1. BACK
Cia, Revan, dan Sarah sepakat untuk pergi ke Indonesia untuk menemui orang-orang yang telah menyakiti Cia. Sarah benar-benar emosi saat Revan dan Jessie memberitahu bahwa Putra memperlakukan Cia seakan bukan anak kandungnya. Apalagi Maya dan Amanda yang sangat buruk memperlakukan Cia sebagai keluarga.
"Jangan masukin Ayah, Ibu sama Kak Amanda, ya, Bunda. Nggak papa kok. Sekarang 'kan Cia baik-baik aja."
Entah ke berapa kalinya Cia mengatakan itu. Tapi, Sarah tetap kekeh ingin menjebolkan mereka bertiga ke penjara. Kalau bisa, mereka mendapatkan sakit yang ter-amat melebihi sakit yang Cia rasakan dulu.
Sarah menoleh dan mengelus lembut surai coklat itu, "Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal, sayang."
Cia menggeleng dan menggenggam erat tangan Sarah yang membelai rambutnya, "Jangan, bunda. Bukannya bunda yang ngajarin Cia buat balas perbuatan seseorang dengan kebaikan? Walau itu jahat, kita harus tetap baik. Bunda ingat 'kan?"
Sarah menghela napas dan tersenyum. Putrinya benar-benar gadis yang baik. Sampai orang-orang di sekitarnya memperlakukannya tidak baik karena kebaikan Cia adalah kelemahannya.
"Semua orang pasti mengatakan itu untuk mengajarkan anak-anaknya. Tapi, kita juga nggak bisa diam kalo ada seseorang yang telah berani mengusik hati kita." Sarah kembali berkata.
"Bunda... "
Sarah menggenggam tangan Cia, "Nggak papa. Serahkan semuanya sama bunda. Bunda janji bakal buat kamu bahagia mulai sekarang."
Cia terdiam dan hanya menatap Sarah. Lalu, ia mengangguk dan langsung memeluk bundanya dengan erat.
"Makasih, bunda." Cia semakin mempererat pelukannya.
Sarah tersenyum, "Sudah jadi kewajiban bunda."
"Oh, iya." Cia melepaskan pelukannya dan menatap ibunya, "Kak Revan sama Jessie mana?"
Sarah menampilkan ekspresi lupa memberitahukan sesuatu, "Jessie katanya besok nyusul ke Indonesia. Kalau Revan... " Sarah menggantung ucapannya sengaja untuk menggoda putrinya.
Cia semakin penasaran, "Di mana Kak Revan, bunda?"
Sarah tersenyum jahil. Lalu arah pandangnya ter-arah ke belakang membuat Cia juga refleks menoleh ke belakang.
Cia mendapati Revan tengah melangkah ke arahnya dengan koper di tangannya. Ia tersenyum melihat itu. Sungguh, kakak kelasnya benar-benar tampan. Oh mungkin... pacarnya?
"Maaf, tante. Revan terlambat." Revan berkata saat ia sudah tepat di hadapan Cia dan Sarah.
Sekarang ini, mereka sedang berada di bandara. Cia sempat bertemu Pak Graham suami ibunya. Memang benar, Pak Graham yang sekarang resmi menjadi ayah tirinya benar-benar baik. Terlihat dari perlakuannya terhadap ibunya, ayah tirinya sangat lembut. Cia lega, ibunya mendapat takdir yang bahagia.
"Nggak papa, Revan." Sarah membalas ramah.
Revan tersenyum dan mengangguk.
"Ayo. Sebentar lagi, pesawatnya mau jalan di atas awan." Sarah menoleh ke arah Cia yang tersenyum. Cia ingat dengan kata-kata itu. Sebenarnya, kata-kata 'jalan di atas awan' itu ibunya yang mengajarkannya sewaktu kecil. Cia rindu masa-masa itu.
---
Di dalam pesawat...
Cia, Sarah dan Revan duduk berjejeran. Cia sedikit kecewa, karena yang duduk di sebelahnya bukan kekasih barunya. Ia mendengus dan menoleh sedikit ke arah Revan yang tengah sibuk membaca majalah remaja.
"Bunda!"
Tidak hanya Sarah, Revan juga tersentak mendengar suara yang lebih tepat bentakan itu. Sarah menatap putrinya bingung.
"Kenapa, sayang?"
"Kok bunda di tengah 'sih?" kesal Cia.
Sarah terdiam mencerna ucapan putrinya barusan. Sedangkan Revan, ia terkekeh pelan. Ia tau apa maksud dari kekesalan Cia sekarang.
"Iy-iya 'kan sesuai tiket, sayang." Sarah berusaha menjelaskan. Walau ia tidak tau, di mana letak kesalahannya.
"Kalo Cia di pinggir, Cia nggak bisa deket dua-duanya!"
Sarah semakin bingung dengan tingkah putrinya. Di tambah, nada suara Cia termasuk kategori tidak santai. Untung saja, para penumpang sepertinya tidak ada yang mengerti bahasa Indonesia.
"Maksud kamu apa 'sih? Bunda jadi takut," balas Sarah.
"Ihhh, pokoknya tukeran, bunda!"
Sarah mengangguk cepat dan berdiri sambil berkata, "Iya iya, ayo tukeran."
Sarah dan Cia bertukaran tempat duduk. Cia menghempaskan tubuhnya di kursi Sarah tadi dengan napas lega. Ia menoleh ke arah Revan yang tengah tersenyum geli.
"Nanti kalo Cia ketiduran, siapin bahu, ya!" seru Cia riang menampilkan jejeran gigi rapinya.
Sarah yang melihat itu melongo. Ia sekarang sudah mengerti apa maksud dari ucapan putrinya barusan.
Putrinya tengah dilanda asmara.