"Eh... Fan kemarin foto yang lo upload di i********: itu kok bisa di komen sama Ka Devan?" Tanya Nada mengintrogasi.
"Apa jangan-jangan lo udah pacaran? Tapi backstreet, ya kan?"
"Udah gila! Mana mau gue pacaran sama dia." Sergah Fanya.
"Yaa kali aja lo suka, kan bisa gue bantu. Ya... meskipun gue juga sempet suka sama ka Devan, tapi gapapalah ya buat kali ini." Goda Nada sambil batuk yang disengaja.
Fanya menoleh kearah Nada, yang memperlihatkan tatapan tajam setajam pisau emak di dapur. "Gue pastiin setelah pulang sekolah lo langsung ke rumah sakit Nad." Sinis Fanya.
"Gue bercanda sumpah." Ucap Nada ketakutan sambil mengangkat jari nya dan membentuk huruf V.
**********
"Fanya, kantin yuk." Ajak Nada.
"Gue mau ke perpus dulu nih, anter gue dulu ya."
"Yaudah ayo."
Fanya dan Nada pun berjalan untuk menuju perpustakaan, karena Fanya akan meminjam buku matematika untuk referensi belajar di rumah. Sesampainya di perpustakaan, Fanya langsung keliling mencari buku paket matematika yang akan ia pinjam, sementara itu Nada hanya duduk di kursi perpustakaan sambil memainkan handphone nya. Kan lumayan bisa numpang WiFi an, biar gak boros kuota juga.
Fanya masih mencari buku paket yang ia maksud. Setiap rak buku mata pelajaran ia periksa untuk memastikan apakah masih tersisa buku paket yang ia maksud itu.
"Fanya?" Sapa seseorang yang suaranya tak asing lagi bagi Fanya.
Merasa namanya di panggil, Fanya pun menoleh kebelakang. "Eh Ka Fareen. Ada apa?" Balas Fanya dengan wajah flat.
"Lagi ngapain?"
"Lagi nyuci celana Hulk."
"Ya lagi nyari buku lah." Ucap Fanya kesal.
Fareen menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu, karena merasa salah bertanya.
"Ehh iya ya. Nyari buku apa emang?"
"Paket matematika kelas 10."
"Ohhh. Gue boleh bantu nyari?" Tawar Fareen.
"Terserah."
Fareen pun ikut membantu Fanya mencari buku paket matematika, tapi dari tadi dicari tak kunjung didapat juga hingga akhirnya mereka menyudahkan pencarian nya itu.
"Fanya kayaknya udah habis deh." Pikir Fareen.
"Yaudah." Ucap Fanya, lalu pergi meninggalkan Fareen tanpa pamit.
Fareen pun menyusul Fanya yang jaraknya hanya beda beberapa langkah itu dengan cepat. "Fanya, lo butuh banget buku matematika nya?" Tanya Fareen yang kini sudah ada di samping kiri Fanya.
Fanya hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan suara.
"Di Gramedia pasti ada."
"Hmmm"
"Mau gue anterin ga?" Tawar Fareen.
Ketika Fanya akan menjawab, tiba-tiba tangan seseorang mencengkeram tangan Fanya dengan erat untuk menjauhkan Fanya dengan Fareen. Karena sekarang jarak Fanya dengan Fareen hampir tidak ada space nya.
Dan
Bughh.
Satu tinjuan yang sangat cantik mengenai wajah Fareen. "Gausah deket-deket sama Fanya! Sekali lagi gue lihat lo deket sama dia, abis lo!" Ancam Devan dengan nada tinggi, yang menimbulkan kebisingan di perpustakaan karena ulahnya itu. Nada pun ikut melihat kejadian yang terjadi itu dengan tatapan kaget.
"Ini bukan tontonan!" Teriak Devan.
Semua yang menonton pun bubar seolah-olah tak tahu menahu atas kejadian tadi, yaa daripada bonyok oleh Devan mending pura-pura gak tahu.
"Devan!! Lo apa-apaan si?" Ucap Fanya, dia pun langsung berlari kecil menghampiri Fareen yang sedang meringis memegangi muka nya yang membiru. "Reen, lo harus ke UKS." Ujar Fanya merasa kasihan.
"Banci! Di tonjok segitu aja sakit! Laki bukan si lo?" Sindir Devan.
Fanya kembali menatap Devan sinis. "Devan, mau lo apa hah?"
"Lo mau tau, mau gue apa?"
"Minggir." Fanya menebas tubuh Devan yang menghalangi Fanya dan Fareen untuk berjalan.
"Tadi lo nanya mau gue apa. Sekarang lo malah pergi gitu aja." Elak Devan tak terima.
"Bacot!"
Bughh
Satu tinjuan lagi mendarat di pipi kanan Fareen. "Lo emang banci! Jauhin Fanya!" Ancam Devan lagi, ia pun langsung membawa Fanya pergi dari perpustakaan dan meninggalkan Fareen sendiri.
"Devan, sakit b**o!" Ringis Fanya kesakitan karena eratnya pegangan Devan.
"Lo masih harus ngerjain tugas-tugas gue, kenapa mesti kelayaban sama cowok lain." Ujar Devan, yang kini sudah melepaskan pegangannya.
"Tadi lo nanya kan mau gue apa? Sekarang lo kerjain tugas fisika gue sekarang!" Perintah Devan dengan sedikit menyentak.
"Ogah."
"Lo nurut, atau gue cium bibir lo di sini?" Ancam Devan.
Fanya menegang di tempat, tak mau sekali first kiss nya diambil oleh cowok sinting macam Devan.
"Bodoh! Kenapa diem? Lo mau gue cium sekarang?!" Devan pun melangkah maju kearah Fanya.
Sekarang mereka menjadi bahan tontonan ekslusif untuk seluruh siswa harpbang, pasalnya Devan memang benar-benar tidak main main dengan ucapan nya itu.
"Huhhhhhhh."
"Cium ajaaaa....."
"Si Devan emang somplak. Main nyosor aja."
"Jangan pacaran disitu bang, Ade gakuat liat nya."
"Devan ko mau ya sama cabe? Heran gue."
Suara riuh murd yang menonton kejadian itu menambah keseruan drama yang jarang sekali terjadi di sekolah.
Fanya tersadar, ia pun mendorong d**a bidang Devan agar menjauh darinya. "Lo ko gak tau malu banget si? Gara-gara lo kita jadi bahan tontonan b**o!"
"Biarin, biar mereka semua tahu kalo berurusan sama gue itu kaya apa?!" Sentaknya.
"Devan ganteng banget kalo lagi marah-marah."
"Ihhh seremmm."
"Anjir itu anak kelas berapa si? Ko bisa-bisanya cari masalah sama si Devan?."
"Kasian elahh, cantik-cantik di sentak."
"Ngomong sama lo kaya ngomong sama singa kelaparan. Bawaannya emosi mulu." Ujar Fanya sambil berkacak pinggang.
Sebenarnya Devan ingin sekali tertawa mendengar ucapan Fanya, tapi gak lucu juga kan kalo dia tertawa sekarang.
"Gue gak banyak waktu buat ladenin lo! Cepetan kerjain tugas gue!" Sentak nya lagi.
"Gue juga gak punya banyak waktu buat ngerjain tugas lo!"
"Image gue buruk gara-gara lo!" Sinis Fanya, lalu pergi meninggalkan Devan.
Devan terdiam di tempatnya, membiarkan Fanya yang sudah berlalu meninggalkan nya. Ahh.. apa dia sekejam itu? Sampai membuat buruk image Fanya yang notabene nya adalah wanita yang sangat ia sukai.
"Fanya, coba aja lo tau kalo gue ngelakuin ini karena cemburu ngeliat lo bareng cowok lain." Batin Devan berkecamuk. Melihat punggung Fanya yang sudah semakin lama semakin menjauh dari nya.