wajah tertekan

1330 Kata
"Ken, kau kenapa sih?" Randy menaruh berkas yang harus Kenzo tanda tangani di atas meja yang sudah dia revisi sampai lima kali dan itu sangat membuatnya kesal karena Kenzo yang menyuruhnya. bukan tanpa alasan, Randy kesal berkas yang dia revisi sudah benar apa adanya, dan dia harus menerima perintah Kenzo yang konyol membuatnya ingin marah saja. Kenzo menarik nafasnya dalam dirinya memang kesal dan ia lampiaskan pada Randy. "Dih, kau seperti orang yang tidak dapat jatah tahu tidak." Randy melirik Kenzo sinis yang dilirik hanya menatapnya datar. Jam menunjukkan pukul satu siang, Kenzo yang malas pun segera memasuki toko perhiasan ternama di sebuah Mall. dengan langkah tegap dan menggunakan kacamata hitam Kenzo tidak peduli dengan tatapan para wanita yang dia lewati karena memang tidak menarik di matanya. "sayang, kenapa kamu lama sekali?" Cindy yang kesal pun tetap menampilkan senyum manisnya di depan Kenzo yang berwajah datar itu. Kenzo tidak menjawab melainkan hanya menatap Cindy dari balik kacamata hitamnya, Cindy yang tahu jika ditatap tersipu malu hingga salah tingkah membuat Kenzo merasa muak. "pilih saja sesuai keinginanmu." ucap Kenzo dengan datar. Kenzo ingin cepat-cepat pergi dari sana karena Kenzo terlalu malas untuk berlama-lama. jika bukan karena mamanya yang menyuruhnya untuk menemani Cindy mencari cincin pertulangan mereka, Kenzo tidak akan mungkin berada di sini. Cindy tersenyum manis dan menarik tangan Kenzo untuk mendekat ke etalase yang berjejer cincin berlian. "silakan tuan dan nona, ada yang bisa kami bantu?" ucap Pelayan toko dengan ramah. "saya mau cincin pertunangan keluaran terbaru." "baik nona, tunggu sebentar." pelayan itu berjalan masuk untuk mengambil cincin yang dimaksud karena mereka memang tidak memajang cincin itu. pelayan itu pun keluar dan memperlihatkan tiga set cincin berlian. "Sayang, menurut kamu bagus yang mana?" tanya Cindy yang melihat ada tiga model yang menurutnya bagus semua, dan Cindy meminta pendapat Kenzo untuk memilih. Kenzo tidak bersuara sama sekali, melainkan hanya sibuk dengan ponselnya. "ken." Cindy yang kesal menyentuh lengan Kenzo, membuat Kenzo mengibaskan tangan wanita itu dengan kasar. "bagus yang mana menurutmu?" Cindy mencoba untuk bersabar demi mendapatkan hati Kenzo. "terserah!" Cindy yang kesal akhirnya memilih sepasang cincin yang menurutnya paling bagus dan mencobanya. "ya tuhan Dea, kapan kita bisa masuk ke sana dan membeli salah satu dari mereka." ucap Nia yang merasa takjub dengan toko perhiasan yang ada di depan mereka. Dea menoleh ke arah toko itu dengan tersenyum miring. "eh, eh mau ke mana?" tanya Nia yang tangannya langsung ditarik oleh Dea begitu saja. "hanya masuk saja, apa salahnya melihat dan mencoba pun tidak masalah." ucap Dea ketika sudah berada di dalam dan di depan etalase, dengan beraneka ragam berlian di depannya. Nia justru menciut melihat perhiasan mewah dan mahal di depan matanya. "Dea, kita salah masuk toko. kita tidak pantas di sini." bisik Nia yang melihat sekitar banyak orang yang berupa penampilan glamour dan mereka hanya memakai seragam sekolah dengan baju ditutupi jaket. Karena jam pelajaran kosong dan mendadak para guru ada rapat jadi para siswa dan siswi sengaja dipulangkan lebih awal, dan oleh karena itu mereka berdua berada di sini hanya untuk cuci mata. "hus, sudah kita nikmati hari ini." ucap Dea dengan senyum di wajahnya. "mbak, mau lihat yang ini dong." Dea memanggil pegawai yang masih melayani sepasang pembeli. "sebentar ya mbak." ucap pelayan itu dengan sopan. sepasang pembeli itu adalah Kenzo dan Cindy, mendengar suara seseorang yang cukup keras membuat Kenzo yang sibuk dengan ponselnya pun mendongak. "aduh mbak lama amat sih." keluh dea karena pelayan itu tidak bergeming dari tempatnya, dan hanya ada dua pelayan yang satu berdiri sedikit jauh darinya. "heh bocah ingusan, biarkan saja mbak. paling hanya mau bergaya mencoba saja." ucap Cindy yang melihat Dea dan Nia dengan seragam dan berpenampilan biasa saja tidak terlihat seperti orang kaya. dea yang mendengarnya pun menjadi kesal, "eh mbak, jangan sok kaya deh ya. Palingan juga mbak juga dibayarin sama omnya." lirik Dea sinis menatap Cindy yang masih mencoba cincin yang dia ingin beli tadi. Kenzo yang mendengar ucapan dea mengulum senyum, apa lagi melihat wajah Cindy yang menampilkan kekesalan. "heh kalau berbicara jangan asal ya, dia calon suami saya." ucap Cindy ketus. "dih, mbaknya memang tidak masalah, tapi lihat itu muka Omnya sangat tertekan!" setelah mengatakan itu Dea pergi dengan menarik tangan Nia, tidak peduli melihat wajah Cindy yang kesal dan marah apalagi wajah Kenzo yang menahan kesal karena disebut om-om. . "Dea kamu tidak lihat, siapa pria yang kamu sebut om tadi?" ucap Nia yang sudah berada di halte untuk menunggu angkutan umum. "halah bodo amat lah, tidak kenal juga." ucap Dea yang masa bodoh, sambil menyedot es dawet yang dia beli di samping halte tadi. mereka berniat pulang setelah lelah menyusuri mall dan tidak membuahkan hasil dan hanya membuat sakit mata, karena tidak bisa membelinya. bagi dea hanya melihat-lihat saja sudah menjadi kepuasan sendiri, baginya tidak perlu mengeluarkan uang hanya untuk menuruti nafsu sesaat apalagi untuk orang seperti Dea. "ya ampun Dea, itu tadi seperti pak Kenzo donatur tetap di sekolah kita." ucap Nia yang tidak percaya, Jika dea tidak mengenali pria tampan dan dewasa idola para siswi di sekolah. dea hanya melirik Nia sekilas, "emangnya kenapa? dia juga kan, tidak kenal dengan aku." dea menjawab dengan santai, tapi otaknya berpikir dengan nama Kenzo yang disebut Nia. 'apa nama itu sama dengan om-om bos di perusahaan itu?' "ck, kamu akan menyesal kalau tahu dia." . . Jam menunjukkan pukul tiga kurang 15 menit, tapi Dea sudah lengkap dengan baju kerjanya. "kalau pegawai baru pasti rajin ya." goda Dina yang baru saja datang dan melihat Dea sudah stand by. Dina sudah lumayan cukup lama bekerja di cafe itu, usia Dina juga sudah 19 tahun.nDea hanya menyengir saat mendengar candaan rekannya itu. "baterainya masih full kak, jadi semangatnya masih membara." Dina hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan untuk mengganti pakaiannya. "ekhem." deheman seseorang membuat Dea menoleh. "kak Zidan." Dea sedikit menunduk. "bilang pada yang lain, saya tunggu di depan." ucap Zidan dengan nada biasa saja dan menatap wajah dia. "baik kak." Dea bergegas memanggil rekan-rekannya, dirinya risih selalu diperhatikan oleh Zidan meskipun tampan, tapi dia sama sekali tidak melirik ketampanan itu. "oke baiklah, berhubung semua sudah berkumpul saya akan mengumumkan kalau Cafe ini mulai sekarang melayani jasa delivery order. dan Untuk yang bertugas mengantarkan makanan khusus karyawan pria, tapi jika Genting karyawan wanita siap membantu." ucap Zidan pada beberapa karyawan yang masih stay di cafe dan belum berganti shift, karena masih ada waktu sekitar 10 menit lagi. "baik kak." mereka semua menjawab dengan serentak. "Dara, aku tunggu di ruanganku." ucap Zidan menatap Dea sekilas dan hal itu sukses membuat yang lain melirik dia penasaran. Dea pun menatap Dina dan Dina hanya menggeleng tanda tidak tahu. . . Di mall wajah Cindy benar-benar ditekuk, Bagaimana tidak jika dirinya mengajak Kenzo untuk makan siang dan Kenzo malah memilih pergi meninggalkan dirinya setelah membayar perhiasan yang mereka beli. bahkan Kenzo sama sekali tidak peka terhadapnya yang sudah menahan rasa kesal. "ken, aku lapar ayo kita makan bersama dulu." ucap Cindy ketika menunggu kasir melakukan transaksi. "kalau kau lapar, makanlah. saya masih banyak urusan." jawab Kenzo dengan mengambil kartu miliknya yang sudah diproses pembayarannya dan Kenzo pun benar-benar langsung pergi setelah mengatakan itu. dirinya benar-benar tidak peka dan tidak bisa membuat wanita terkesan bahagia. "awas saja, aku akan bilang pada tante Karina." ucap Cindy dengan kesal. baru kali ini dirinya diperlakukan seperti ini oleh seorang pria, dan sialnya pria itu adalah Kenzo si pria tampan dengan sejuta pesona beserta kekayaannya. . . "Dara, terimalah ini." Zidan mengulurkan sebuah kotak persegi kepada Dea, tanpa bertanya Dea pun tahu itu kotak apa. "maaf kak, untuk apa ya?" "aku bertanya pada sahabatmu katanya kamu tidak memiliki ponsel, dan kebetulan ini ponsel lamaku yang belum pernah aku pakai." Zidan masih mengulurkan tangannya memegang kotak persegi itu kepada dea. " tidak perlu kak, aku masih punya ponsel." jawab dea dengan sopan. "tapi kata Nia-" "sekali lagi maaf kak, aku tidak bisa menerimanya, dan saya permisi." ucap Dea menunduk sedikit dan pergi setelah mengatakan itu. "Nia awas kamu!" kesal dea ketika sudah sampai di luar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN