Author POV
***
Pesan yang masuk dari Ezra tak sedikit dan sama seperti yang lainnya; lelaki itu juga sama terkejutnya setelah mendengar kabar pernikahan Leya.
Pukul 13.47, pertama kali Ezra memulai obrolan dengan mengirimkan sebuah pesan. ‘Hai, Le! Lama gak ada kabar, tiba-tiba udah nikah aja,’ tulisnya. Mereka memang sudah lama tidak berkomunikasi dan kejadian hari ini membuat Ezra kembali menghubungi Leya.
‘Selamat ya! Padahal rencana akhir tahun aku mau mudik loh, pengen ketemu kamu. Ternyata malah udah nikah aja, wkwk. Sekali lagi selamat!’ kirim Ezra lagi.
Hanya dua pesan itu yang dikirimkan oleh Ezra; tidak terlalu panjang, namun berhasil membuat jantung Leya sedikit tersentil. Karena pesan tersebut sudah dibaca, Leya pun langsung membalas, ‘Malam, Kak. Maaf aku gak kasih tau Kakak, soalnya lumayan mendadak.’
Satu hal yang membuat Leya lebih terkejut adalah room chat Ezra yang awalnya tidak berstatus online, kini langsung menjadi ‘online’ dan mulai mengetik.
‘Malam juga, Le! Kok mendadak? Ada apa? Leya sekarang nakal, ya?’ Sama seperti yang lain, sebuah tuduhan palsu tanpa bukti langsung dilontarkan begitu saja. Beruntung Leya sudah siap dengan semua image buruk yang mungkin terjadi.
‘Eh, gak gitu! Aku gak hamil kok, Kak,’ balas Leya tanpa basa-basi dan penjelasan.
‘Syukurlah. Aku juga yakin kamu gak bakal begitu,’ balas Ezra yang tampak tenang, namun ia juga tidak menuntut penjelasan. ‘Kabarmu gimana?’ tulisnya lagi.
‘Baik, Kak. Kakak sendiri gimana? Lama gak ada kabar.’
Sudah cukup lama mereka tak saling bertegur sapa. Sejak lulus SMA, lelaki itu mulai mengurangi kontak dengan Leya, padahal ia memilih kampus yang jauh dari rumah, yang kemungkinan untuk bisa bertemu lagi sangatlah tipis.
‘Kabarku baik. Sorry, ya, aku lama ngilang!’ ketik Ezra yang ternyata juga menyadari hal itu.
Leya langsung membenarkan kalimat tersebut. ‘Iya, hampir setahun.’
‘Dimaafin gak nih?’ tanya Ezra yang tampaknya tidak terlalu serius.
‘Iya, dimaafin kok,’ balas Leya setengah kesal.
Lalu akhirnya, Ezra mulai masuk pada inti pembicaraan. Seperti manusia normal lainnya, lelaki itu ternyata juga penasaran mengenai alasan pernikahan Leya. ‘Btw, kalo aku boleh tau, kamu kenapa nikahnya mendadak gitu?’
Menggunakan kata-kata yang paling sederhana agar mudah dimengerti; Leya pun membalas, ‘Dijodohin, Kak.’
‘Memang gak bisa nolak, ya? Kamu masih muda banget loh, lulus juga belum lama.’
Leya menarik napas dalam-dalam; pernikahan ini jelas bukan keinginannya, namun ia tak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya pada lelaki itu. ‘Ceritanya panjang, Kak. Seandainya bisa, aku juga gak mau.’
‘Bener kata temen-temenku, aku terlalu fokus sama diriku sendiri. Akhirnya aku beneran terlambat.’ Tersirat kalimat yang Ezra tulis nampak begitu sendu, ada penyesalan di dalamnya.
‘Terlambat? Maksudnya?’ balas Leya yang sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Ezra.
‘Sekarang kamu udah jadi milik orang lain, Le. Kamu inget, kan, omonganku sebelum masuk kuliah?’
Leya masih mengingat jelas pesan itu, karena hanya Ezra lah yang mengatakannya. ‘Yang Kakak gak izinin aku pacaran itu?’ tanyanya memastikan.
‘Iya. Aku bilang gitu karena... aku gak mau kamu diambil sama orang lain. Makasih ya, kamu udah pegang janjimu. Maaf, malah aku yang sia-siain kamu. Niatku fokus belajar biar cepet lulus, ternyata malah kehilangan kamu.’
Membaca kalimat panjang itu, perasaan Leya pun langsung tersentuh; ia sedih sekaligus merasa bersalah. Kedekatan mereka sebelumnya memang tidak bisa dikatakan murni ‘berteman’, namun memang tak ada ikatan sama sekali.
‘Maafin aku, ya! Suamimu baik, kan?’ tulis Ezra lagi.
Untuk menjawab pertanyaan itu, Leya masih menggunakan kalimat yang sama seperti sebelumnya. ‘Semoga aja, Kak.’
‘Maaf ya, Le. Aku cuma pengen bilang, meskipun aku tau ini udah terlambat banget. Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu. Sorry caraku salah, aku harap kamu bisa bahagia. meskipun bukan sama aku. Aku gak ada niatan untuk ngerusak rumah tanggamu, tapi seandainya kamu butuh aku, kabarin aku kapanpun! Aku siap untuk bantu kamu, Le.’
Air mata Leya langsung mengalir, kalimat itu seolah menamparnya dengan sangat keras. Kini ia sudah menjadi istri orang dan harus menjauh dari laki-laki lain. Dirinya sudah terikat pada satu nama, meski itu bukan keinginannya.
‘Le, aku masih bersedia nunggu kamu,’ kirim Ezra lagi, padahal Leya belum membalas pesan sebelumnya.
‘Kak, maaf. Maaf aku sama sekali gak tau tentang perasaan Kakak. Aku cuma anggep Kakak sebagai 'kakak' aku. Jangan tunggu aku! Aku udah jadi istri orang dan selamanya akan begitu. Kakak pasti bisa dapetin yang lebih baik, dan itu bukan aku,’ balas Leya dengan berat hati.
‘Apa kamu cinta sama suamimu?’ tanya Ezra.
Ditelannya saliva dengan paksa. Dalam hati, Leya menolak dengan sangat keras untuk bisa mencintai lelaki yang bahkan usianya terpaut cukup jauh. Namun Leya membalas pertanyaan Ezra sesuai yang sudah Vian katakan sebelumnya.
‘Mungkin belum untuk sekarang, Kak; tapi kami gak akan cerai. Jadi, maaf, Kakak jangan tunggu aku!’ tegas Leya.
Terpakksa, Ezra pun harus menerima kekecewaannya. ‘Ah, gitu ya? Ya udah, gak apa-apa. Tapi kalo butuh apapun, kabarin aku, ya! Aku bakal jadi kakakmu, aku masih Ezra yang dulu kamu kenal.’
‘Iya,’ balas Leya sambil menyeka air matanya.
‘Ya udah kalo gitu. Selamat istirahat ya, Le! Semoga kamu selalu bahagia,’
Keduanya tampak tegar di dalam ruang obrolan tersebut, namun siapa sangka kalau ternyata keduanya tak ada yang benar-benar ikhlas menerima keadaan. Kedekatan mereka sebelumnya tak bisa dikatakan hanya teman. Bagaimana tidak, mereka lumayan dekat untuk waktu yang lama. Meski tanpa status, mereka berdua pernah saling peduli dan menyayangi.
Karena kesalahan langkah yang Ezra pilih, akhirnya hubungan mereka pun tak mengalami perkembangan. Leya yang tak punya ikatan apapun dengannya, hanya bisa diam dan menunggu tanpa kepastian. Lalu, beginilah akhirnya; lelaki yang mengambil langkah lebih cepat berhasil mengikat gadis kecil itu lebih dulu.