Author POV
***
Keesokan harinya, Vian berangkat ke kantor meski sebenarnya ia masih cuti. Namun karena ia merasa sedikit bosan berada di rumah dan juga Leya yang masih marah padanya, maka dari itu ia memilih untuk memberi ruang untuk Leya yang menolak untuk bertemu.
Pukul 09.21 di ruangannya—ruang Direktur Utama, Vian mengobrol dengan Arsenio Robin; yang merupakan rekan kerja sekaligus sepupunya.
“Yah elah! Namanya juga masih ABG. Wajar dong kalo dia ngambek. Harusnya dibujuk, bukan ditinggal!” ujar Arsen menasehati.
“Udah, tapi dianya keras banget,” keluh Vian yang belum apa-apa sudah menyerah.
“Lo juga sih! Biarin aja lah dia mau pacaran sama siapa. Biar dia nikmatin masa mudanya, entar juga bosen sendiri.” Jika tidak dipikir panjang, nampaknya memang tak masalah. Namun bagi Vian, antisipasi sangatlah perlu. Lebih baik mencegah daripada mengobati.
“Iya kalo dia bosen. Kalo dia terlanjur cinta sama cowok itu gimana? Gue gitu yang suruh ceraiin dia gitu? Ogah!” omel Vian yang tampaknya sangat kesal. Ia sama sekali tidak menginginkan adanya perpisahan.
“Gak sejauh itu lah! Lo sih udah tua, udah ada pengalaman pacaran. Coba lo bayangin ada di posisi Leya? Umur segitu, udah harus nikah. Mana punya suami posesif pula,” ujar Arsen berusaha memberi pengertian pada sepupunya itu.
“Gue protektif, bukan posesif. Tolong bedain!” ralat Vian.
“Liat aja entar! Kayak gue gak kenal lo aja,” tantang Arsen seraya menyandarkan punggungnya.
“Coba itu, hubungin Lara!” perintah Vian. Lara adalah pacar Arsen yang sebelumnya sudah dimintai tolong membelikan pakaian untuk Leya.
“Buat apa?”
“Cariin kue cokelat atau apa gitu. Kirim ke rumah,” ujar Vian yang mencoba untuk kembali berdamai dengan cara lain.
“Lara lagi sibuk, dia lagi tugas ke luar kota. Dua hari lagi baru balik.”
Vian sedikit terkejut mendengarnya. “Lah, lo gak ikut?”
“Professional dong! Meskipun kami pacaran, tapi gue tetep bosnya. Ya kali gue buntutin dia kemana-mana. Mana mau juga dianya. Tau sendiri dia lebih galak,” jelas Arsen.
“Iya sih. Yang ada, lo yang diomelin di depan karyawan lain,” balas Vian yang sudah sangat mengenal karakter Lara.
“Nah, itu tau,” timpal Arsen.
Namun kemudian Vian membalas lagi, “Salahnya, pacaran sama cewek galak.”
“Daripada nikah sama bocah? Dasar pedoffil!” balas Arsen tak mau kalah.
Tidak ada hari tanpa adu mulut. Keduanya memang sangat dekat, bahkan terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Mereka memegang perusahaan yang berbeda; jelas gedungnya juga berbeda. Namun tak hanya sekali Vian memanggil Arsen untuk membantu apa pun yang ia butuhkan. Arsen yang dari segi silsilah berada di bawah Vian, maka ia lebih banyak mengalah dan menurut dengan perintah Vian.
“Oiya, btw, kalian beneran pisah kamar?” Arsen memastikan kalau sepupunya itu bisa menahan diri.
“Iyalah! Sesuai kesepakatan awal,” sungut Vian sambil memainkan ponselnya dan mencari makanan yang biasa disukai remaja putri.
“Lo kuat?” tanya Arsen lagi.
“Kuat gimana?”
“Ya... nahan diri? You know what I mean-lah!”
Vian langsung berpaling dari ponselnya dan memicingkan mata. “Kenapa enggak? Jorok mulu pikiran lo!” hardiknya.
“Gue nanya, bambang! Malah dikatain. Lo kan cowok normal, makanya gue memastikan,” ujar Arsen membela diri.
“Ya pisah kamar juga, kenapa gak kuat? Di mata gue dia masih bocah, gak ada yang bikin tertarik,” ungkap Vian seraya kembali memainkan ponselnya.
