalakan klakson sebagai tanda pamit pada Binar yang mengangguk dan melambaikan tangan. Setelah mobil yang Eric kendarai tak lagi tertangkap penglihatan, Binar mengayunkan langkah menuju rumahnya. Tapi, pergerakannya terhenti, saat sebuah taksi berhenti di depan gerbang rumah. Penasaran, Binar akhirnya memutuskan untuk menunggu sosok yang—tak—diketahuinya itu turun dari dalam sana. Matanya terbelalak, mendapati sosok wanita tua yang tak kalah terkejut melihat keberadaannya. "Nenek!" Jerit Binar antuasias, berderap cepat menuju wanita tua yang membuka lengan untuk menyambut pelukan sang cucu semata wayangnya. "Tumben Nenek ke sini?" Usai melepas pelukan, Binar menatap sang Nenek yang cukup jarang ditemui. Wanita tua itu tinggal seorang diri dan menjalani kehidupan dari uang pensiunan sang suami. Sejak dulu, tak pernah mau diajak tinggal bersama putrinya yang hidup nyaman. Meski itu sekadar fasilitas, tidak dengan kehidupan rumah tangganya. Tersenyum muram, tangan yang sudah dipenuhi keriput itu mengelus pipi lembut sang Cucu. "Nenek dapat kabar, Mamamu—" mengela napas panjang, ia terlihat gamang. "Kondisinya semakin tak stabil." Ikut tersenyum muram, Binar mengangguk mengerti. Jadi kabar perpisahan orangtuanya sudah sampai ditelinga Neneknya? Ah, mungkin si Mbok yang menghubungi. Mengingat, kondisi sang Mama memang kian mengkhawatirkan. Wanita itu terus menangis dan berteriak dengan suara gaduh dari barang-barang yang dibanting di dalam kamar yang terkunci. Itu ... Bahkan jauh lebih buruk dari pertengkaran rutin yang terjadi sewaktu sang Papa masih ada di rumah. Binar hanya bisa menebalkan kesabaran. Mengingat, kehidupan tenang yang ia damba, sepertinya masih sangat lama terwujud.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN