Varen memperhatikan rumah mewah yang ada dihadapannya. Bangunan megah dengan arsitektur bergaya Eropa yang masih terlihat kokoh sudah berdiri sejak mendiang ayahnya masih kecil. Empat pilar rumah yang menyangga bagian depan rumah membuat rumah itu semakin terlihat megah. Varen tersenyum getir saat tatapan matanya tertuju pada jendela besar yang mengelilingi hampir seluruh bagian depan rumah itu. Dia masih ingat kejadian dua puluh dua tahun yang lalu saat pertama kali dia menginjakkan kaki dirumah ini. Saat itu orangtuanya ingin mengenalkannya pada neneknya yang baru pulang ke Indonesia. Dengan sangat antusias, malam itu Varen membawa lukisannya kepada Samar akan tetapi setelah menunggu lama neneknya tidak kunjung menemui mereka. Karena semakin larut Verdi memutuskan untuk mengajak anak d

