Chapter 011

1469 Kata
Meski sudah bangun sejak pagi, Leya enggan turun dari ranjangnya. Bahkan selimut pun kini masih menyembunyikan dirinya. Sebenarnya ia dengar ketika asisten rumah memanggilnya untuk sarapan, namun ia tetap menolak untuk keluar. Rasa kesalnya pada Vian masih belum hilang, ia masih enggan untuk melihat laki-laki itu.   Beberapa jam ia lalui hanya untuk menggulingkan badannya ke kanan dan kiri tanpa tujuan yang jelas. TV juga telah ia hidupkan dan animasi si spons kuning sedang ditayangkan. Lama kelamaan ia mulai merasa bosan—dan juga lapar. Bukannya keluar dan segera mencari makanan, dalam pikiran Leya justru terlintas pikiran untuk pergi dari rumah dan bertemu dengan teman-temannya.   Segera ia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan ke grup untuk memastikan siapa diantara mereka yang sedang tidak ada kegiatan. Meski ia ingin pergi, tentu tidak ingin menyusahkan teman-temannya juga. Kebetulan ada Fidel yang paling cepat dalam membalas pesan Leya dan langsung mengizinkan gadis itu untuk bertamu di rumahnya. Namun tiba-tiba Leya menyadari sesuatu.   ‘Tapi… aku boleh minta tolong lagi, gak?’ tanyanya.   ‘Minta tolong apa?’ balas Fidel.   ‘Aku gak pegang uang. Apa boleh tolong bayarin dulu?’   ‘Oalah, itu doang. Gampang! Yang penting ke sini aja dulu, kayak apa aja sih!’ balas Fidel yang tidak keberatan sama sekali.   Kemudian Leya mulai bersiap dan bergegas pergi; ia juga tak meminta izin pada siapa pun. Sebenarnya Vian sudah menyediakan fasilitas mobil lengkap dengan supirnya, namun ia belum sempat memberitahu. Dan Leya pun berhasil pergi dari rumah tanpa ada yang mengetahui, maka dari itu dia dianggap kabur.   Kedatangan Leya disambut dengan baik. Kebetulan kedua orang tua Fidel juga tidak ada di rumah karena sedang bekerja. Sembari menunggu jadwal masuk kuliah, tak ada kegiatan yang Fidel lakukan selain menghabiskan waktu dengan menonton drama dan sesekali membantu promosi saudaranya yang sedang merintis karir menjadi seorang penyanyi solo.   Tak lama setelah Leya sampai, Vidi dan Cilla juga menyusul. Akan sulit bagi mereka untuk bisa bertemu kembali, maka dari itu mereka harus bisa memanfaatkan keadaan sebaik mungkin. Tak ingin datang dengan tangan kosong, seperti biasa Cilla membawakan ayam goreng dari rumah makan orang tuanya. Begitu juga Vidi, ia membawakan beberapa makanan ringan dan juga minuman manis. Sembari berbincang, mereka menghabiskan makanan yang ada—sudah seperti pesta perpisahan.   “Kukira barang-barang dari Kak Ezra bakal kamu tinggal di rumah,” balas Cilla di tengah pembahasan mereka mengenai alasan kemarahan Vian.   “Iya. Barang-barang dari Kak Ezra sebelumnya udah aku pilihin dan aku simpen di tempat lain, tapi entahlah. Kayaknya mamaku yang masukin,” jawab Leya yang sama sekali tidak merasa.   Bahasan mereka mengalir begitu saja, hingga akhirnya masa lalu kembali terkenang. Salah satu alasan mereka bisa menjadi sahabat seperti sekarang adalah adanya Ezra di antara mereka. Vidi; dia adalah gadis yang juga sempat dekat dengan Ezra, sebelum berpaling pada Leya. Permasalahan yang sama juga dialami oleh Vidi, Ezra hanya membuat jarak yang dekat dengannya, namun tidak memberikan ikatan sama sekali.   “Jadi, sekarang kamu mulai mau lupain Kak Ezra?” tanya Vidi setelah meneguk sedikit minuman sodanya.   Leya mengangguk pelan. “Udah seharusnya gitu, kan? Aku udah jadi istri orang, udah gak bebas lagi.”   Tak ingin suasana di rumahnya menjadi sedih, Fidel pun mengalihkan pembicaraan. “Nah, karena Leya udah gak mau maju, apa kamu mau maju, Vid? Secara—”   “Secara-secara apa? Udah lama aku lepasin dia, bahkan aku sempet kesel karena Leya digantungin jauuuuh lebih lama daripada aku,” sahut Vidi sebelum Fidel menyelesaikan ucapannya.   “Sorry, aku gak tau kalo bakal digantungin selama itu. Lagian aku juga gak berharap banyak, jadi gak terlalu sakit hati,” ujar Leya jujur.   “Terus, kalo Kak Ezra balik ke sini, apa kamu mau nemuin dia?” giliran Cilla buka suara. Ia bisa melihat kalau Leya belum sepenuhnya melupakan Ezra; berbeda dengan Vidi yang sudah beberapa kali berpacaran setelah lepas dari Ezra.   “Aku sih no,” sahut Fidel. “Perasaan itu rawan. Kalo memang mau pertahanin hubungan pernikahan, ada baiknya jangan berhubungan lagi sama masa lalu. Iya, kan?”   Ketiga sahabatnya kompak mengangguk dan mengacungkan jempol. “Tumben kamu pinter,” celetuk Cilla dan berakhir sebuah bantal yang terlempar ke arahnya.   Mereka tertawa di balik semua masalah yang ada. Kesedihan yang mereka simpan tentu bukan hanya masalah Leya, tetapi juga menyadari kalau sebentar lagi akan sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul dengan formasi lengkap. Demi membuat kenangan indah, mereka memilih untuk menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Namun semua itu tak berjalan mulus setelah sebuah panggilan masuk ke ponsel Leya.   “Kenapa gak diangkat, Le?” tanya Cilla.   “Gak penting. Paling juga cuma mau marah-marah,” jawab Leya sambil memperhatikan layar ponselnya yang kini menampilkan sebuah nama ‘Benedict Arviano’.   “Le, aku tau ini urusan rumah tanggamu, tapi kata mamaku gak baik kalo ada masalah sama suami terus kitanya kabur. Kita harus omongin pelan-pelan karena kabur itu gak menyelesaikan masalah,” ujar Vidi—gadis yang pemikirannya lebih dewasa jika dibanding tiga lainnya.   Kemudian Cilla pun menambahkan, “Iya, Le. Mana kamu pergi gak bilang, kan? Dia pasti khawatir.”   Leya menggeleng pelan. “Enggak. Buat apa dia khawatir? Aku memang istri sahnya, tapi perasaan kami gak begitu.”   Fidel mengerutkan keningnya dan menatap Leya dengan serius. “Untuk sekarang memang belum, tapi dengan kesepakatan yang dia buat; yang dia gak mau cerai, pasti dia lagi usaha untuk bisa menghubungkam perasaan kalian. Menurutku gitu,” ujarnya.   Dihembuskan napas perlahan, lalu Leya kembali menatap ponselnya. Panggilan itu sudah berakhir, dan tertinggal sebuah pesan masuk. Meski enggan, ia memakssakan diri untuk membuka pesan itu yang ternyata dikirimkan oleh Vian.   ‘Ley, kamu di mana? Kata Bibi, kamu gak ada di rumah?’   Karena Leya tak kunjung membalas, Vian mengirimkan sebuah pesan lagi. ‘Tenang, saya gak akan marah-marah kok. Kamu dimana, sayang?’   Jelas Leya menjadi semakin kesal melihat panggilan ‘sayang’ di ujung kalimat yang Vian kirimkan. Ia pun membalas pesan itu dengan penuh emosi. ‘Apasih sayang-sayang!’   ‘Akhirnya dibales juga. Kamu di mana sekarang?’ tanya Vian lagi.   Sebelum membalas, Leya melirik ketiga sahabatnya. Mereka terlihat tak ingin ikut campur dan juga sibuk masing-masing; Vidi ke toilet, Fidel bermain ponsel, sedangkan Cilla memilah sampah sisa makanan kami dan memasukkannya ke dalam plastik.   ‘Tempat temen,’ balas Leya singkat.   ‘Di mana? Kenapa gak sama supir? Kan udah ada supir pribadi.’   Masih belum reda amarahnya, Leya kembali membalas pesan itu dengan sangat singkat. ‘Mana saya tau.’   Tak ingin memperkeruh keadaan, Vian pun tetap membalas pesan tersebut dengan penuh kesabaran. ‘Oke-oke. Kirim alamatnya! Nanti jam makan siang saya jemput.’   ‘Gak perlu! Bentar lagi saya pulang,’ tolak Leya mentah-mentah.   ‘Ya udah, iya. Gak apa-apa kamu gak mau pulang bareng saya, tapi kamu harus dijemput sama supir. Oke? Saya cuma mau mastiin kamu bener-bener pulang dan gak kabur lagi,’   Sekeras apa pun hatinya ingin menolak; Leya kembali teringat kalau dirinya tidak boleh seenaknya pada Vian, lelaki itu sudah ‘membelinya’. Saat ini tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah dan menuruti aturan. Lalu akhirnya, ia mengirimkan alamat rumah Fidel dan menunggu dijemput beberapa menit lagi. Bersamaan dengan berakhirnya percakapan Leya dengan Vian, Vidi kembali dan obrolan mereka kembali dilanjutkan.   “Oh iya, btw aku penasaran deh. Om Vian itu punya pacar gak sih?” celetuk Fidel. Seenaknya saja ia memanggil suami sahabatnya dengan sebutan ‘om’, tentu saja hal itu mengundang gelak tawa yang lain.   “Am-om-am-om, sembarangan aja!” omel Cilla yang padahal juga ikut tertawa. Leya tidak merasa keberatan suaminya dipanggil ‘om’ karena sejujurnya ia juga tidak nyaman memanggil Vian dengan sebutan ‘kakak’.   “Aku gak tau dia punya pacar atau enggak. Rasanya agak gak mungkin sih,” jawab Leya.   “Gak mungkin apa nih? Gak mungkin punya atau gak mungkin gak punya?” sahut Fidel secepat kilat, ia benar-benar penasaran.   “Kalo liat dari resepsi acara pernikahan yang gak sembunyi-sembunyi, gimana caranya dia bohong sama pacarnya?” jawab Leya dengan logikanya.   Namun logika Leya terpatahkan dengan fakta yang dilontarkan oleh Vidi. “Kak Vian pernah kuliah di Jerman beberapa tahun. Kalo misal pacarnya ada di sana gimana? Aku takutnya begitu.”   “Kamu tau banyak ya, Vid,” ujar Cilla.   Dengan cepat Vidi menggeleng. “Enggak gitu. Orang tuaku pernah gak sengaja bahas. Katanya kakakku S2-nya mau disuruh ke sana juga, ke kampusnya Kak Vian itu.” Saat ini Shenina—kakak Vidi—sedang menempuh pendidikan S1 semester akhir, maka dari itu kelanjutan mengenai studinya akhir-akhir ini juga menjadi pembahasan yang penting.   “Wow, keren!” sahut Fidel spontan. ”Tapi gak jadi keren kalo dia nyembunyiin pacar di sana,” tambahnya lagi.   Gadis-gadis itu hanya bisa menebak-nebak dan mencari kemungkinan yang paling mungkin. Meski tampak tidak peduli, sebenarnya Leya juga merasa harap-harap cemas. Takut rumah tangganya terancam dengan orang ketiga di saat hubungan mereka sudah berkembang menjadi lebih baik—meski ia juga tidak yakin hal baik apa yang seharusnya ia harapkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN