Bab 5 Si Penjual Nama

1002 Kata
Sienna menggeleng kepala, mendengar penuturan dari suaminya perihal mobil. "Makanya, Pak. Kalau punya mobil itu jangan banyak-banyak, maksimal satu saja." Mata Harsa melirik, memang sedari awal kemal Sienna sosok yang tidak segan untuk mengkritik. Kepala dia mengangguk, nampaknya menyetujui omongan dari Sienna. "Benar sekali." Sienna melirik, tumben sekali Harsa tidak membuatnya kesal hari ini. Serasa heran melihat suami yang satu pemikiran dengan dirinya. "Aku akan mengganti semua mobil yang ada di sini dengan jenis baru." Sudah Sienna duga, memang tidak ada satu hari pun Harsa tidak membuat perkara. Mengganti seluruh mobil di parkiran, sungguh perbuatan yang berlebihan. “Lebih baik aku tidak bicara dengan Bapak saja, lama-lama bikin naik darah.” Suara alarm yang dibuka membuat Sienna melirik, rupanya Harsa memilih mobil di sebelah mereka berdua. “Jadi, sejak tadi Bapak sudah memegang kunci? Kalau begitu kenapa musti bingung.” Harsa memasuki mobil. “Aku hanya tidak tahu mobilnya diletakan di mana.” Bibir Sienna mengulas senyum sinis, bukankah itu hanya sebuah alibi. “Bilang saja Bapak pikun, lupa dengan mobilnya bukan di mana tempatnya.” Harsa mendelik dengan sedikit tidak terima, dikata pikun oleh istri sendiri. Selam aini dia tidak pernah mendapat ejekan seperti itu. “Aku penasaran dengan bibirmu yang kejam ini, apakah akan tetap memaki kalau bertemu saingannya.” Omongan suami yang cukup tidak dipahami oleh Sienna hanya ditatap saja, kemudian Sienna memilih membuka pintu belakang. “Di depan.” Saat itu juga Harsa langsung memprotes. “Bukankah Bapak membawa aku sebagai karyawan. Tidak pantas kalau—” “Perlu kamu tahu Sienna, aku bukan sopir.” Amat terpaksa Sienna membuka pintu depan dan berakhir duduk di sebelah Harsa. Ketika mata dia melirik, istri nampak terburu memakai sabuk pengaman. “Kamu takut dimanfaatkan dengan dalih memakaikan sabuk?” Pertanyaan itu dijawab anggukkan oleh Sienna. Bibir Harsa menertawakan pemikiran istri yang terlalu jauh itu. “Tenang saja, aku tidak seburuk dugaanmu.” Meski, Harsa meyakinkan Sienna. Pandangan tidak bisa berdusta, bibir Sienna yang berisi di bawah itu cukup mengasyikan untuk digigit mau pun dipermainkan. “Dua tahun belakangan, kamu pacarana dengan berapa pria?” Selagi keluar dari parkiran, Harsa justru mempertanyakan hal konyol. “Kewarasan Bapak hilang di hotel atau perjalanan pulang? Aku sudah jadi istri orang selama dua tahun terakhir.” Kepala Harsa mengangguk. “Jadi, masih ….” Sekali lagi, pandangan Harsa jatuh pada bibir sang istri. “Lihat apa!” Sienna mengamuk menyadari kelakuan Harsa. Harsa tersenyum. “Hanya penasaran, warna lipstick milikmu bagus. Serasa ingin mencobanya.” Sienna mengerutkan dahi. Dari mulai usia menua sama sekali tidak tertarik dengan wanita, setelah menikah malah pergi meninggalkan. Sekarang Harsa membahas ingin mencoba lipstik. Keyakinan Sienna makin kuat. Harsa punya prilaku sedikit menyimpang. *** “Pak Harsa.” Sienna berjalan di belakang Harsa mendekati Angga yang berdiri di hadapan pintu pameran. Sungguh, jika ada sekretaris kenapa dirinya harus ikut juga? Lagi pula Harsa bilangnya klien, malah jajaran lukisan dinikmati puluhan orang di hadapannya kini. “Mana kliennya?” Selagi mengikuti Harsa dan Angga memasuki Gedung, Sienna mempertanyakan. Bukannya menjawab, Harsa malah sibuk mengobrol dengan Angga. Kalau hukum bisa dibeli olehnya juga saat digugat, mungkin Harsa sekarang akan meringis kesakitan karena disleding Sienna. “Kalau ada yang ingin kamu beli, katakan saja.” Harsa memerintah demikian, tapi saat Sienna hendak melangkah ke lain arah. Sorot mata Harsa melirik tajam. “Ikuti aku, Sienna!” Itu artinya, Sienna harus membeli apa yang Harsa juga sukai. Selagi mengikuti mereka berdua, ia menarik napas dengan pelan. Mungkin jadi lukisan atau patung lebih baik ketimbang jadi istri pajangan dari Harsa. “Pak Harsa.” Kakinya baru berhenti Ketika beberapa orang asing mendekat dan saling berjabat tangan. Meski asing, mereka mampu berbahasa Indonesia dengan cukup fasih. Pembicaraan terus berlanjut tanpa melibatkan sosok Sienna, namun mata salah satu pria mulai tertuju padanya. “Wanita cantik ini apakah sekretaris baru Pak Harsa?” Mata Harsa melirik Sienna yang hanya diam di tempat. Baru menunjukkan reaksi terkejut, itu pun ketika jemari Harsa meraih lengannya. Tubuh sudah mendekat pun rupanya belum cukup bagi Harsa, tangan dia mulai melingkar di pinggang Sienna. “Istriku.” Begitu Harsa mengenalkan status Sienna, mata sempat melirik pada Angga. Seolah memberi tahu adanya batasan serta kepemilikan yang tidak mudah berpindah. Harsa mengulas senyum pada Sienna. “Namanya Sienna.” “Nama yang cantik, sesuai dengan orangnya,” puji klien Harsa. Harsa berhenti memandangnya. “Tentu saja.” Sienna merasa risih dengan Harsa yang sedari tadi menyuruhnya berjalan berdampingan, bahkan sesekali harus diam saat tangan digenggam. “Semoga kerja sama kita terus berjalan lancer.” Usai mengucap perpisahan, klien yang Harsa maksudkan itu meninggalkan mereka. Saat itu juga, Harsa melepaskan tangan Sienna dengan pelan. “Berkelilinglah dan beli apa pun yang kamu suka.” Tentu dengan senang hati Sienna berjalan cepat menjauhi suami dan sekretaris. Semula Harsa memperhatikan ke mana perginya Sienna, kini mulai menjatuhkan pandangan pada Angga yang hanya membisu. “Bicaralah! Sedari tadi kamu begitu tegang.” Angga mengeluarkan ponsel dan ditunjukkan pada Harsa. “Perihal mertua Anda, Pak.” Mata dia sipitkan, melihat penyalah gunaan nama dia selama beberapa bulan terakhir. “Sepertinya si tua bangka itu mulai menunjukkan sikap aslinya,” sindir Harsa. Manusia yang disebutkan oleh Harsa tak lain mertua sendiri, yakni Indra Baskara. Sang penjual nama menantu untuk kelangsungan investasi di anak Perusahaan. “Saya tidak bergerak, sebab ini berkaitan dengan istri Anda, Pak.” Harsa mendelik. “Memangnya kenapa dengan Sienna?” “Ayahnya yang serakah sudah sepatutnya ditindak, aku tidak peduli dengan perasaan anaknya sama sekali.” Kaki Harsa mulai melangkah. “Benalu, sudah sepatutnya dipotong dan dibuang.” Setiap kaki yang Harsa langkahkan itu memasuki telinga Sienna yang berdiri dalam diam di balik lorong. Apalagi perbincangan di antara Harsa dan Angga, tentunya Sienna menyimak dengan baik. Helaan napas Sienna kalah dengan riuhnya pengunjung pameran. “Semua yang aku pijaki persis kandang macan, sisi mana aku harus lari?” Dari pada memikirkan kekacauan yang dibuat ayahnya, Sienna memilih melangkah dan menemukan satu lukisan untuk dibawa pulang. Dengan begitu, Sienna bisa merenungi jalan hidupnya sebelum kembali pada Harsa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN