Dahi Aroha berkerut di antara usahanya untuk mengatur napas. Wanita itu terengah dan mencoba mengembalikan ritme tarikan napasnya kembali pada tahap normal ketika matanya yang terpejam perlahan terbuka—bukan mendapatkan ritme napas normalnya kembali, apa yang menghujam matanya lurus begitu Aroha membuka mata malah membuat paru-parunya kembali terasa sesak dan kehilangan kendalinya untuk memasok oksigen. Tatapan Alvar begitu menusuk, menghujamnya dengan sorot tajam namun di saat yang sama juga lembut. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa satu orang memperlihatkan sorot mata yang berbeda makna di saat yang sama? Aroha sungguh tidak mengerti bagaimana Alvar bisa melakukannya. Tapi yang Aroha tahu kemudian, tangannya sudah refleks menarik leher pria itu agar semakin mendekat padanya. Dirasakannya

