5. FAMILLY

937 Kata
Cia terdiam sambil mengaduk dan tatapannya hanya tertuju pada makan malamnya. Sesekali, Cia melirik ke arah Edo-ayah Revan-yang tengah makan dengan wibawanya. Cia menjadi sedikit takut. Tidak, Cia benar-benar takut dan gelisah. "Om, kata mommy, mommy bakal ke indonesia," ucap Jessie di sela makannya. Zara yang mendengar itu menatap Jessie antusias, "Kapan tuh, Jes?" Jessie menggelengkan kepalanya, "Nggak tau, tan. Katanya sih, nunggu daddy selesai urusan di rumah sakitnya." "Bagus dong. Kalo bisa secepatnya. Biar kita bisa kumpul. Udah lama banget kan kita nggak ngumpul bareng?" ucap Edo yang di angguki semuanya. Terkecuali Cia yang hanya diam sesekali mencuri pandang ke arah Edo. Edo yang menyadari itu, tersenyum simpul. Ia meneguk air putihnya sebelum mengucapkan kata. "Cia," panggil Edo. Cia langsung mendongak dengan kikuk. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali bingung ingin mengucapkan apa. "I--iya, om?" ucap Cia gugup. "Loh Cia, kok kamu keringetan?" tanya Zara saat melihat keringat meluncur di pelipis Cia. Dengan cepat Cia menyeka pelipisnya kasar. Setelah itu, ia tersenyum menatap Zara, "Nggak papa, tan." "Lo sakit?" tanya Revan. Cia menoleh dan menggeleng. Entah mengapa, jantung Cia berdegup dengan kencang. Membuat seluruh tubuhnya melemah. Ia juga tidak sadar, kenapa keringat dingin membasahi wajahnya. Terlebih, seluruh tubuhnya juga dingin. "Ci, muka lo pucat." Jessie berkata dan berdiri. Ia menghampiri Cia dan memegang pipi Cia untuk mengetahui suhu tubuh gadis itu. "Badan Cia dingin banget," ucap Jessie membuat tak hanya Revan, Zara dan Edo berdiri cemas. "Cia, lo kenapa?" cemas Revan dan menangkup wajah mungil Cia. Cia hanya menggeleng tanpa mengucapkan apapun. "Cia, kamu kenapa?" tanya Edo yang juga panik dengan kondisi Cia. Cia terdiam. Tubuh Cia seakan melayang. Di tambah, degup jantungnya semakin cepat. Cia seakan tak kuat untuk menahan degup jantungnya. "Cia nggak papa," ucap Cia terdengar lirih. "Revan, kamu sebaiknya bawa Cia ke dokter. Takut kenapa-kenapa," saran Zara dengan cemas. "Nggak papa, tante. Cia nggak papa. Cuman, badan Cia aja sedikit lemas," sahut Cia. Jessie menatap Cia, "Lebih baik, lo ke dokter. Nggak ada salahnya, Cia." "Nggak papa kok, Jessie. Cia nggak mau ngerepotin." "Kamu nggak ngerepotin kok, sayang. Ayo ke dokter. Tante nggak mau, calon menantu tante kenapa-kenapa," sahut Zara. Mendengar kata 'calon menantu', membuat jantung Cia kembali berdetak dengan cepat. Cia hanya gugup, tapi entah kenapa, tubuhnya juga ikut melemas. "Cia nggak papa--" ucapan Cia terpotong. "Sayang, ke dokter, ya?" Cia menatap Revan tanpa berkedip. Mendengar perkataan lembut Revan yang memang tertuju kepadanya, di tambah panggilan sayang yang menghiasi perkataannya. Membuat tubuh Cia semakin melemas. "Cia, nggak papa?" tanya Revan saat melihat reaksi Cia yang tidak Revan pahami. Cia menggelengkan kepalanya, "Ci--Cia nggak papa." "Cia, kamu serius nggak mau ke dokter?" tanya Zara. Cia menatap Zara dan mengangguk, "Serius, tante. Cia nggak papa." Zara menghela napas, "Yasudah. Kalo kamu nggak papa. Tapi, makannya mau kamu lanjutin atau mau pulang? Biar Revan antar kamu." Cia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Cia nggak papa. Cia mau lanjutin makannya." Semua yang