“Iya sih. Gue aja masih gak habis pikir lo mau nikah sama bocah. Sebenernya ada perjanjian apa sih antara keluarga kalian?” Tak hanya Leya, ternyata Arsen yang merupakan orang terdekat juga tidak mengetahui alasan di balik pernikahan Vian dengan Leya.
Bukannya menjawab, Vian justru kembali mengatai Arsen. “Makanya, sekolah gak usah kejauhan! Masalah keluarga aja sampe lo gak tau.”
Sebenarnya Arsen sudah cukup lama kembali dari Jerman, namun nyatanya hal tersebut masih terus dijadikan alasan oleh Vian—padahal memang dia yang menyembunyikan semuanya.
“Ya kan itu masalah keluarga lo, bukan keluarga gue. Udah buruan ceritain!” paksa Arsen. Bukan pertama kalinya Arsen mempertanyakan hal ini, namun Vian tak pernah mau membuka mulut sekali pun.
“Pokoknya ada, entar juga lo tau,” ujar Vian sama seperti biasanya. “Balik ke kantor sono! Punya kantor sendiri kok ke sini mulu.” Kali ini Vian tak memanggil Arsen, lelaki itu sendiri yang berinisiatif untuk berkunjung setelah mengetahui Vian datang ke kantor.
“Males! Enak di sini; bisa ngeledekin pengantin baru, tapi gak dapet jatah.”
“Siallan!” umpat Vian.
Tak ingin adu mulut lagi, Vian membuka aplikasi ojek online hendak memesankan kue dari toko langgganannya. Meski sudah mendapatkan rekomendasi makanan dari internet, Vian kembali memastikan makanan kesukaan anak perempuan pada Arsen—yang sudah berpengalaman dalam hal berpacaran.
“Cewek suka kue apa?” tanyanya.
“Bocah sih biasanya suka yang manis.” Arsen membalas dengan jawaban yang kurang spesifik.
Kemudian Vian bertanya lagi, “Cokelat?”
“Bisa,” jawab Arsen sambil mengangguk.
“Strawberry?”
“Enak.”
“Red velvet?”
“Boleh.”
Vian yang kesal mendengar jawaban singkat dan terkesan tidak niat dari mulut Arsen. “Salah emang kalo nanya sama lo,” gerutunya seraya memilih kue rasa cokelat dan juga strawberry—antisipasi andai saja Leya tidak menyukai salah satunya.
“Di mana salahnya coba? Kan gue jawab sesuai pertanyaan,” balas Arsen, namun Vian tak menjawabnya lagi.
Tak hanya kue, Vian juga menambahkan sebuah kartu ucapan sebagai permohonan maaf. Ia sudah tidak betah jika harus bermusuhan dengan Leya—yang bahkan belum genap tiga hari bersama. Dari kue ini, ia berharap banyak. Ia sudah kehabisan cara untuk berbaikan. Pada dasarnya ia bukan orang yang pandai bergaul, kisah percintaannya pun tidak pernah berjalan mulus. Hanya usianya saja yang tua, namun pengalaman dalam hal percintaan nyatanya tak jauh berbeda dari istrinya—Leya.
Beberapa menit kemudian, sebuah panggilan masuk dari asisten rumah tangganya; dikatakan bahwa Leya tidak ada di rumah dan tak ada yang tahu kapan ia keluar dari sana. Vian mengepalkan tangan kuat-kuat, ia hampir saja marah, namun segera ia redam dengan kembali mengatur napas. Tak ada gunanya marah karena kali ini memang murni kesalahannya.
“Sen, mungkin, gak, kalo si Leya pergi dan samperin cowok itu?” tanya Vian pada Arsen yang baru saja hendak menelepon Lara.
“Hah? Dia kabur?” tanya Arsen yang kembali menutup ponsel. Vian mengangguk dan terlihat sangat kesal. “Kayaknya lebih masuk akal kalo dia balik ke rumah orang tuanya, atau temennya,” tambah Arsen.
Vian kembali mengangguk dan berusaha berpikir positif. Tak lama kemudian,giliran sekretarisnya mengetuk pintu.
“Permisi, Pak. Ruang rapatnya sudah siap,” ujar Rachel—sekretarisnya.
“Oke. Sebentar lagi saya ke sana,” jawab Vian. Rachel pun undur diri dan kembali menutup pintu.
“Baru masuk kerja langsung ada rapat? Ckckck. Pantes aja istrinya kabur,” ujar Arsen yang dengan sengaja memperkeruh keadaan.
“Berisik!” hardik Vian seraya mengambil jasnya dan keluar dari ruangan.