Vian menolak panggilan yang baru saja ia terima. Ia tak ingin membuat masalah menjadi lebih besar. Leya terus memasang telinga meski matanya berusaha fokus pada ponsel dan menggulirkan layar itu dengan asal. ‘Ben, kapan lo ada waktu? Gue pengen jalan. Malem gak apa-apa deh, seselesainya lo kerja,’ kirim Vanny setelah panggilannya ditolak. ‘Gue sibuk, Van. Kan dari awal udah gue kasih tau; lo silakan mau dateng ke sini, tapi gue gak janji bisa nemenin lo,’ balas Vian kemudian. Tak lama kemudian pesanan mereka datang—mereka tak perlu mengantri karena Vian sudah memberitahu pada pelayan saat mereka tiba. “Mbak, sebentar!” tahan Vian ketika pelayannya hendak pergi. “Kamu suka es krim apa?” tanya Vian pada Leya. “Ini udah ada minuman, mau pake es krim juga?” Leya balik bertanya. “Gak apa

