Author POV
***
Pagi pukul 08.12, Leya mulai terbangun dari tidurnya. Diregangkan otot-otot tubuhnya sembari menguap. Kualitas tidurnya begitu baik, ia bisa tidur dengan nyenyak bahkan tidak bermimpi. Sayangnya, karena hari sebelumnya terlalu lelah, rasa pegal masih tertinggal di sekujur tubuhnya.
Diurungkannya niat untuk bangun dan kembali menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Ia baru menyadari kalau selimutnya begitu lembut dan juga harum. Jika memang boleh, Leya ingin tidur beberapa jam lagi. Matanya kembali dipejamkan, namun tubuhnya menolak untuk terlelap. Dibukanya selimut yang menutupi wajah, kemudian bangun dan duduk.
“Oke, bangun! Sarapan, terus tidur lagi. Pokoknya aku mau tidur seminggu. Katanya aku bebas ngapain aja, kan?” gumamnya sambil mengumpulkan nyawa dan menggaruk kepala belakangnya.
“Kamu manusia apa beruang?” tanya Vian yang ternyata ada di dalam kamar Leya dan sedang duduk di sofa.
Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Leya berteriak begitu lantang. “HUAAAAA!!!! Om— Eh, Anda—, Eh… IIHHHH!!!! KAKAK NGAPAIN ADA DI KAMAR SAYA!!” Leya terlonjak bahkan hampir jatuh dari ranjangnya.
“Keren banget, belum sarapan tapi energinya udah full gitu!” ledek Vian
“Kakak ngapain di kamar saya?” Leya mengulangi pertanyaannya. “Dasar, gak sopan! Melanggar perjanjian!” omel Leya tanpa memedulikan ledekan Vian.
“Gak sopan? Kan kamu istri saya. Terus, kenapa melanggar perjanjian? Kan saya cuma masuk, bukan tidur di sini,” dalih Vian.
“SAMA AJA!!” sungut gadis itu dengan keras.
“Duh, ngegas banget! Cewek kalo suruh teriak-teriak memang gak ada lawan. Santai dong! Saya cuma mau mastiin kalo tidurmu nyenyak. Ternyata nyenyak banget, ya! Apa karena ada yang nemenin?” ujar Vian sambil memperhatikan sekeliling.
Leya mendengus kesal, dalam hatinya ia sudah mengumpat habis-habisan dan ingin melempar wajah menyebalkan itu dengan bantalnya.
“Kamu diem aja pasti lagi ngatain saya dalem hati,” tebak Vian dengan sangat tepat.
“Sok tau!” sungut Leya lagi.
“Udah, ngaku aja!”
Leya tak meladeni ucapan Vian dan ingin segera mengusir lelaki itu. “Keluar, ih! Ngapain masih di sini?”
“Galaknya, ya ampun! Nanti cepet tua loh! Gak malu sama saya yang baby face gini?”
Dalam hatinya Leya bergumam, ‘Memang bener, orang kalo udah kaya dan ganteng, pasti otaknya gak beres. Ya Tuhan, tolong sentil manusia ini ke kandang kuda!’
“Bisa keluar dari kamar saya, Bapak Benedict Arviano William?” tanya Leya dengan suara selembut mungkin dan senyuman yang dipaksakan.
“Gak bisa. Ini kamar saya juga,” tolak Vian dengan santainya.
“IH NYEBELIN BANGET!!!!! BURUAN KELUAR!” seru Leya sambil mengangkat bantalnya sebagai bentuk ancaman.
“Iya-iya-iya! Barang-barangmu udah sampe. Ambil sendiri di bawah! Angkat sendiri! Saya gak akan bantu,” ujar Vian seraya beranjak.
“Siapa juga yang minta bantu?” sungut Leya.
Kemudian Vian pun meninggalkan kamar itu. Jangan tanya bagaimana caranya ia bisa masuk ke kamar Leya, karena sudah pasti ia memegang kunci cadangan kamar tersebut. Vian tidak macam-macam karena ia hanya ingin mengecek apakah Leya tidur dengan baik… dan tidak kabur dari rumah itu.
***
Usai cuci muka dan sikat gigi, Leya langsung keluar dari kamarnya dan turun. Barangnya memang tidak terlalu banyak. Ia memutuskan untuk membawa beberapa pakaian, buku dan boneka dari rumahnya. Benar saja, ia bisa memindahkannya sendiri.
Pertama ia membawa barang yang ringan terlebih dahulu; dua box ukuran sedang yang berisi boneka. Memang tidak berat, namun karena harus melewati tangga maka jadi sedikit sulit. Tanpa Leya tahu, Vian sedang mengamatinya dari ruang makan sambil menikmati segelas kopi. Bukan tidak ingin membantu, Vian hanya ingin memastikan sampai mana gengsi Leya akan dipertahankan.
Tak hanya barang bawaan yang terlihat tak sebanding dengan ukuran tubuh Leya, Vian juga menyadari kalau celana gadis itu terlalu panjang. Leya bisa saja terjatuh karena terpeleset celananya sendiri. Disesapnya kopi itu sekali lagi, lalu membantu Leya untuk memindahkan barangnya.
