10 panggilan masuk, Kunyuk Sinting.
Kunyuk Sinting
Malam, selamat tidur. (20.23)
Pagi ini rasanya Fanya ingin muntah karena mendapat pesan dari makhluk sinting yang sangat ia benci. Bahkan saat Devan menelponnya, ia tidak ada niatan sedikitpun untuk mengangkat telepon dari Devan.
*****
"Farel, anter gue kesekolah ya." Pinta Fanya, sambil mengoles selai kacang pada roti tawarnya.
"Ogah, gue pengen jemput Asya." Tolaknya
"Si Asya yang cantik anaknya tante Lean?"
Farel mengangguk pelan. Yang dibalas tawaan kencang Fanya. "Gausah sosoan deh, pake ngejemput anak orang segala. Mending kalo dia mau, kalo engga? Gigit jari lo! "
Farel mendengus kesal mendengar ledekan Fanya.
"Udah mendingan lo anter gue aja deh. Ayo buruan. Mamah juga gaada kan." Titah Fanya yang langsung menarik tangan Farel paksa.
Sesampainya di garasi, Farel mengeluarkan motor ninja kesayangan nya dengan wajah cemberut.
"Udah gausah cemberut gitu, nanti gue traktir lo makan deh." Rajuk Fanya. "Iya iya, buruan naik."
Motor pun melaju dengan kecepatan rata-rata menuju sekolah Fanya.
"Yeyy, akhirnya sampe juga. Makasih yaa Rel." Ucap Fanya sambil mencubit pipi Farel gemas.
"Sakit bodoh!" Ujar Farel menepis tangan Fanya. Ia pun membalas cubitan Fanya dengan mencubit kembali pipi Fanya dengan gemas.
"Nihh emang enak di cubit kaya gini?" Ucap Farel yang terus mencubit pipi Fanya.
"Awww iy-ya sakit lepasin Rel." Fanya mencoba untuk melepaskan cubitan Farel dari wajahnya, namun Farel semakin gencar mencubitnya.
"Rel kereta api lep-p-passin." Farel menyudahi cubitannya mengingat dia juga harus berangkat menuju sekolah. "Belajar yang bener ka, gue berangkat ya." Ucap Farel sambil mengacak rambut Fanya pelan.
Tanpa Fanya sadari, seseorang sudah memperhatikan nya dari jarak yang lumayan dekat.
Saat Fanya sudah hampir sampai menuju kelasnya, tangan nya sudah di cekal oleh Devan lebih dulu. "Aww." Fanya menoleh kebelakang untuk melihat orang yang mencekal tangannya.
"Lo lagi lo lagi." Gumam Fanya lesu.
"Pagi." Sapa Devan hangat.
"Lepasin tangan gue!"
"Morning kiss. Gue lepas.."
"Sampe rambutnya Ipin tumbuh juga gue gabakal mau nyium lo!" Tolaknya mentah-mentah.
"Dan sampe lo gak mau ngasih, jangan harap gue bakal lepasin tangan lo." Seperti sebuah ancaman tapi dilontarkan secara lembut.
"Devannn." Pekik Fanya kesal.
"Apa? Mau nyium di sini?" Ucap Devan sambil menunjuk bibir nya.
"Lepasin gak!"
"Gak!"
Devan mendekatkan wajahnya ke wajah Fanya tanpa sedikitpun melepaskan cekalan tangannya. "Nih mau nyium yang mana aja terserah lo, gue rela ko." Ucap Devan pelan, bahkan sangat pelan sampai membuat bulu kuduk Fanya merinding mendengar nya.
Jarak wajah Devan dengan Fanya pun sangat tipis sekali hingga Fanya kembali merasakan jantungnya berdegup tak seperti biasanya sama seperti waktu kemarin sore setelah Devan mengantarkan nya pulang.
"Ehemm." Deheman dan suara batuk menghentikan aktivitas tatap tatapan Devan dengan Fanya terhenti. Mereka berdua sontak langsung menoleh ke sumber suara.
"Lagi ngapain kalian berdua disini?!" Tanyanya lantang sambil berkacak pinggang.
Fanya menunduk, dia enggan menatap guru yang dikenal dengan tingkat kegarangan yang melampaui Hulk ketika sudah marah.
"Eh Bapak. Ngapain disini pak?" Ucap Devan santai.
"Saya yang harusnya nanya, ngapain kalian masih disini? Ini sudah jam 06.58."
Tanpa melepaskan pegangannya, Devan kembali menyauti setiap pertanyaan guru yang lebih mirip dengan tokoh Hulk di depannya dengan santai.
"Di jam saya masih pukul 06.30 ko Pak. Jam bapak rusak kali tuh, atau jangan-jangan bapak sengaja cepetin jam nya biar cepet pulang kerja supaya bisa nyari kesempatan buat keluyuran cari istri lagi?" Sanggah Devan. Fanya memelototkan matanya kearah Devan, yang benar saja Devan bisa selancang itu kepada gurunya sendiri.
Bapak guru yang biasa di sebut Hulk oleh murid-muridnya itu pun melotot dan bersiap-siap untuk mengeluarkan kata pedasnya kepada Devan.
"Eh Bapak itu ada kotoran burung di atas kepala bapak." Ujar Devan sambil menunjuk kearah kepala si Hulk. Devan pun melepaskan pegangannya namun sebelum ia lari, Devan terlebih dulu mengecup punggung tangan Fanya. "Belajar yang bener ya sayang." Bisik Devan, ia pun sesegera mungkin meninggalkan Fanya dan si Hulk.
Dan dengan bodohnya Pak guru Hulk mempercayai omongan Devan yang sudah sangat sering membohongi nya. Ia meraba bagian atas kepalanya untuk memastikan apakah ada t*i burung di kepalanya. " Devan Arazka!! Saya pastikan kamu akan di DO dari sekolah ini!!!" Teriak Pak Hulk dengan emosi yang sudah memuncak.
Fanya, gadis itu sudah masuk ke kelasnya setelah Devan membisikan kata-kata yang menggelitikan kupingnya. Karena ia takut jika masih berada di luar kelas yang ada Fanya akan mendapat masalah jika berurusan dengan Pak Hulk yang garangnya tidak ketulungan.
"Fanya, lo ko baru datang?" Tanya Nada yang sudah duduk di bangkunya.
"Kesiangan." Jawab Fanya tersenyum.
******
Kringggggggggg
bel istirahat pun berbunyi.
"Fanya, kantin yukk gue laper." Ajak Nada.
"Ayok."
Saat sudah duduk dan makanan yang di pesan pun sudah datang, Fanya dan Nada langsung menyantap nya dengan lahap. Karena mungkin efek pelajaran fisika yang sangat menguras otak mereka jadi perut mereka juga ikutan lapar.
"Ehh Fanya, liat deh itu ka Devan lagi jalan." Ujar Nada sambil memukul-mukul tangan kanan Fanya yang Fanya gunakan untuk memegang sendok.
"Apa sih Nad?" Kesal Fanya.
"Itu lo liat tuh ka Devan and the geng lagi jalan. Gila si, ganteng banget Ka Devan." Ucap Nada yang tanpa sadar sudah meremas tangan Fanya.
"Nada tangan laknat lo!"
Ujar Fanya menyingkirkan tangan Nada yang meremas tangannya.
"Ishh Fanya, Lo mah gitu." Ketus Nada mencebikan bibirnya.
"Kita boleh gabung disini gak?" Tanya seseorang yang suaranya tak asing lagi di telinga Fanya.
Nada menatap para cogan di hadapannya tanpa ingin berkedip sedikitpun. "Boleh banget ka." Jawabnya sambil tersenyum yang menampilkan deretan gigi putihnya.
"Gak boleh!" Sergah Fanya yang masih berkutik memainkan sendok di dalam mangkok baso nya.
Nada menyenggol sikut Fanya pelan seraya membisikan sesuatu."Sekali aja Fanya, siapa tau salah satunya ada yang nyantol di hati gue. Pliss."
"Gimana?" Tanya Devan sekali lagi.
"Boleh ko kak, duduk aja." Balas Nada mempersilahkan Devan dkk untuk bergabung dengan nya. Devan pun memilih untuk duduk di seberang bangku Fanya agar Devan dapat dengan leluasa melihat Fanya.
Daritadi Fanya hanya memainkan sendok nya saja, ia sangat tidak nyaman dengan posisinya sekarang yang berhadapan dengan Devan. Sementara Nada, ia sedang bersenda gurau dengan ke 3 teman Devan.
"Nada, orang di sebelah lo kenapa? Lagi sariawan? Dari tadi ko diem aja." Tanya Devan sambil melirik Fanya.
"Ahhhh, tadi bibir sama lidahnya ke gigit jadi sakit kalo ngomong katanya." Jawab Nada asal-asalan. Fanya tak menghiraukan ucapan Nada dan Devan, yaa biarkan sajalah yang penting mereka bahagia.
"Kalo gue sembuhin mau ga yak?"
