"Dia meninggalkan aku sehari setelah menikah?"
Sienna mendengkus dengan tangan memukul bantal pelan.
"Kalau memang tidak niat menikah, kenapa dia menikahi aku?"
Padahal Sienna bisa mengutarakan segala kekesalannya di hadapan Harsa barusan. Namun, Sienna memilih melampiaskan emosi di dalam kamar.
Sementara di kamar sendiri. Harsa nampak duduk dalam diam di balkon. Mata memandang ribuan bintang yang bertahun-tahun bersembunyi di langit. Sesekali dia menyesap puntung rokok yang mulai habis.
"Berangkat sekarang."
Titah itu didengar oleh asisten pribadi Harsa yang juga berada di balkon.
"Bukankah Bapak berangkat besok pagi?"
Harsa melirik pria lima tahun di bawahnya ini. "Aku tidak ingin melihat wajah wanita itu saat pergi."
"Bukan karena tidak tega," ujar Harsa lagi, sebelum asisten salah paham.
Kepala pria tersebut memilih mengangguk, ketimbang mempertanyakan rasa penasaran di hati. Bekerja dibawah pimpinan Harsa, terpenting cekatan dan banyak diamnya.
"Baik, Pak."
***
"Punya otak tidak! Kamu cuma diam dan merelakan Harsa pergi!"
Baru juga Sienna menduduki sofa ruang tamu di rumah orang tuanya. Makian serta amukan dirinya dapatkan dari Indra.
Indra mondar-mandir di hadapannya dengan emosi.
"Ibumu yang cacat itu! Aku bersumpah akan membuangnya ke hutan belantara!"
Jika dimaki biasanya hanya diam, tapi menyangkut ibunya yang tinggal terpisah dari mereka. Sienna tentu tidak terima.
"Kenapa tiba-tiba mengancam ibu lagi? Bukankah aku sudah menuruti permintaan Ayah?"
Indra mendengkus kesal. "Bujuk Harsa untuk kembali ke rumah, sekarang juga!"
"Mau bujuk bagaimana, Yah? Dia pergi dengan keniatannya sendiri."
"Usaha juga belum!"
Sienna memilih menarik napas dan tetap duduk di hadapan ayahnya yang mulai mengomel panjang lebar ini.
Menurutnya, tiada guna juga Sienna bicara dengan Harsa. Pria berkepala batu itu tentu tidak akan mendengarkan.
Lagi pula, memangnya Sienna punya kontak Harsa? Baik dirinya mau pun Harsa tidak memiliki nomor satu sama lain.
Sementara itu. Di dalam perjalanan menuju hotel, terlihat Harsa sibuk menggulir layar ipad dengan raut wajah tenang.
"Kamu kembalilah ke Jakarta."
Mulut Harsa tiba-tiba menyuruh, membuat dua kepala menoleh.
Harsa melirik sekretaris yang turut ikut. "Awasi Sienna dengan baik, jangan biarkan dia menghancurkan martabatku selama aku pergi."
Pria bernama Angga ini semula menduga kalau Harsa tidak punya kepedulian terhadap Sienna. Rupanya pemikiran pria tersebut sedikit meleset.
"Dengar tidak!" Nada suara Harsa mulai meninggi.
"Iya, Pak."
Harsa mengendurkan dasi dengan raut emosi. Merasa kesal dengan nomor tak dikenal yang meneror sepanjang perjalanan.
"Blokir nomor itu!"
Padahal dengan kedua tangan yang masih sehat, Harsa bisa melakukannya sendiri. Namun, dia melempar ponsel ke arah asisten yang sigap menanggapi.
"Baik, Pak."
***
"Bagaimana? Masih tidak bisa dihubungi?"
Pandangan Sienna terangkat. Ia melihat pada ibu mertuanya bernama Tiara yang menunjukkan raut cemas.
Kepala Sienna menggeleng. "Tidak ada jawaban, Ma."
Sienna mendapatkan nomor milik Harsa dan menelpon pria itu dengan terpaksa, setelah diintrogasi oleh keluarga suaminya.
Selepas pergi dari rumah orang tua, Sienna langsung mendatangi kediaman utama keluarga Harsa. Di mana tujuan mereka adalah menyalahkan Sienna yang lengah.
"Hubungi dia terus!"
Suara itu memenuhi seluruh ruangan. Sienna menatap dalang dari terciptanya pernikahan ini, tak lain kakek dari Harsa, Abraham.
"Tidak bisa, Kek. Sepertinya nomor milikku--"
Sienna tertegun dengan Abraham yang semula cukup jauh darinya, mendadak mendekat hanya untuk menampar wajahnya.
Tiara sama terkejutnya, namun hanya bisa diam karena ketidak mampuan melawan mertua.
"Sebenarnya apa kegunaan kamu selain hanya mengacau!"
"Indra sialan itu! Beraninya mengganti putrinya saat pernikahan!"
Sienna membisu, awalnya ia mengira kalau pernikahan ini sudah disetujui keluarga Harsa. Sepertinya kali ini Harsa memutuskan secara sepihak.
Jemari Abraham menunjuk wajahnya sengit. "Pasti kamu bersekongkol dengan Indra supaya kakakmu itu kabur, kan!"
Merasa tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kaburnya Sindi, tentu Sienna tidak terima dan hendak menyahut.
Namun, kepala Tiara menggeleng. Memberinya saran untuk tetap diam tanpa bersuara. Hal itu membuat Sienna bungkam.
"Hubungi Harsa dan minta dia untuk pulang!" Abraham kali ini menyuruh Tiara, ibu mertuanya.
"Iya, Pa."
Sempat Abraham menatap tajam ke arahnya, barulah kaki itu melangkah memasuki ruangan dengan perlahan. Usia tua membuktikan cara kakek Harsa itu berjalan, namun emosi tetaplah seperti orang muda.
"Jangan dimasukkan ke hati."
Pandangan Sienna akhirnya jatuh pada ibu mertuanya. Entah wanita ini baik beneran atau hanya topeng belaka. Sienna hanya melihat Tiara banyak tersenyum saat diliput media, kalau sifat asli masih belum tahu.
"Iya, Ma."
"Ambil es batu untuk kompres wajah menantuku," pinta Tiara pada pembantu yang bergegas mencarikan.
"Harsa selalu menghindari pernikahan, wajar kalau dia pergi begitu saja seperti itu," ujar Tiara.
Namun, ibu dari Harsa ini tidaklah menduga. Ternyata Harsa yang ogah-ogahan nikah itu, justru memilih Sienna selaku istri pengganti.
"Mama ingin akrab dengan kamu, Sienna."
Bibir Sienna hanya mengulas senyum tipis. Kalau ibu mertuanya ini sungguh baik, maka Sienna tidak segan untuk menyayangi balik.
Sienna kembali ke rumah milik Harsa, kini ditinggali olehnya seorang. Mungkin pembantu masih tetap dipekerjakan, tapi tentunya mereka tidak akan bicara santai dengannya.
"Ibu Sienna."
Baru juga Sienna turun dari taksi, memasuki pekarangan rumah dirinya sudah disambut seorang pria yang dikenalnya sebagai sekretaris Harsa.
"Ya."
Matanya mulai mencari. "Apa Pak Harsa telah kembali?"
Barangkali kepala batu itu berpikir ulang, tidak tega membiarkannya menghadapi dua keluarga yang buruk.
"Justru itu, Bu. Kehadiran saya di sini karena pak Harsa tidak kembali, sesuai jadwal semula."
Ah, itu berarti Sienna ditinggalkan selama dua tahun lamanya. Tapi, ada baiknya juga dengan begitu ia tidak harus bertemu dan adu mulut lagi.
"Lalu, ini titipan dari pak Harsa."
Sienna memandang Angga yang menyodorkan sesuatu di hadapannya. Di atas tangan Angga terdapat black card, kartu ATM serta cek.
"Ini ... apa maksudnya, ya?" Sienna heran.
"Pak Harsa memberikan ini untuk Ibu."
Dahi Sienna mengerut. "Semua ini?"
Dirinya tidak yakin kalau Harsa akan memberikan fasilitas mewah ini secara cuma-cuma, toh dia bukan pria yang baik, tentu bukan suami baik pula.
"Benar, Bu Sienna. Lalu pak Harsa memesan."
Inilah yang Sienna tunggu, paling juga Harsa melarangnya menggunakan fasilitas di tangan Angga. Harsa paling hanya menitipkan secuil harta padanya saja.
"Kata pak Harsa, Ibu Sienna wajib menghabiskan 100 juta setiap bulannya."
Nominal itu hanyalah uang kecil. Mungkin untuk memenuhi kebutuhannya yang seorang menantu konglomerat tidak cukup, terlebih banyak menghadiri pesta atau pertemuan.
"Lalu, untuk cek dan black card. Ibu Sienna bisa menggunakannya untuk membeli tas atau apa pun."
Kali tersebut mata Sienna membulat. Lalu, uang 100 juta yang disebutkan itu untuk apa? Kalau membeli barang mewah tidak termasuk.
"Mobil di bagasi, Ibu bisa memilih bahkan memakai semuanya bergantian kalau ingin."