"A—aduh! Pelan-pelan dong, Wen." "Ck! Nggak usah lebay! Biasanya juga dapat luka lebih dari ini, lo masih bisa cengengesan." Merengut masam, Tara akhirnya memilih pasrah, meski sesekali melayangkan protes sembari mendesis menahan perih karena luka-luka di wajahnya. "Itu perempuan apa kucing sih? Runcing banget kukunya. Astaga ... Perih banget muka, leher, sama lengan gue." Jika saja tak mengingat—wanita bernama Meta itu adalah sepupu Jackson. Tara tak akan segan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membuat Meta menginap beberapa hari di rumah sakit. Sayang, rasa bersalah karena ternyata salah paham, membuat Tara hanya berusaha menghindar saat Meta menyerangny*. Beruntung, ada Jackson yang dengan sigap, menjauhkan sepupunya yang tengah mengamuk itu dari Tara. Mengabaikan risiko, j

