2. FIRST DAY

693 Kata
Hari ini adalah hari pertama Cia masuk sekolah sesudah kejadian-kejadian buruk menimpanya. Entah mengapa, rasanya pun berbeda. Ada rasa bahagia, dan sedih mengingat semuanya. Cia tidak menyesal telah melaluinya. Ia justru bersyukur. Tanpa masa lalu, ia tidak akan berada di titik bahagia seperti sekarang. Kebahagian pasti selalu ada kesedihan terlebih dahulu bukan? Tanpa kesedihan, kita tidak akan tau bagaimana rasanya kebahagiaan. Baru saja Cia memasuki kelas, semua siswa-siswi yang ada di sana terdiam menatap kedatangannya. Ia nengernyit menatap teman-temannya yang melongo. Seakan terkejut dengan hadirnya dirinya. "Hai," sapa Cia canggung. "CIA!" Seketika semua bersorak. Terlebih Mila, sahabatnya yang sangat begitu antusias menyambut kedatangannya. Cia tertawa paksa karena ia tidak tau sedang dalam kondisi apa sekarang. Karena itu terlalu tiba-tiba untuknya. "Gue kangen banget sama lo! Ya Allah, sumpah gue kangen banget." Mila memeluk erat Cia. Cia tersenyum dan membalas pelukan sahabatnya itu. "Makasih udah kangen sama Cia. Cia juga kangen banget sama Mila." Mila melepas pelukannya dan menatap Cia bahagia. Cia senang, ia mempunyai sahabat yang tulus seperti Mila. "Gimana keadaan lo. Baik-baik aja 'kan?" tanya Mila. Ada nada cemas di setiap perkataannya. Cia tersenyum dan mengangguk, "Baik, Mila." Mila menghembus napas lega dan mengangguk. "Eh btw, bener, lo ketemu sama bunda lo?" tanya Mila yang penasaran. Cia mengangguk, "Bener." "Serius? Kok bisa? Bukannya bunda lo udah... " Mila menggantung ucapannya karena merasa tidak nyaman mengatakannya. Lalu, Cia langsung menyambung ucapan Mila. "Meninggal? Itu cuman rekayasa orang jahat," ucap Cia. "Jahat? Maksud lo siapa?" tanya Mila. Cia terdiam sejenak. Ia bimbang ingin menceritakan semuanya atau tidak kepada Mila. Karena ini menyangkut aib keluarganya. Walau ayahnya jahat kepadanya, bagaimanapun beliau lah yang menafkahinya. "Nanti Cia bakal cerita." Mila menghela napas dan mengangguk. Ia tau, Cia masih sakit jika mengingat itu semua. Yang sekarang harus Mila lakukan, ikuti alurnya. Cia pasti akan menceritakan kepadanya. "Yaudah. Kapan aja lo mau cerita, gue selalu ada." ----- "Bebeb Revan udah come back! I miss you so much!" Belum Revan memasuki kelasnya, para sahabatnya terutama Alfa yang terlihat begitu antusias memeluknya sambil berkata yang menjijikan menurut Revan. "Aku rindu kamu, Dilan. Aku rindu." Alfa berkata ngaco. Revan segera melepaskan paksa pelukan Alfa sebelum cowok itu melakukan hal yang lebih dari itu. "Kok kamu jahat sih, Dilan!" kesal Alfa dengan nada yang di buat-buat. Revan tidak menjawab ucapan unfaedah Alfa, dan memilih menatap sahabatnya yang lain dan memeluk mereka satu per-satu. "Sepi sekolah nggak ada lo, Van." Bima berkata dengan lesu. "Lo kira Revan tipe cowok yang berisik apa? Kalo mau cari perhatian buat minta oleh-oleh, cari kata yang pas dong!" Rangga menjitak kepala Bima. "Sakit, anjing!" Bima mengelus-ngelus kepalanya. "Mana oleh-oleh, Van? Lo bawa 'kan?" "Amerika, lumayan lah oleh-olehnya." "Gue nggak pernah ke Amerika, oleh-olehnya aja udah syukur alhmdulillah." "Gue yang mahal, ya." Mungkin begitulah ucapan-ucapan yang di lontarkan dari sahabatnya. Namun, semuanya terdiam seakan pupus harapan saat Revan membalas ucapan mereka. "Lupa beli oleh-oleh." Revan berkata santai. Tak peduli dengan ekspresi kecewa yang di tampilkan para sahabatnya dengan versi yang berbeda-beda. "Dilan pasti beliin oleh-oleh buat Milea 'kan?" Alfa berkata dengan nada yang dibuat-buat. "Oh no!" "Hatiku teriris mendengarnya." "Pupus harapanku." Revan menggelengkan kepalanya dengan sikap para sahabatnya. Ia melangkah meninggalkan sahabatnya yang sedang dilanda rasa kecewa akibat dirinya. "Tega kau, Dilan!" ucap ke-empatnya kompak saat punggung Revan telah memasuki kelas. ----- Mila melangkah dengan tergesa menyusuri lorong kelas. Ia sudah merasa tidak tahan ingin mengeluarkannya. Sejak pelajaran di mulai, Mila sudah kebelet. Berhubung guru yang masuk ke kelas adalah guru killer naudzubillah, Mila mengulur-ngulur waktu dan menyiapkan kata yang pas agar guru itu tidak menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Mila bernapas lega pada saat sudah mengeluarkannya. Ia keluar dari toilet dan melangkah santai untuk kembali ke kelasnya. Namun, langkahnya terhenti pada saat ia melihat dari ekor matanya bahwa ada yang memperhatikannya. Dengan cepat, ia menoleh dan mendapati Amanda tengah menatapnya. Mila tentu terkejut. Pasalnya, saat semua telah terbongkar, Mila tidak pernah lagi melihat Amanda di sekolah maupun di luar sekolah. Dan kabarnya, Amanda jarang turun sekolah. Ia mendapat informasi itu dari salah satu temannya di SMA Garuda. Tak lama dari itu, Amanda berbalik meninggalkannya. Ada sedikit kejanggalan di hatinya. Cia sudah datang. Amanda juga kembali datang. Apa ini awal untuk kembali memulai?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN