Luka Lama - 26

1888 Kata

Dendra sampai di rumah orangtuanya. Sang Ibu menyambut penuh suka cita kepulangannya. Sementara sang Ayah, hanya menatap datar. Bahkan acara televisi yang tengah menayangkan berita, seolah jauh lebih penting dari kepulangan putranya. Dendra sudah mulai terbiasa mendapat pengabaian sang Ayah. Hal yang membuat sudut hatinya terkekeh mengejek. Karena apa yang kini menimpanya, dulu pernah dialami Dyra dan Binar. Keduanya lebih sering menatap punggungnya yang berlalu tak acuh. Alih-alih memberi senyum hangat sebagai kepala keluarga. "Nak, mau istirahat dulu apa makan siang?" Tanya sang Ibu dengan wajah berbinar. Berhubung hari libur, sang Ayah tengah berada di rumah. Tapi pria itu memilih bersantai dan tak tertarik merecoki putranya yang baru saja pulang, seperti sang istri. "Aku mau bicara

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN