"Sore, pacar-nya Cia." Revan terkekeh saat gadis yang paling ia tunggu datang dengan ceria. Terlihat, Cia membawa sekantong plastik di tangannya. Selalu, Cia tidak pernah datang dengan tangan kosong. Ada-ada saja yang di bawa gadis itu untuknya. "Sama siapa ke sini?" tanya Revan saat Cia sudah duduk di kursi sebalah brankar. "Naik taksi. Tadi, Daffa ngeselin banget. Masa Mila mau ngantar Cia ke sini nggak dibolehin sama dia. Katanya, Mila nggak boleh ngantarin siapapun kecuali dia sendiri," adu Cia kesal. Revan tertawa pelan. Ia mengerti bagaimana jahilnya teman-temannya itu. Apalagi, ia tahu Daffa dalam masa mendekati Mila. "Terus?" tanya Revan lagi. Begitu menyenangkan mendengarnya. Apalagi dari cerita versi Cia. Cara bicara gadis itu begitu menggemaskan dan terdengar sangat alam

