Sekian lama Mila bungkam setelah ia melihat Amanda. Entah mengapa, perasaan menjadi tidak nyaman menyangkut sahabatnya. Cia sudah mengatakan, urusannya dengan Amanda telah usai. Mungkin tidak bagi Amanda.
"Mila, ayo kantin," ajak Cia sambil mengemasi buku-bukunya.
Tidak mendapat respon dari Mila, Cia menoleh dan melihat Mila tengah terdiam sambil memainkan pulpennya.
"Mila!" panggil Cia membuat Mila tersentak kaget.
"A--apa?" ucap Mila.
Cia menghela napas, "Mila lagi mikirin sesuatu?"
Mila menggeleng dan tersenyum, "Nggak ada."
Mila memutuskan untuk tidak memberitahukan keberadaan Amanda yang ada di sini. Ia tidak ingin menambah beban pikiran gadis itu. Sudah cukup dulu Cia menanggung semuanya. Untuk sekarang ini, Mila ingin membantu untuk tidak mberitahukan apapun. Tapi Mila jamin dengan keselamatan Cia.
"Oh. Yaudah yuk kantin."
Mila mengangguk menyetujui ajakan Cia. Mereka berdua keluar kelas dan melangkah menuju kantin.
Di perjalanan menuju kantin, banyak beberapa siswi yang menghampiri Cia. Karena rumor yang tersebar Cia tidak masuk sekolah dan terkena penyakit jantung yang harus di larikan ke Amerika. Cia tersenyum ternyata banyak yang mengkhawatirkannya.
"Lo mau makan apa? Biar ku pesenin."
Cia tidak menjawab dan melihat sekeliling. Seperti biasa, setiap kedai penuh. Membuat rasa lapar Cia berubah menjadi rasa malas untuk mengantri.
"Penuh banget, Mila."
Mila melihat sekeliling dan mengangguk, "Iya. Gimana, mau makan nggak?"
"Terserah Mila aja. Cia ngikut."
"Yaudah. Gue pesenin mie ayam aja, ya."
Cia mengangguk. Setelah itu, Mila melangkah menerobos kerumunan semua murid yang berdesakan untuk membeli makanan.
Lumayan lama Cia menunggu, akhirnya Mila datang dengan nampan berisikan dua mangkuk mie ayam beserta dua teh es. Cia tersenyum lebar dan segera mengambil mie ayamnya.
"Laper banget, mbak," celutuk Mila terkekeh.
Cia tersenyum lebar, "Selama di Amerika, Cia nggak dibolehin makan mie. Makan cake aja harus diem-diem." Cia sedikit lesu jika mengingat-ingat hari di mana dirinya tidak bisa makan dengan bebas. Semua makanan kesukaannya di larang untuk di makan. Dengan paksa, Cia menurutinya. Demi kebaikan dirinya sendiri juga.
"Siapa yang nyuruh makan mie?"
Tubuh Cia menegang bertepatan dengan suara berat itu muncul. Ia menoleh perlahan dan mendapati kakak kelasnya, eh, pacarnya menatap tajam ke arahnya. Cia tersenyum paksa sambil mengangkat garpunya yang sudah bertusukan pentol.
"Makan, Kak." Cia tersenyum paksa.
"Kenapa nggak makan nasi?"
Cia memanyunkan bibirnya. Di lihat dari nada bicaranya, Revan terdengar marah. Ia takut jika pacarnya marah kepadanya.
"Penuh." Cia menunjukan semua kedai dengan tampang memelas. Ia menunduk takut dengan tatapan tajam Revan.
"Maaf." Cia berkata lirih.
Revan menghela napas. Ia mengacak lembut puncak kepala Cia.
"Nggak papa. Lanjutin. Gue gabung sama yang lain."
Baru saja Revan melangkah, Cia mencekal lengannya membuat Revan menunda niatnya. Ia menoleh ke arah Cia.
"Jangan marah."
Revan tersenyum sambil melepaskan cekalan Cia.
"Gue nggak marah."
Cia tidak menjawab dan hanya menatap Revan. Revan tersenyum sebelum ia melanjutkan langkahnya untuk menemui para sahabatnya yang ada di meja pojok tempat mereka biasa.
"Ci, baik banget Kak Revan sama lo. Ada perkembangan?" tanya Mila penasaran.
Cia menoleh dan tersenyum bangga, "Ada dong."
"Apa?" tanya Mila sebelum meneguk air minumnya.
"Cia jadi pacarnya!"
Uhuk uhuk
Rasa pedih mulai memenuhi hidungnya. Mila menatap tidak percaya Cia yang memasang wajah sumringah sekaligus bangga. Terlihat, gadis di hadapannya terlihat seperti tidak berbohong.
"Serius?" Mila hampir tidak percaya.
Cia mengangguk-anggukan kepalanya, "Cia hebat 'kan?"
Mila menganggukan kepalanya antusias, "Lo pelet, Ci?"
Mendengar itu, Cia memudarkan senyumnya. Ia langsung menabok kepala Mila dengan keras sebab kesal dengan tuduhan yang sahabatnya itu ajukan.
"Nggak lah! Cinta Kak Revan sama Cia itu pure 100% dari s**u sapi alami."
Mila berdecak dan menatap malas sahabatnya. Ia lebih memilih tidak menjawab dan kembali memakan mie ayamnya.
"Oh iya, Mila. Kak Amanda, gimana kabarnya?"
Mila menghentikan aktivitas makannya sejenak. Lalu ia kembali mengunyah mie yang baru saja ia masukan ke mulutnya. Saat sudah tertelan, ia menatap Cia yang memang tengah menatapnya seakan menunggu jawaban.
"Setelah kejadian itu, gue nggak pernah liat dia lagi," jawab Mila.
Cia menganggukan kepalanya dan kembali mengaduk mie ayamnya sambil berkata, "Bagus deh."
"Tapi... "
Mila menggantung ucapannya. Cia lagi-lagi menghentikan makannya dan menatap Mila menunggu kelanjutan dari gadis itu.
"Tadi, gue liat dia."
Seketika raut wajah Cia berubah, dan itu tidak luput dari perhatian Mila yang memang menatapnya. Cia masih trauma. Perlakuan kakak tirinya masih membekas di hati kecilnya. Ia sudah memaafkan dan tak lagi marah. Namun, rasa kecewa tidak akan bisa merubah semuanya. Cia sudah memaafkan, bukan berarti semua kembali seperti dulu 'kan?
"Setelah sekian lama gue nggak liat dia. Hari ini, gue liat dia ada di sekolah kita." Mila memutuskan untuk memberitahu saja kepada Cia. Ia tidak bisa menyembunyikan apapun dari gadis itu. Terlebih, ini ada sangkut pautnya dengan Cia. Sebaiknya, orang yang terlibat tau tentang ini. Agar bisa berjaga-jaga. Kita tidak tau, kapan orang jahat akan kembali melakukan aksinya.
Tidak ada respon dari Cia membuat Mila menghela napasnya. Ia tau, ini berat untuk sahabatnya. Siapa yang tidak trauma jika berada di posisi Cia?
Mila mendekat kepada Cia dan mengusap lembut punggung gadis itu bermaksud menenangkan. Bahwa banyak orang di belakangmu tengah melindungimu. Jangan takut.
"Kalo Kak Amanda jahat lagi ke Cia gimana, Mila? Cia takut." Cia memeluk Mila dari samping. Seakan mengadu kepada sahabatnya dan minta di lindungi. Cia memang gadis lemah dan rapuh.
Mila tersenyum dengan tangan masih mengusap punggung Cia, "Ngapain takut? Banyak yang dukung lo. Nggak mungkin orang yang dukung lo ngebiarin lo terluka. Percaya gue."
Cia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dengan posisi masih memeluk Mila. Cia adalah gadis lemah yang beruntung telah diberikan seorang sahabat seperti Mila dan para temannya yang tulus melindunginya. Untuk sekarang, Cia percaya, bahwa Tuhan telah memberikan satu per-satu kebahagian yang ingin Cia rasakan.
-----
"Besok, Jessie ke Indonesia. Mama akan ngadain acara makan malam. Mau ikut?"
Revan dan Cia sedang berada di salah satu restoran di mall. Sepulang sekolah, Cia meminta Revan untuk menemaninya pergi berbelanja keperluan praktek.
"Keluarga kakak, ya? Cia malu." Cia menunduk sambil mengaduk-aduk ramennya.
Revan terkekeh. Tangannya terulur untuk mengambil dagu mungil itu. Sekarang, Cia sudah mendongak menatapnya.
"Malu kenapa?" tanya Revan.
Cia terdiam sejenak. Lalu ia kembali berkata, "Malu aja. Status Cia 'kan sekarang beda. Kalo teman sih Cia nggak terlalu malu. Lah sekarang?"
"Emang sekarang apa?" Revan sengaja untuk menggoda gadisnya yang polos.
"Ya, gitu." Entah mengapa, mengatakan 'pacar' saja di hadapan Revan ia tidak mampu. Ia merasa terlalu centil untuk mengatakan itu.
"Gitu apa?" tanya Revan.
Cia menatap Revan dengan tatapan tajam. Bukannya takut, Revan justru terkekeh melihat tampang gemas yang ditampilkan Cia. Tangannya kembali terulur untuk menarik keras hidung mancung Cia. Sengaja.
"Sakit!" Cia menepis tangan Revan yang ingin kembali mencubit pipinya.
"Jangan cemberut. Jelek."
Cia menatap Revan tak suka, "Yaudah. Nggak usah liat!"
"Nggak bisa."
Cia masih menatap sewot Revan, "Kenapa?"
"Kalau udah punya, ngapain di sia-sia in?"
Cia menahan senyumnya. Entah mengapa, ucapan seperti itu saja mampu membuat dirinya tersenyum sepanjang hari. Apa karena ini efek dari awal mula jatuh cinta?
Revan menyandarkan tubuhnya dan menatap puas melihat reaksi Cia yang bisa ia tebak tidak lagi kesal padanya.
"Nggak usah di tahan. Senyum aja."
"Kalo Cia senyum, cantik nggak?" tanya Cia.
Revan menggangguk tanpa basa-basi," Cantik."
Cia tersenyum lebar sehingga kedua matanya hampir tidak terlihat. Ia kembali memakan ramennya dengan riang dan secepat itu melupakan kekesalannya. Semudah itu membuat Cia kembali tersenyum.
Revan tersenyum melihat gadisnya bahagia. Cia sudah masuk dalam daftar kebahagiannya setelah Zara dan Jessie. Tugas Revan bertambah untuk melindungi dan membahagiakan Zara, Jessie dan Cia.