Melihat barang yang masih tersisa di bawah, Vian merasa tak percaya. Jumlahnya terlalu sedikit, tidak seperti yang dibayangkan. Biasanya anak perempuan memiliki banyak pernak-pernik dan barang kesayangan, sedangkan apa yang Leya bawa sepertinya bukan barang seperti itu; hanya barang kebutuhan pokok saja.
Vian mengangkat 2 buah tas berukuran besar yang berisi pakaian. Cukup mudah bagi Vian untuk membawanya sekaligus, namun bagi Leya mungkin harus dua kali naik-turun. Ketika Vian sudah sampai di anak tangga teratas, Leya baru saja keluar dari kamarnya.
“Kenapa dibantu? Saya bisa sendiri kok!” celetuknya dengan suasana hati yang belum membaik.
“Bilang makasih kenapa? Udah dibawain juga,” balas Vian tak kalah sengit.
“Gak mau! Tadi katanya suruh saya ambil sendiri?” ujar Leya yang enggan mengalah.
Vian menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Gimana bisa diem aja kalo liat istri kecil saya ini angkut-angkut barang sendirian? Saya gak sejahat itu. Kalo kamu makin kecil gimana?”
“Memang Anda ini sepertinya terlahir untuk jadi manusia paling menyebalkan!” gerutunya seraya meninggalkan Vian dan turun ke lantai satu untuk ambil barang sisanya.
“Hari ini kamu bisa bilang gitu, Ley. Gak tau kalo sebulan atau malah seminggu lagi. Pasti kamu bakal gampang kangen.” Vian bicara sendiri sambil melanjutkan langkahnya dan meletakkan tas-tas itu ke dalam kamar Leya. Di dalam kamar, box bonekanya sudah terbuka, bahkan ada yang sudah dipindahkan ke atas ranjang.
“Hm, dia suka warna pink. Lara gak salah beliin dia baju ternyata,” gumam Vian sambil memperhatikan boneka Leya satu persatu. Kemudian ia menemukan sebuah surat kecil yang terselip di salah satu boneka.
“Apa ini?” Diambilnya surat itu, dan tanpa meminta izin dari Leya; ia membuka suratnya.
‘Happy birthday, Leyaku! Belajar yang rajin, ya! Jangan dulu mikirin pacaran! Semoga boneka ini bisa gantiin aku selama aku jauh. May you always be happy! Ezra.’ Begitulah kalimat yang tertulis di sana.
Kedua alis Vian saling bertaut setelah membaca tulisan tersebut. ‘Ezra? Siapa dia?’
“Kakak ngapain?” tanya Leya yang baru saja kembali dan meletakkan sisa barangnya.
“Oh, ini baca surat,” jawab Vian jujur sambil menunjukkan surat yang masih ia pegang.
“Gak sopan banget sih!” sungut Leya dan langsung merebutnya. “Kenapa sembarangan liat-liat barang orang?”
“Katanya kamu gak punya pacar?” tanya Vian tanpa basa-basi.
“Memang gak punya!” jawab Leya tanpa berpikir panjang.
“Terus itu surat apa?”
“Dari temen.” Kali ini intonasi Leya sedikit diturunkan, manik matanya pun bergerak ke arah lain.
Vian melipat kedua tangannya di depan daada. “Temen? Yakin? Temen nyebut 'Leyaku', begitu?”
Dengan mata yang masih enggan menatap Vian, Leya menjawab, “Nyatanya kami memang gak pacaran kok.”
“Oke, and then... kamu suka sama dia?”
“Bukan urusan Kakak!”
Vian terdiam sesaat, lalu kembali menghela napas. “Kamu lupa sama omongan saya waktu itu? Kamu itu pacar saya dan sekarang udah jadi istri saya. Inget?”
Leya langsung menatap Vian dengan ekspresi datar. “Mau Kakak apa?”
“Simple aja, cukup jaga hatimu buat saya! Mungkin sekarang kamu belum punya perasaan apa-apa, tapi jangan sedikit pun kamu kasih celah orang lain untuk masuk ke hubungan kita. Paham?”
Nada bicara Vian terdengar begitu serius, image yang diperlihatkan juga sangat berbeda dengan yang sudah Leya lihat sebelumnya. Gadis itu mulai merasa takut, tapi juga pasrah.
“Ini semua demi kebaikanmu, Ley. Saya gak akan menuntut banyak. Saya tau, mungkin terlalu sulit untukmu, tapi saya akan melakukan yang terbaik untuk kita. Jadi tolong, kita harus kerja sama untuk mempertahankan rumah tangga ini,” ujar Vian seraya pergi meninggalkan Leya sendiri di kamarnya.
Air mata Leya mulai menetes. Ia tahu, bahkan sangat sadar kalau hidupnya kini bukan miliknya sendiri. Ia sudah ‘dibeli’ oleh Vian, maka Vian adalah tuannya.
‘Kenapa aku nangis? Harusnya aku bahagia, kan? Aku ini princess! Gak boleh nangis!’ batin Leya. Kemudian ia duduk di atas ranjang dengan pandangan lurus ke lantai.
Semakin kuat ia berusaha menahan, air mata itu justru mengalir semakin banyak. Ia merasakan kesesakan di dalam daadanya karena ia sadar, ia tidak akan bisa lari dari kenyataan.