"Baiklah, biarkan dia masuk." Ares bahkan tak memercayai dirinya sendiri, jika kata itu yang akhirnya keluar. Bukan sebuah pengusiran yang sudah jarang ia berikan saat kehadiran Binar. Entahlah, mungkin kehadiran gadis itu memang masih ia anggap sebagai pengganggu, tapi di sisi lain, Ares seolah tak mempermasalahkannya. Apa mungkin, dia mulai terbiasa? Suara pintu yang terbuka, mengoyak lamunan Ares. Menolehkan kepala, ia dapati Binar yang sudah masuk dengan cengiran lebar, sembari memperlihatkan rantang susun. Barang yang pernah ia buang ke tempat samp*h tanpa perasaan. Raut murka Binar justru menjadi penghiburan untuknya kala itu. Ya ... Sebelum akhirnya mendapat b*geman keras hingga tulang hidungnya cidera. "Ck! Udah jam makan siang. Kenapa masih betah urusin pekerjaan? Perut j

