Hari Sabtu pukul 08.22 di bandara, Leya turut mengantar Vian yang hendak pergi ke luar kota. Sebenarnya ia enggan, namun Vian terus membujuknya untuk pergi. Tak hanya sampai di bandara, Vian juga Leya untuk pergi bersamanya karena kebetulan juga weekend dan Leya tidak ada jadwal. Merasa tak memiliki kepentingan, Leya memilih untuk tetap tinggal. “Padahal seharusnya gak dianter juga gak apa-apa, kan?” ujar Leya. Kini mereka sedang berdiri di dekat pintu masuk. “Kamu gak ikhlas?” celetuk Vian. “Ya bukan gitu. Kan gak bakal lama juga, lusa udah balik.” “Memang kamu gak sedih aku tinggal?” tanya Vian seperti anak kecil. “Enggak, kenapa harus sedih?” tanya Leya dengan pollosnya, ia benar-benar begitu santai menghadapi Vian. Vian menahan bibirnya agar tidak mengucapkan k********r, kemudian