"Sembuhin aja ka, biar dia gak diem aja." Sindir Nada.
"Oh iya tapi Kakak mau sembuhin pake apa?" Tanyanya polos.
"Pake bibir gue. Biar sakitnya pindah ke gue." Goda Devan, yang di balasi pelototan tajam oleh Fanya.
"Huhh dasar, modus mulu lo!" Ujar Yordan.
"Gimana nih mau gue obatin gak bibir lo? Biar sembuh gitu, kalo mau sekarang gue bakal buka praktek." Ucap Devan.
Pletakk. Fanya menjitak kepala Devan menggunakan sendoknya. "Ngomong sekali lagi gue ceburin lo ke laut."
"Yahh, padahal gue belum ngobatin sariawan lo pake bibir gue. Tapi lo nya udah bisa ngomong." Ucap Devan lesu.
"Lo mau gue gue ceburin kelaut hah?!" Tanya Fanya geram, ia berdiri sambil berkacak pinggang.
"Mau dong di ceburin ke laut, asal sama lo."goda Devan.
"Devan sinting!!" Pekik Fanya yang sudah menjadi tontonan orang banyak.
Fanya berusaha mengontrol emosi nya yang sudah memuncak, ingin sekali ia menjambak rambut Devan, namun ia sadar penggemar Devan pasti akan segera menghabisinya nanti.
Sementara itu Nada, Yuda , Wildan, dan Aldi hanya menjadi penonton setia saat Devan dan Fanya sedang mengadakan drama dadakan seperti ini.
Fanya mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia tak tahan dengan Devan yang tak henti nya mempermalukan Fanya di depan umum.
"Sinting!" Fanya menghentakkan kakinya dan segera mungkin ia meninggalkan kantin.
"Ehh Fanya." Pekik Nada.
"Ka, gue ke kelas duluan ya." Ucap Nada kepada Devan, Wildan, Aldi, dan Yordan.
"Iya hati-hati ya, kalo lo jatuh gue siap bantu lo ko."
Nada hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka berempat.
"Van, katanya lo udah jadian sama si Fanya? Kenapa tadi dia ketus banget?" Ucap Aldi.
"Biasa lah, yang namanya baru jadian pasti masih malu-malu." Jawab Devan santai.
"Bukan malu-malu, yang ada malu-maluin." Celetuk Yordan yang membuat Wildan dan Aldi tertawa.
"Yang ganteng mah bebas, mau malu-maluin juga tetap aja masih banyak yang naksir." Balas Devan tak mau kalah.
"Iyadeh iya yang gantengnya tak terkalahkan kalo di sandingkan sama mimi peri." Canda Wildan. Semuanya tertawa geli.
"Najis!" Ucap Devan bergidik ngeri. Ia pun berdiri dari bangkunya dan beranjak pergi dari kantin.
"Mau kemana Van?" Tanya Wildan.
"Mau nyamperin bini dulu."
Sesampainya Devan di kelas Fanya, Devan menyapu pandangan nya ke seluruh penjuru kelas mencari Fanya.
"Eh, lo liat Fanya?"tanya Devan pada salah satu teman Fanya.
Yang ditanya geleng-geleng kepala. "Maaf ka, saya ga tau."
"Fanya lo dimana si?" Gumam Devan.
Ia pun meninggalkan kelas Fanya, dan beralih mencari Fanya ketempat yang lain. Tapi panggilan alam datang pada saat yang tidak tepat, membuat Devan terpaksa harus menghentikan pencariannya untuk memenuhi panggilan alam ini.
"Ahhh sial." Gumam Devan sambil memegang perutnya. Devan pun berlari menuju WC sekolah nya untuk setor penghasilan yang telah ia peroleh.
"Eh maaf ka." Ucap perempuan berkacamata itu dengan gugup. Karena yang ia tabrak adalah Devan, seorang most wanted yang sangat digandrungi oleh siswi di sekolahnya.
"Iya gapapa kok." Balas Devan tersenyum, ia menahan mules di perutnya.
Perempuan itu yang mendapat senyuman manis dari Devan langsung terbawa suasana dan jangan ditanya lagi, jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Jarang-jarang dapat senyuman khusus dari Devan untuk dirinya ini.
"Ka Devan gak sakit kan? Aku tadi nabrak kaka kenceng solanya, kaka mau di antar ke UKS ga?"
Devan kesal dengan perempuan di depannya ini. Kalau saja dia tidak sabar menghadapi ini, sudah dipastikan perempuan dihadapannya akan ia marahi.
"Gue ga papa ko, lo gausah khawatir. Yaudah gue pergi ya udah mentok soalnya nih." Balas Devan, lalu pergi meninggalkan perempuan itu.
"Ahkkkkhh uhhhh" Desahan demi desahan keluar dari mulut Devan dengan lembutnya.
"Akhirnya lega juga." Ucap Devan, sambil menepuk perutnya pelan. Ia pun keluar dari toilet. Saat Devan keluar dari toilet laki-laki, ternyata Fanya pun keluar juga dari toilet perempuan, karena toilet antara laki-laki dengan perempuan itu saling berhadapan, mereka pun berpapasan di waktu yang tak disangka.
"Emang ya jodoh itu gaakan kemana. Gue jadi makin percaya sama Afgan kalo jodoh itu pasti bertemu. Kaya sekarang ini kita bertemu di toilet." Ucap Devan mencoba menggoda Fanya.
"Lo habis pup ya? Bau banget gila!" Tanya Fanya mengada-ada sambil memencet hidungnya dengan jari jempol dan telunjuknya. Padahal yang sebenarnya itu ia tidak mencium bau apa-apa dari Devan. Malahan yang ia rasakan pada saat di dekat Devan adalah bau maskulin yang membuatnya nyaman.
Devan bingung harus menjawab apa, pasalnya memang benar dia itu habis setor karena sudah 2 hari ia tidak setor mungkin karena itu baunya sangat busuk sampai-sampai Fanya pun bisa mencium baunya. Tapi bukan Devan namanya kalo dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari orang-orang termasuk wanitanya ini.
"Lo ko tau si kalo gue habis pup? Apa jangan-jangan lo ngintipin gue tadi?"
"Dih ogah banget gue ngintipin lo."
"Kalo bukan ngintip terus apa? Dan kalo lo ga ngintip gue, gak mungkin juga kita bisa barengan keluar dari toilet." Pertanyaan Devan berhasil membuat Fanya tak bisa berkutik. Ia gemas dengan tingkah wanitanya ini.
"Ga bisa jawab kan?" Goda Devan sambil mengelus pipi kanan Fanya.
"Jauhin tangan lo dari pipi gue." Ucap Fanya menepis tangan Devan.
"Kalo dijauhin nanti kangen di elus-elus kaya gini lagi." Balas Devan mengelus pipi Fanya untuk kesekian kalinya.
"Lepasin, gue teriak nih." Ancam Fanya.
Devan tersenyum miring. "Teriak aja, gue bakal lebih duluan nyumpel mulut lo pake bibir gue."
"Dasar cowok mesum."
"Bentar lagi juga udah mau sah, jadi gapapalah sekali-kali latihan m***m ke calon istri."
"Cowok gila!" Pekik Fanya.
"Mau Abang gila ataupun m***m, pada akhirnya Abang Devan bakalan jadi suami kamu sayang." Goda Devan yang membuat Fanya bergidik geli.
Devan melangkahkan kakinya mendekati Fanya. Ia mempertipis jarak antara Fanya dengannya, tangannya ia lingkari di pinggang ramping Fanya. Devan pun mendekatkan wajahnya ke telinga Fanya. "Nanti pulang bareng gue. Gaada penolakan sayang." Bisik Devan penuh kelembutan.
Aneh! Fanya tidak sama sekali memberontak ketika tangan Devan melingkari pinggang nya, tak tahu mengapa ia merasa sangat nyaman diposisinya saat ini.
Devan menjauhkan wajahnya kembali dan kembali menatap wanitanya. "Lo ga perlu gugup gitu ngeliat gue. Gue tau gue itu ganteng, ramah, baik hati, tidak sombong, dan yang pasti har..."
Pletakk. Fanya menjitak kepala Devan keras, ia melepaskan tangan Devan dari pinggangnya.
"Aww, sakit sayang." Ringis Devan mengusap kepalanya.
"Rasain. Lagian gue benci sama orang yang ngebanggain dirinya sendiri di depan orang-orang." Sindir Fanya.
"Udah minggir, gue mau ke kelas." Ucap Fanya sinis, kemudian berlalu meninggalkan Devan.
Devan mengejar Fanya yang belum jauh darinya itu. Dan
Cup
Sebuah ciuman mendarat di pipi kanan Fanya dengan waktu yang sangat singkat. "Inget pulang bareng." Ucap Devan, ia pun mendahului langkah Fanya. Agar tak kena amukan dari calon istrinya itu.
"Devan gila, stres, sinting, cowok hidung belang, k*****t lo!!!!!" Pekik Fanya sangat kesal saat tahu Devan sudah menciumnya lagi.