ada di sana menghela napas lega saat melihat respons yang Cia berikan. Terlihat, gadis itu tersenyum. Berbeda seperti beberapa menit yang lalu. Cia hanya terdiam dengan pandangan kosongnya. Setelah itu, mereka duduk di kursi masing-masing dan melanjutkan makannya. Cia yang dari tadi tidak terlalu makan sekarang makan dengan lahap. Ia merasa lega. Karena, perhatian yang keluarga Revan berikan kepadanya membuat hatinya menghangat. Yang artinya, dirinya tidak perlu gugup lagi sampai-sampai tubuhnya ikutan melemas. "Cia, kamu kelas berapa? Satu angkatan sama Revan?" tanya Edo memulai topik pembicaraan. Cia menoleh dan menggeleng, "Nggak, om. Cia kelas sepuluh." Edo terlihat sedikit kaget mendengar itu, "Wah, Revan ngedekatin junior-nya, ya." Cia hanya tersenyum malu. "Biasa aja, pa," balas Revan sedikit terkekeh. Edo menganggukan kepalanya dengan senyuman masih terukir di wajahnya. Lalu berkata, "Papa ngerti. Papa juga dulu pernah deketin adik kelas. Sampai-sampai, mama kamu marah." Zara yang mendengar itu melotot ke arah suaminya. "Loh, kok tante Zara marah? Ceritanya om sama tante udah pacaran, terus om dekatin adik kelas. Gitu?" tanya Jessie tertawa. Edo menganggukan kepalanya, "Iya, Jes. Waktu itu, ada murid baru di kelas sebelas. Cantik. Cantik banget. Ya, namanya om cowok normal. Masa iya nggak naksir sama yang bening gitu, ya 'kan?" Mendengar itu, Jessie seketika tertawa lepas. Ia sudah sering mendengar ini dari ibunya. Karena waktu SMA, Edo, Zara dan ibunya Jessie satu sekolah. Jadi, ibunya selalu tau kenakalan Edo pada masa remaja. Terlebih, ibunya itu ber-sepupu dengan Edo. "Terus, tante nggak marah?" tanya Jessie kapada Zara yang sudah mengembungkan pipinya karena menahan kesal. "Tante marah lah," jawab Zara. Jessie mengangkat sebelah alisnya, "Kalo marah, kenapa sekarang bisa nge-lahirin Revan?" Zara langsung terdiam menahan malu dan merah di wajahnya. Sedangkan Edo, ia hanya menahan tawanya melihat reaksi istrinya. "Puas liat tante lo sendiri salting?" ucap Revan seakan tengah memarahinya. Walau sebenarnya, ia juga sedang menahan tawanya. Jessie tersenyum senang dan mengangguk, "Puas banget, Van." Revan menggelengkan kepalanya dan terkekeh. "Kamu, ya, Revan. Awas aja buat Cia nangis. Nggak enak. Karena mama pernah ngerasainnya." Zara berkata dengan masih menahan kekesalannya. Revan tertawa pelan dan mengangguk, "Iya, ma." Zara menatap putranya dengan tatapan tak percaya dengan jawaban Revan. Lalu, ia beralih menatap suaminya yang memang tengah menatapnya dengan tatapan menggoda. "Apa kamu liat-liat?" sensi Zara. "Van, kata-kata 'kamu cantik kalo lagi kesal' klise nggak 'sih?" tanya Edo tanpa menjawab ucapan Zara. Revan menggelengkan kepalanya, "Klise. Tapi... " Revan menggantungkan ucapannya dan beralih menatap Cia di sebelahnya yang sudah tersenyum geli karena topik pembicaraan menjurus untuk menggoda Zara. "Tapi apa, sayang?" lanjut Revan. Cia semakin tersenyum lebar sehingga kedua matanya tak terlihat. "Tapi... Manis!" Seketika semua tertawa. Cia pun ikut tertawa. Ia merasakan kehangatan keluarga yang sudah lama tidak dirinya rasakan. Sekarang, ia dapat kembali merasakannya. Walau bukan keluarga kandungnya, tapi mereka dapat menerima Cia dengan tulus tanpa alasan apapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN