rencana pertunangan

1136 Kata
"kami sangat senang mendapat undangan khusus dari anda, tuan David." Santoso terkekeh dengan menepuk pelan pundak David. usia mereka berbeda dua tahun, lebih tua tuan Santoso. "ah anda bisa saja tuan, lagi pula sudah lama kita tidak bertemu dan kebetulan istri kita ternyata juga berteman." ucap David yang mempersilakan tamunya untuk duduk. Cindy duduk di samping ibunya, mereka bertiga duduk berjajar sedangkan karina di samping sang suami sebagai kepala keluarga. "Maaf, Ibu kami tidak bisa ikut. beliau sudah tua jadi sudah butuh banyak istirahat." ucap Karina menjelaskan tentang Nuri, yang tidak bisa hadir ikut makan malam. "tidak apa-apa jeng, lagi pula beliau sudah sepuh juga." Sinta tersenyum. Karina sejak tadi memikirkan putranya yang tidak kunjung datang, padahal acara makan malam mereka sudah dimulai karena sudah jam delapan malam tetapi Kenzo tidak kunjung datang. "Jeng, di mana putramu? kok tidak terlihat." tanya Sinta dengan penasaran, karena ingin melihat Putra temannya itu yang akan dikenalkan kepada putrinya. "ah iya, mungkin masih di kantor mbak. sebentar lagi pasti datang." tutur Karina yang menutupi keberadaan putranya, karena karena sendiri tidak tahu di mana putranya karena ponselnya tidak bisa dihubungi. Sejak tadi Cindy sudah tidak sabar untuk bertemu pria yang akan dijodohkan dengannya, karena dari yang mamanya katakan jika anak dari tante karina adalah pria tampan idaman para wanita. tidak lama kemudian mereka mendengar deru mesin mobil yang memasuki halaman rumah, dan sudah Karina pastikan jika itu adalah putranya. "sayang, kamu baru pulang?" Karina menyambut kedatangan putranya diambang pintu, meskipun kesal namun Karina tetap menampilkan senyumnya. "maaf ma, Kenzo banyak pekerjaan." kilahnya dengan dalih agar tidak terlalu lama bertemu dengan tamu yang mamanya undang. "ya sudah, sekarang mama kenalkan kamu pada keluarga tante Sinta." Karina mengajak Kenzo untuk menemui tamunya. dengan senyum mengembang Karina memperkenalkan putranya kepada Santoso dan Sinta terutama kepada Cindy. "nah, nak Ini anak tante tampan bukan." ucap Karina memperkenalkan Kenzo pada Cindy, cindy hanya tersenyum manis menatap pria di depannya yang cuek dan dingin itu. "Cindy." Cindy mengulurkan tangannya untuk berkenalan, Kenzo hanya meliriknya sekilas. " Kenzo." balasnya singkat. "kalian berkenalan lah dulu, mengobrol begitu. kan mau menjadi pasangan, masa belum kenal dan masih kaku begitu.' ucap Shinta dengan wajah berseri melihat Kenzo yang ternyata pria tampan dengan sejuta pesonanya. "kalian bicara saja di taman belakang." ucap Karina mengelus lengan Kenzo. . "bunda, Dea pulang." indri yang seperti biasa, sedang menyetrika baju yang menyewa jasanya, menoleh ke belakang. di mana putrinya yang masih memakai seragam sekolah itu baru saja sampai. Dea tersenyum dan memeluk Indri dari belakang. "dea lapar bunda." ucap Dea dengan suara manja. Indri tersenyum sambil mengelus kepala Dea yang berada di pundaknya, "makanlah, bunda sudah siapkan makanan kesukaan kamu." mendengar itu mata Dea langsung berbinar bahagia, "tidak rugi tadi sore Dea tidak makan, dan sekarang Dea bisa merasakan makanan kesukaan Dea." ucapnya dengan berjalan menuju meja makan Dea tersenyum senang melihat menu makanan di atas meja. "bunda hari ini ada rezeki lebih, jadi bunda masakan makanan kesukaan kamu." ucap indri mengelus kepala Dea yang sedang mengambil makanan. "terima kasih bunda, Dea belum gajian jadi Dea belum bisa memberi uang untuk bunda hehehe." dea menyengir, gayanya seperti wanita karir yang sudah bekerja kantoran dan mencukupi kehidupannya dengan sang bunda. "kamu harus belajar yang rajin, ingat kata almarhum ayah kalau kamu harus lulus sekolah SMA." ucap Indri yang sudah duduk di depan putrinya. "siap by, Dea akan mewujudkan impian ayah." dea tersenyum manis membuat Indri ikut tersenyum. dulu suaminya memang berkata seperti itu bahkan Dea sendiri juga mendengarnya, maka dari itu Indri ingin melihat putrinya sekolah sampai lulus dan jika ada biaya pun Raya ingin menyekolahkan Dea sampai ke perguruan tinggi. . . "Jadi minggu depan, kita adakan acara pertunangannya lebih dulu dan semua akan kami siapkan." ucap David mewakili sebagai kepala keluarga. David menatap putranya yang hanya diam saja sejak tadi, mereka memberi waktu untuk keduanya lebih dekat. namun belum sampai lima belas menit Cindy dan Kenzo sudah kembali dengan Kenzo yang hanya biasa saja. "bagaimana tuan Santoso, apa anda tidak keberatan?" tanya David menatap calon besannya itu. "kami rasa lebih cepat lebih baik, kami setuju saja." Santoso tersenyum begitupun Sinta dan Karina yang saling melempar senyum. Cindy ikut tersenyum senang, dirinya melirik ke arah Kenzo yang hanya diam tanpa ekspresi apapun. 'aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, karena pria dingin dan tak tersentuh sepertimu membuatku merasa tertantang.' Cindy membatin menatap Kenzo dengan senyuman penuh arti. Kenzo menghembuskan nafas kasar, dirinya lebih dulu pergi sebelum tamu mamanya pergi, karena Kenzo tidak melihat raut kecewa dari wajah mamanya. Kenzo yang sebenarnya tidak ingin menerima Perjodohan ini, tapi dirinya juga tidak ingin membuat kedua orang tuanya bersedih ataupun kecewa. dirinya harus bagaimana untuk bisa keluar dari Perjodohan konyol, yang sudah disepakati hari pertunangannya itu. "sial!" Kenzo merutuki dirinya yang sangat susah untuk jatuh cinta dan tertarik pada lawan jenis, bukannya dia memiliki kelainan melainkan dirinya memang tidak mudah dekat dan jatuh cinta. dekat dengan wanita saja Kenzo tidak pernah, selain dengan adik dan sepupunya di sini Kenzo merasa Hidupnya akan mulai berubah dengan adanya Perjodohan konyol Ini apa lagi melihat Cindy cansu sama sekali tidak tertarik. . . Dea dan Nia berjalan bersamaan menuju ke kantin, bukan untuk membeli makan melainkan hanya untuk membeli minuman dingin karena mereka baru saja selesai melakukan jadwal pelajaran pertama yaitu olahraga. "Nia, aku tunggu di meja pojok sana, kamu yang beli sana." Dea mengulurkan Uang pecahan lima ribu-an untuk membeli minum rasa jeruk yang harganya hanya dia ribu-an. "Oke." Nia segera pergi menuju lemari pendingin dan Dea langsung menuju meja kosong yang berada di pojok ruangan. kantin memang masih sepi karena memang belum jamnya istirahat, hanya ada beberapa siswa dan siswi satu kelas dea dan ada juga yang sepertinya sedang bolos pelajaran. "ini." seseorang menyodorkan minuman kepada, membuat dea menoleh. "kak Zidan." ucap Dea yang sedikit terkejut karena melihat kakak kelas sekaligus bosnya di cafe itu berada di depannya. Zidan tersenyum dan langsung duduk di depan Dea. "haus kan?" Zidan masih menyodorkan botol minuman yang belum diterima oleh Dea. Dea dengan terpaksa mengambil minuman itu, "terima kasih, kak." dea tersenyum tipis. Zidan menatap Dea yang sedang meneguk minumannya dan Dea yang menyadari itu pun merasa kikuk. "jangan melihatku seperti itu, nanti botolnya juga tertelan." Zidan malah melebarkan senyumnya mendengar ucapan Dea yang tidak ada canggungnya. "eh, ada kak Zidan." Nia yang tiba-tiba datang langsung duduk di samping Dea dengan tersipu malu. "eh, ini kan belum jam istirahat, kok kak Zidan ada disini? berarti bolos dong." ucap Nia membuat Dea menatap Zidan dengan kening berkerut. "sesekali boleh dong, tidak harus menjadi murid teladan terus." ucap Zidan malah membuat dia geleng kepala. tadinya Zidan ingin ke toilet tidak sengaja melihat Dea dan Nia sedang berjalan menuju kantin, Oleh karena itu Zidan sengaja mengikuti mereka berdua hingga masuk ke kantin, karena biasanya Zidan tidak pernah melihat Dea berada di kantin Pada saat jam istirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN